Kabut pagi masih menyelimuti lembah Baliem (Pegunungan JayaWijaya, Papua), tetapi udara sudah tegang bagai senar yang ditarik hingga hampir putus. Di dua bukit yang berhadapan, suku Yali dan Dani berdiri kaku. Wajah-wajah mereka dihiasi cat perang merah darah dan putih tulang, mata menyipit penuh kebencian turun-temurun. Otot-otot tegang di bawah kulit yang bersinar oleh keringat dingin, tangan mencengkeram erat tombak kayu besi (tombak bermata besi) dan busur panah. Napas mereka pendek-pendek, kortisol (horman yang mengatur respons tubuh terhadap stres) membanjiri aliran darah, mempersiapkan tubuh untuk ledakan kekerasan yang sudah dipicu oleh perselisihan tanah penggembalaan dan dendam lama yang tak pernah benar-benar padam. Luka lama itu bernanah lagi.
Numbery, pemuda Yali, merasakan jantungnya berdegup kencang hingga ke tenggorokan. Matanya yang tajam menatap Lawa, musuh bebuyutannya dari suku Dani di seberang lembah. Ingatannya melayang pada mayat ayahnya lima tahun silam, tubuh penuh lubang panah. Sinkretisme budaya yang rapuh di lembah ini seolah runtuh dalam sekejap. Rahangnya mengeras, giginya gemeretak. Di wajah Lawa, ia melihat pantulan kebencian yang sama – mata hitam membara, alis berkerut dalam, bibir tipis terkatup rapat bagai batu. Hanya selisih satu teriakan provokasi, satu anak panah yang meleset, untuk memicu pembantaian.
Tiba-tiba, langkah berat terdengar memecah kesunyian yang mencekam. Seorang lelaki tua, badannya sudah bungkuk tapi sorot matanya masih tajam, berjalan pelan di antara kedua pasukan yang berhadapan. Itu adalah Mama Yoseph, tetua adat yang dihormati kedua belah pihak. Wajahnya yang keriput seperti peta kehidupan lembah, penuh garis-garis dalam yang bercerita. Bibirnya yang tipis bergetar, bukan karena takut, tapi karena kepedihan melihat anak cucunya hendak saling bunuh. “Berhenti!” suaranya parau namun menggema, memotong ketegangan. “Lihat kalian! Seperti ayam jago yang buta!”
Beberapa pemuda menggeram, tombak masih teracung. Mama Yoseph tidak gentar. Ia melangkah lebih dekat ke garis tengah, tanah tak bertuan yang memisahkan mereka. Matanya yang bijak memandang Numbery, lalu Lawa. “Numbery, kau ingat ketika sungai meluap tahun lalu? Siapa yang menyelamatkan ternakmu yang hanyut?” Numbery terhenyak. Ingatannya melayang pada sosok yang berani terjun ke arus deras – Lawa. Raut wajahnya yang keras sedikit mencair, tatapan kebenciannya goyah. Di seberang, Lawa juga menunduk, ingatannya pada Numbery yang membawakan obat saat anaknya sakit demam tinggi.
Mama Yoseph mengangkat tangannya yang keriput, memegang sebuah artefak kuno: tempayan tanah liat kecil berisi abu leluhur dari kedua suku. “Darah kalian,” bisiknya, suaranya tiba-tiba penuh duka, “Darah kalian adalah darah yang sama! Lihat abu leluhur ini! Mereka dulu berdagang, berbesan, melindungi lembah ini bersama dari suku luar!” Tangannya gemetar memegang tempayan. “Apakah kalian mau kuburan kami dipenuhi lagi oleh mayat anak muda? Mau istri jadi janda, anak jadi yatim, hanya karena tanah yang bisa dibagi?!” Terdengar isak tersedu dari barisan belakang, seorang ibu menutup mukanya, bahunya bergetar.
Numbery melihat ke sekeliling. Ia melihat wajah adik perempuannya yang masih belia, penuh ketakutan murni. Ia melihat wajah ibunya yang sudah renta, penuh keputusasaan. Di wajah Lawa, ia tak lagi melihat monster. Ia melihat pria seusianya, dengan mata yang sama lelah, bahu yang sama menanggung beban. Kebencian yang membara perlahan padam, digantikan rasa sakit yang dalam dan lelah yang tak terkira. Tangannya yang mencengkeram tombak mulai lunglai. Pipinya yang keras basah oleh sesuatu yang bukan keringat. Air mata pertama dalam bertahun-tahun.
Lawa melakukan hal serupa. Ia melemparkan pandangan ke arah kampungnya. Ia melihat adik laki-lakinya yang cacat akibat perang kecil sebelumnya. Ia melihat wajah kakeknya, penuh bekas luka. Napasnya yang tadi memburu, kini terengah berat bagai orang kelelahan. Tatapan matanya yang membara redup, digantikan kehampaan dan penyesalan yang mendalam. Tombaknya, perlahan, ujungnya mulai menukik ke tanah.
Mama Yoseph melihat perubahan itu. Dengan tenaga terakhir, ia mengangkat tempayan abu leluhur tinggi-tinggi. “Hari ini, kita pilih damai!” teriaknya. Lalu, dengan gerakan dramatis yang menegangkan jantung semua yang hadir, ia menghantamkan tempayan itu ke batu besar di tengah-tengah mereka! Dug! Tempayan pecah berantakan, abu leluhur beterbangan tertiup angin pagi, menyelimuti kedua kelompok yang terpaku. “Lihat! Masa lalu telah berhamburan! Sekarang, kita bangun yang baru!”
Keheningan yang lebih dalam dari sebelumnya menyergap lembah. Kemudian, dengan langkah berat penuh beban sejarah, Numbery melemparkan tombaknya ke tanah. Bunyinya nyaring. Ia melangkah maju, melewati garis tak kasat mata. Lawa, setelah tarikan napas dalam yang terdengar jelas, melakukan hal yang sama. Kedua pemuda itu berhadapan, hanya terpisah satu langkah. Wajah mereka masih kotor cat perang, mata masih merah, tapi raut kebencian telah mencair. Numbery mengulurkan tangannya, telapak terbuka. Tangan itu bergetar hebat. Lawa menatap tangan itu, lalu menatap mata Numbery. Di sana, ia melihat pantulan kelelahannya sendiri, dan secercah harapan yang rapuh. Perlahan, dengan gerakan seperti mimpi, Lawa mencengkeram erat tangan Numbery. Pegangan itu kaku awalnya, lalu semakin kuat, penuh arti. Isak tangis pecah di kedua sisi lembah. Bukan tangis sedih, tapi tangis kelegaan, pelepasan dari belenggu dendam yang telah membara terlalu lama. Wajah-wajah yang tegang mencair dalam pelukan dan tangisan, cat perang luntur oleh air mata yang membasahinya. Kabut pagi perlahan tersibak, sinar matahari pertama menyentuh lembah, menyinari artefak yang pecah dan tangan-tangan yang baru saja bersatu. Damai yang rapuh, tapi nyata, akhirnya menggema di Lembah Api.
TAMAT