Parto, pemuda 25 tahun yang biasa-biasa saja, terbangun mendengus kesal ketika sinar matahari menyilaukan matanya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Alarm ponsel andalannya, yang sempat dicas semalaman, ternyata mati total karena kabel cas-nya kemarin digerogoti Si Gondrong, kucing kampung kesayangannya yang doyan mengunyah benda apapun yang menyerupai tali. Dengan gerutu, ia melompat dari tempat tidur, berharap bisa tiba di kantor sebelum bosnya mengamuk.
Kaki kanannya nyangkut di selimut bergambar karakter anime yang sudah pudar. Tubuhnya terpelanting ke depan, mendarat persis di atas tumpukan baju kotor yang menggunung di samping ranjang. Bau apek memenuhi hidungnya. Ia mengumpat dalam hati sambil berusaha bangkit. Waktunya mepet, pikirnya.
Di depan cermin kamar mandi yang berkabut, Parto buru-buru menyikat gigi sambil mencoba merapikan rambutnya yang berdiri seperti sarang burung. Matanya masih setengah tertutup. Tanpa sadar, ia mengenakan sepasang kaus kaki yang sama sekali tidak sepadan: satu hitam polos, satu lagi bergaris-garis merah dan kuning seperti kostum badut. Detail kecil yang akan jadi bahan tertawaan nanti.
Si Gondrong mengendap-endap di balik pintu, matanya berbinja melihat tali sepatu Parto bergoyang. Begitu Parto melangkah, sang kucing menerkam! Parto nyaris jatuh lagi, tapi berhasil menahan diri sambil mendorong Si Gondrong dengan lembut. “Bukan sekarang, Bos!” katanya pada kucingnya yang hanya mengeong kesal.
Motor tuanya, Honda Astrea Grand tahun 2000-an, meraung-raung enggan dihidupkan. Setelah beberapa kali menekan starter dan disertai doa singkat, mesin akhirnya hidup dengan suara yang terdengar seperti batuk kronis. Parto melesat keluar gang, mengabaikan teguran Pak RT yang sedang menyapu halaman karena kecepatannya.
Jalanan Sabtu pagi itu lengang, membuat Parto sedikit lega. Ia memacu motornya lebih kencang, membayangkan senyum sinis sang bos dan setumpuk pekerjaan yang menanti. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya di balik kemeja kotak-kotak yang agak kusut.
Tiba-tiba, perutnya keroncongan keras. Ia teringat belum sarapan. Pandangannya tertumbuk pada toko donat “J-Co” megah di pinggir jalan. “Ah, nanti saja pulang beli,” gumamnya, mencoba mengusir godaan donat tabur meses coklat.
Dengan perasaan campur aduk antara waswas dan penuh harap, ia akhirnya membelokkan motornya memasuki gerbang parkir kantornya yang megah. Petugas satpam, Bang Joko, yang biasa ramah, kali ini melongokkan kepalanya dari pos jaga dengan ekspresi aneh. “Lho, To? Ngapain ke sini hari Sabtu?”
Parto membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir. Hari ini Sabtu! Kantor libur! Ia menatap Bang Joko, lalu menatap gedung kosong di belakangnya, wajahnya memerah membara. Rasa malu dan lega yang absurd menyergapnya.
Dengan wajah masih memerah, Parto memutar balik motornya, mencoba terlihat santai di depan Bang Joko yang terlihat menahan tawa. “Ah iya, Bang, saya cuma mau ambil barang yang ketinggalan kemarin,” bohongnya licin sambil mencoba senyum kecut.
Belum sampai seratus meter dari gerbang kantor, motor tuanya itu mulai oleng seperti orang mabuk. “Dug… dug… dug…” Bunyi ban belakang yang kempes parah memecah kesunyian pagi. Parto menghela napas panjang, menepikan motornya persis di depan toko J-Co tadi. Nasib, pikirnya sambil mengusap kening.
Lapar dan frustasi, ia memutuskan masuk ke J-Co. Udara dingin beraroma gula dan kopi menyambutnya. Ia mengantre, membayangkan gigitan pertama donat lembut. Saat gilirannya tiba, ia merogoh saku belakang celana jeansnya yang belel. Kosong. Dompetnya tertinggal di atas meja rias! Panik dan malu, ia mulai memeriksa semua saku dengan gugup.
Pemilik toko, Pak Heru, pria gemuk berkumis tebal, memperhatikannya. “Kesulitan, Mas?” tanyanya ramah. Dengan wajah memelas, Parto menjelaskan situasi malangnya: alarm gagal, kantor libur, ban kempes, dan dompet ketinggalan. Pak Heru terkekeh. “Sudahlah, Mas. Kayaknya kamu hari ini perlu sedikit kehangatan. Saya traktir.” Sebelum Parto protes, Pak Heru sudah memesankan segelas kopi panas dan dua donat kesukaannya untuk Parto. “Anggap saja bonus buat korban nasib sial,” ujarnya sambil tersenyum.
Parto pulang dengan perasaan hangat, menentang sisa nasib buruknya. Senyum lebar mengembang di wajahnya sambil menikmati donat di jok motornya. Kopi panas dalam genggamannya menggoyang semangatnya. Sayangnya, ia tak menyadari guncangan kecil saat motor tua itu melompati lubang. Plasss! Sebagian kopi panasnya tumpah persis di jok motor yang sudah retak-retak. Ia cuma mengelus dada, untung tidak kepanasan.
Sesampai di rumah, Parto langsung mencari Si Gondrong untuk mengelus kegalauannya. Ia menemukan si kucing sedang asyik menjilat-jilat genangan coklat di jok motornya yang masih terbuka! “Gondrong! Jangan!” teriaknya terlambat. Kucingnya sudah menjilat cukup banyak kopi yang tumpah.
Awalnya tak terjadi apa-apa. Parto masuk, melepas sepatu dan kaus kaki badutnya, masih kesal. Tapi sepuluh menit kemudian, Si Gondrong mulai berperilaku aneh. Matanya membelalak lebar, bulunya berdiri, dan ia mulai berlari kencang bolak-balik dari ruang tamu ke dapur seperti dikejar setan! Ia melompat-lompat ke atas meja, kursi, bahkan mencakar tirai seperti sedang berburu tikus imajiner. “Gondrong! Kau kenapa?!” teriak Parto panik melihat kucingnya yang biasanya malas itu berubah jadi hiperaktif layak penari breakdance.
Tanpa pikir panjang, Parto menjemput Si Gondrong yang sedang mencoba memanjat lemari, memasukkannya ke dalam keranjang kucing, dan meluncur ke klinik hewan terdekat. Klinik “Dokter Linda” terlihat sepi. Ia masuk dengan wajah penuh kepanikan, mendadak seorang wanita muda berkacamata tebal dan berjas lab putih muncul dari balik pintu. “Ada yang bisa saya bantu?” suaranya tenang namun tegas.
Parto cerita dengan terbata-bata tentang kopi tumpah dan perilaku Si Gondrong yang jadi gila. Dokter Linda, begitulah nama di jasnya, memeriksa Si Gondrong dengan serius. Si Gondrong saat itu sedang mencoba memanjat stetoskopnya. Tiba-tiba, dokter Linda tertawa terbahak-bahak, suaranya nyaring memenuhi ruangan. “Mas, kucingmu ini tidak sakit! Dia keracunan kafein! Terlalu banyak kopi, jadi over energi!”
Wajah Parto merah padam. Rasa malu dan lega beradu. Melihat ketampanan wajah dokter Linda yang tersipu karena tawa, hati Parto berdebar kencang. Ia memberanikan diri. “Dok, kalau boleh tahu, nomor telepon dokter… buat jaga-jaga kalau Si Gondrong kenapa-napa lagi…”
Dokter Linda tersenyum manis, matanya berbinja di balik kacamatanya. Ia mengeluarkan kartu nama. Saat akan menyerahkannya ke Parto, “Haaatchiii!” Bersin besar mengguncang tubuhnya. Kacamata labnya yang besar terlepas dan terlempar, mendarat tepat di dalam akuarium besar berisi ikan hias yang menjadi penghias ruang tunggu! “Astaga!” teriak dokter Linda.
Tanpa pikir panjang, didorong rasa bersalah dan mungkin juga ingin pamer, Parto melepas jam tangannya dan langsung menyelam ke dalam akuarium setinggi pinggang itu! Air menyembur ke mana-mana. Ia meraba-raba dasar akuarium yang penuh kerikil dan tanaman plastik. “Ketemu!” serunya bangga sambil mengacungkan kacamata dokter Linda.
Ia bangkit dari akuarium, basah kuyup, rambutnya menempel, tapi wajahnya penuh kemenangan. Saat itulah ia merasakan benda keras dan panas di saku celananya. Ponselnya! Ponsel yang baru saja ia cas penuh semalaman, dan ia lupa mengeluarkannya sebelum nyebur! Asap tipis mulai mengepul dari saku celananya yang basah. Braaak! Suara letusan kecil disusul bau hangus. Ponselnya meledak di dalam saku!
Dokter Linda, yang tadinya terkesan, kini menutup mulutnya, bahunya berguncang menahan tawa yang meledak-ledak. Air mata mengalir di pipinya. “Maaf… Maaf…” helanya di sela tawa, “Tapi kamu… lebih kacau dari kucingmu, Mas!”
Parto hanya bisa berdiri basah, berbau ikan, dengan kacamata basah di satu tangan dan saku celana yang menganga terbakar di sisi lainnya. Si Gondrong mengintip dari keranjangnya, mengeong pelan seolah berkata, “Sudah kubilang jangan minum kopiku.”
Keesokan harinya, Parto menerima paket dari klinik dokter Linda. Bukan kartu nama atau janji kencan, tapi sebuah tagihan. Rp. 1.500.000,- untuk biaya perbaikan akuarium yang retak, penggantian air, dan “Terapi kejut & konseling stres untuk 7 ekor ikan koi yang trauma”.
TAMAT