Dedaunan palem berbisik di bawah terik matahari Memphis. Amosis, budak berusia 16 tahun dengan kulit penuh luka cambuk, menyelinap di antara tumpukan batu kuil. Di tangannya, sepotong roti curian—makanan pertamanya dalam tiga hari.
Tapi malam ini bukan soal roti. Malam ini, dia punya rencana gila.
“Kau yakin ini akan berhasil?” bisiknya kepada seekor kucing berbulu hitam-keemasan yang duduk anggun di atas altar. Hewan itu—disebut Miu oleh pendeta kuil—adalah kucing suci, dipercaya sebagai perwujudan Dewa Bastet. Matanya bersinar seperti dua bulan sabit.
Miu mengeluarkan suara mendengkur dalam, seolah memahami. Lalu, dengan gerakan lincah, kucing itu melompat ke bahu Amosis. “Kita mulai,” desis Amosis, jantungnya berdegup kencang.
Dia tahu, melarikan diri berarti hukuman mati. Tapi hidup sebagai budak di kuil ini—dipaksa membangun piramida tambahan, disiksa jika lambat—sudah seperti kematian perlahan.
Dengan Miu di pundaknya, Amosis menyusuri lorong gelap. Di Mesir Kuno, menyakiti kucing kuil adalah dosa terbesar. Bahkan prajurit Firaun tak berani menghalangi. “Kau perisai terbaikku,” gumam Amosis saat melewati dua penjaga yang langsung menunduk melihat Miu.
Tiba-tiba, dari kegelapan, muncul Nebu—pengawas kuil yang kejam. “Budak kotor! Kau pikir bisa kabur?!”
Amosis menahan napas. Tapi sebelum Nebu menghunus cambuk, Miu melompat ke depan, bulunya mengembang, mengeluarkan suara mirip heket—terompet perang dewa. Nebu pucat, lalu berlutut, berdoa memohon ampun.
“Lari!” Amosis menarik napas dalam dan melesat keluar kuil, menuju Sungai Nil. Perahu kecil sudah menunggu—hadiah dari seorang budak temannya yang tewas kemarin.
Dengan Miu sekarang di pangkuannya, Amosis mendayung menjauh. Di kejauhan, piramida-piramida menjulang seperti bayangan raksasa. Tapi di depan, matahari terbit menyapu cakrawala, membawa warna emas.
“Kita bebas, Miu,” bisiknya. Kucing itu mendengkur, seakan berkata, Memang sudah takdir.
Dan untuk pertama kalinya, Amosis tertawa—suara yang lama hilang, kini mencuri secuil langit untuk dirinya sendiri.
TAMAT
Istilah:
- Heket– Suara sakral mirip terompet yang diasosiasikan dengan dewa.
- Miu– Sebutan untuk kucing suci dalam konteks cerita (berasal dari kata “miw” bahasa Mesir Kuno untuk kucing).
- Bastet– Dewi berkepala kucing, simbol perlindungan dan kebebasan.