BAB 6: Catatan dari Masa Lalu yang Tidak Bisa Dihapus
Ketika kamu menemukan bukti pengkhianatan, tapi hatimu masih berbisik: “Tunggu, mungkin ada penjelasannya—”
Alya memeluk bantal erat-erat, video “Prank Payback Idea” itu masih berputar di kepalanya. Rafi tersenyum. “Exactly.” Dua kata itu seperti pisau yang terus menancap.
Tapi sesuatu tidak beres.
*Kenapa Rafi menyimpan buku catatan SD-nya selama 7 tahun kalau cuma mau balas dendam? Kenapa dia bawa cheesecake favoritku?*
Operasi Intelijen Kedua
Dengan napas berat, Alya membuka browser-nya dan mengetik:
“Cara melihat deleted YouTube videos”
10 menit kemudian, dia berhasil mengakses cached version dari channel JokeVault.
Dan inilah yang membuatnya terpaku:
- Video itu di-upload 3 minggu lalu—TAPI—
- Dihapus 2 hari kemudian.
- Ada 1 komentar sebelum dihapus:
@R._.F: “Take this down. Now. Bukan lagi bahan becandaan.”
Wait. What?
Pesan yang Terhapus
Alya membuka WhatsApp, mencari nomor Karin—mantan bestie SD yang masih punya grup alumni.
Alya: “Lo masih kontakan sama Rafi?”
Karin: “Iya, kenapa? Oh lo tau kah soal rencana nge-prank* lo itu?”*
Alya: “JELASIN. SEKARANG.”
Tiga titik typing muncul—terasa seperti 300 tahun.
Karin: “Dulu emang ada rencana gitu, tapi Rafi batalin. Katanya ‘Gue gak bisa nakalin Alya, dia beda.’ Tapi Bima nge-push* terus sampe bikin video itu. Rafi marah banget pas tau di-upload.”*
…
Layar HP-nya tiba-tiba hidup. Notifikasi dari Instagram:
@/R._.F memulai panggilan video…
Wajah yang Berbeda
Wajah Rafi muncul di layar—mata merah, rambut acak-acakan, seperti baru berantem.
“Alya, lo harus dengar penjelasan gue—”
“Explanation time is over,” sergah Alya, tapi suaranya getir.
“Bima udah gue pukul karena video itu,” Rafi terengah. “Gue gak pernah mau lo terluka. Please. Buka pintu. Gue di depan rumah lo lagi.”
Tok tok tok.
Pintu diketuk tiga kali—persis seperti di Bab 3.