Gudang sekolah seni itu penuh dengan barang-barang terlupakan: lukisan berdebu, panggung kayu yang lapuk, dan kotak-kotak kostum usang. Suatu hari, ketika membersihkan untuk persiapan pentas seni, Lala menemukan sebuah kotak kecil tersembunyi di balik rak. Di dalamnya, sepasang sepatu ballet merah muda yang sudah pudar, dengan pita yang rapuh dan sol yang tipis karena sering dipakai. Ada nama tertulis di bagian dalamnya: “Alina, 1998”.
Lala penasaran. Dia mencoba mengenakan sepatu itu—dan tiba-tiba, dunia di sekitarnya berubah.
Dia merasakan jantung yang berdegup kencang, tangan yang berkeringat, dan napas tersengal-sengal. Di depan matanya, bayangan sebuah panggung besar terbentang, dengan lampu sorot yang menyilaukan. Suara tepuk tangan bergemuruh, tapi ada juga bisikan-bisikan penuh ejekan: “Dia tidak cukup baik.” Lala merasakan sesuatu yang pahit—rasa malu, ketakutan, tapi juga tekad yang membara.
Ketika melepas sepatu itu, temannya, Rian, mencoba memakainya. Ekspresinya berubah. “Aku… aku merasa sangat bahagia,” bisiknya. Matanya berkaca-kaca saat dia merasakan euforia melompat di atas panggung, seolah tubuhnya ringan seperti udara.
Guru tari mereka, Bu Wati, ikut mencoba. Tiba-tiba air matanya mengalir. “Ini sepatu milik Alina…” katanya pelan. “Dia murid terbaikku. Tapi setelah cedera, dia tidak pernah menari lagi.”
Malam itu, Lala memutuskan untuk memakai sepatu itu di pentas seni. Saat dia menari, sepatu itu terasa hangat, seolah Alina ada di sampingnya, membimbing setiap gerakannya. Ketika musik berakhir, Lala membungkuk dengan mata berkaca-kaca—dan untuk sesaat, dia yakin melihat seorang penari berdiri di samping panggung, tersenyum bangga.
TAMAT
Beberapa kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu ditemukan kembali.