Cepen: Perpustakaan di Antara Dua Musim

Ketika salju mulai turun, Nara menemukan pintu kecil tersembunyi di balik rak buku sejarah perpustakaan sekolah. Yang aneh—pintu itu hanya muncul setiap pukul 3:15 sore, tepat saat jarum jam membentuk sudut sempurna, dan hanya bisa dilihat oleh mereka yang punya denda buku belum dikembalikan. Nara, dengan tiga buku telat seminggu di tasnya, melihat pintu itu berkedip seperti hologram sebelum akhirnya memutuskan menyentuh engselnya yang dingin.

Dunia di balik pintu itu bukan ruangan gelap seperti yang ia bayangkan, melainkan perpustakaan yang sama—tapi dengan langit biru kehijauan dan daun maple merah berguguran di antara lorong-lorong buku, padahal di luar sedang musim dingin. Di meja pustakawan, seorang lelaki muda dengan kacamata bulat sedang menata buku-buku yang terlihat… hidup? Satu buku bergambar naga bahkan menggigit jarinya saat ia mencoba menyampulnya.

“Aku Kian, penjaga sementara,” katanya tanpa mengangkat kepala, seolah sudah tahu Nara akan datang. “Kau punya tiga buku yang harus dikembalikan—dua buku pelajaran, dan satu… ah.” Matanya menyipit melihat buku ketiga di tangan Nara: novel fantasi kesukaannya yang sengaja ia pinjam berulang-ulang agar tidak harus mengembalikannya. “Kau terikat dengan cerita ini. Berbahaya.”

Kian menjelaskan dengan sabar: perpustakaannya adalah tempat bagi buku-buku yang terlalu dicintai pembacanya, sampai-sampai karakter di dalamnya ingin keluar. Tapi Nara tidak percaya—sampai tokoh pendamping dari novel itu benar-benar muncul di hadapannya, menyapa dengan dialog yang ia hafal di luar kepala. “Ini tidak mungkin,” gumam Nara, tapi hatinya berdebar melihat sosok fiksi yang selama ini hanya hidup di imajinasinya kini berdiri nyata.

Masalah mulai muncul ketika karakter-karakter lain dari buku yang berbeda ikut keluar. Dunia di perpustakaan antarmusim itu kacau—naga dari buku sejarah terbang mengamuk, pahlawan dari novel petualangan berkelahi dengan penyihir dari komik. Kian panik mengejar mereka dengan jaring khusus, sambil berteriak pada Nara: “Karakter dari bukumu yang memicu ini! Mereka ingin tetap ada di duniamu!”

Di tengah kekacauan, Nara menyadari sesuatu. Tokoh pendamping favoritnya itu terus melirik pintu yang menghubungkan kedua dunia. “Kau… ingin aku membawamu keluar?” tanya Nara. Sang karakter menganggup, tapi Kian segera menarik lengan Nara. “Jika kau bawa dia keluar, kau akan perlahan berubah menjadi karakter fiksi—dan dunia nyatamu akan terlupakan.”

Dengan berat hati, Nara mengembalikan novel itu ke rak, mengucapkan selamat tinggal pada tokoh yang sudah seperti temannya sendiri. Saat pintu antarmusim menutup, ia menemukan dirinya kembali di perpustakaan sekolah yang sepi, salju masih berputar di luar jendela. Tapi di mejanya, ada secarik catatan dari Kian: “Beberapa cerita memang layak diperjuangkan, tapi jangan sampai kau sendiri yang hilang di dalamnya. PS: Denda bukumu sudah kubereskan.”

Sejak hari itu, Nara tetap rajin meminjam buku—tapi sekarang ia selalu mengembalikannya tepat waktu. Kecuali satu: novel fantasi itu masih ada di rak kamarnya, kadang-kadang terlihat seperti berkedip saat bulan purnama. Dan kalau ia benar-benar jujur, sesekali ia masih mendengar suara tokoh pendamping itu berbisik dari halaman-halamannya, menunggu dibaca kembali.

TAMAT