BAB 4: JARING HANTU DI LABIRIN LOGAM
(DALAM KEGELAPAN SUNDAPURA)
Sepuluh detik.
Dalam hitungan terakhir, Dimas hanya sempat membelakangi ledakan, melindungi Rini dan Pak Ujang dengan tubuhnya. Nayla hidup. Dua kata itu bergema lebih keras dari desing peluru.
…4…3…
Ia memejamkan mata, menanti panas dan hancuran batu.
…2…1…
Fssssssssst!
Suara yang keluar bukan ledakan, melainkan desisan halus seperti udara bocor dari ban. Cahaya hijau neon menyapu gua—cahaya yang hidup, bergerak seperti uap cerdas. “Paket” dari Ghost Network itu bukan bom, tapi awan nanobot berpendar.
Mereka menari cepat:
- Yang biru menyelimuti reruntuhan pintu gua, mengikat batu-batu dengan jaring energi.
- Yang kuning merangkai diri menjadi struktur penopang darurat di langit-langit retak.
- Yang hijau mengelilingi Rini, memindai tubuhnya yang berpendar.
“Kondisi Biologis: Stabil. Gelombang Sundapura Terdeteksi. Stabilisasi… Selesai.” Suara AI androgini terdengar dari jam Dimas.
Rini membuka mata. “Aku… mendengar gemuruh di bawah… Batu Galih… menangis.”
—
PENYELAMATAN
Lubang kecil terbuka di reruntuhan oleh nanobot. Sebuah kabel serat optik—berpendar pelangi—dijulurkan dari luar.
“Pegang erat. Evakuasi segera!”
Mereka merangkak keluar satu per satu. Pemandangan di luar memilukan. Hutan Sinarresmi yang hijau kini jadi lahan hangus. Bau ozon dan kayu terbakar menusuk. Tapi yang lebih mengejutkan:
Pasukan NeoNusantara kocar-kacir. Exosuit Garuda mereka rusak parah—terjebak dalam jaring nanobot hijau yang mengikat mereka ke pohon. Kapten Garuda tergeletak di lumpur, helmnya retak, matanya terbuka lebar penuh ketakutan.
“Jaring… hantu…” gumannya tak karuan.
Di langit, drone NeoNusantara jatuh satu per satu seperti laron terbakar. Menggantikannya, drone kecil bercahaya ungu—berbentuk kujang—berputar-putar memantau.
“Ghost Network menguasai medan. Tim ekstraksi NeoNusantara melarikan diri. Target prioritas: Evakuasi ke Pos Aman.”
“Tapi desa… warga…” protes Dimas.
“Warga Sinarresmi telah dievakuasi melalui terowongan darurat. Pak Asep dan Joko aman.”
Jam di tangan Dimas memproyeksikan peta hologram Pegunungan Halimun. Sebuah titik merah berkedip di kawasan industri tua Cikampek. “Pos Aman: Stasiun Kereta Bawah Tanah Masa Perang, Sektor 7-C.”
—
PERJALANAN RAHASIA
Mereka dibawa melalui lorong tersembunyi di balik air terjun—sebuah kereta magnetik mini bertenaga geotermal. Di dalam gerbong, suasana muram.
Pak Ujang menatap nanobot yang masih menempel di tangannya. “Teknologi iblis…”
“Tapi menyelamatkan kita,” Rini melempar pandangan. Gadis itu masih pucat. Jari-jarinya sesekali bergetar, seakan masih merasakan “gemuruh” Sundapura.
“Ghost Network,” Dimas mengamati simbol di gerbong: capung menyala dengan tulisan Jawa Kuno: “Hamemayu Hayuning Bawana” (Memelihara Keindahan Dunia). “Mereka melawan NeoNusantara?”
“Kami Menyeimbangkan,” jawab AI jam itu. “NeoNusantara merusak harmoni. Ghost Network memulihkan. Anda, Dimas Rahardja, adalah ketidakseimbangan baru.”
“Karena Echo Keberanian?”
“Karena emosi Anda mengganggu frekuensi Galih. Dan karena Nayla.”
Layar jam menampilkan foto: Seorang gadis berambut pendek, mata tajam, berbaju lab putih. Nayla Rahardja. Status: Peneliti Utama Proyek IndoFear, NeoNusantara.
Darah di kepala Dimas mendidih. “Bohong! Dia tewas di Jakarta!”
“Tubuhnya selamat oleh tim medis NeoNusantara. Pikirannya… dimanipulasi. Dia percaya Anda yang meninggalkannya.”
Reruntuhan di jiwa Dimas kembali hancur.
—
POS AMAN SEKTOR 7-C
Tempat ini seperti gabungan museum perang dan sarang hacker. Dinding beton tua dipenuhi kabel serat optik dan layar hologram. Di sudut, alat pembangkit geotermal berdetak. Di tengah ruangan, Pak Asep dan warga Sinarresmi lainnya duduk lesu.
“Dimas!” Pak Asep bangkit, kakinya pincang. “Kau selamat! Dan… Echo?”
Keris di pinggang Dimas bergetar lemah. “Selamat, Pak.”
Tapi perhatiannya teralih ke sosok di balik konsol utama: Seorang wanita paruh baya berkacamata AR, jubah lab-nya dihiasi motif batik cyborg.
“Saya Profesor Arumi, Ghost Network Cell-B,” perkenalannya singkat. Matanya memindai Rini. “Anak ini menyatu dengan jaringan Sundapura. Unik. Gelombang otaknya selaras dengan Batu Galih.”
“Batu Galih dalam bahaya,” bisik Rini. “Bor utama NeoNusantara masih aktif… lebih dalam… lebih ganas.”
Profesor Arumi mengangguk. Di layar, simulasi 3D gunung Halimun ditampilkan. Bor raksasa mengebor menuju titik berpijar emas di perut bumi. “Tingkat Penetrasi: 78%. Jika mencapai Batu Galih, energi emosi seluruh Jawa akan dikontrol NeoNusantara.”
“Kita harus hentikan!” seru Juki.
“Dan Nayla?” tanya Dimas, suaranya parau.
Profesor Arumi menekan tombol. Layar menampilkan rekaman keamanan:
Laboratorium steril NeoNusantara Tower, Jakarta. Nayla berdiri di depan panel kendali, wajah dingin. Di tangannya, sebuah tongkat logam berpendar biru—mirip Echo Keberanian, tapi lebih mekanis. Saat dia berbicara, gelombang biru memancar ke kumpulan tahanan politik. Para tahanan itu tiba-tiba berkelahi satu sama lain, wajah penuh kebencian tak masuk akal.
“Proyek IndoFear: Memanipulasi emosi massa via pancaran Galih Energy palsu,” jelas Arumi. “Nayla adalah konduktor terbaik karena trauma dan kebenciannya pada Anda. Tapi…”
Rekaman diperbesar. Saat Nayla menoleh, di lehernya terlihat sesuatu: implan logam berbentuk kalajengking.
“Controller Chip Scorpio. Menekan memori asli, memperbesar kebencian. Dia tidak sepenuhnya sadar.”
Dimas menggigit bibir sampai berdarah.
—
RENCANA
“Kita punya dua misi,” Profesor Arumi memproyeksikan peta.
- Tim Bawah Tanah: Menghancurkan bor NeoNusantara di Halimun. Dipimpin Dimas, dengan Rini sebagai “pemancar” gelombang Sundapura.
- Tim Jakarta: Menonaktifkan Controller Chip Nayla dan menara IndoFear. Ghost Network yang bertanggung jawab.
“Kenapa bukan aku yang ke Jakarta?” tuntut Dimas.
“Karena kau pemicu kebenciannya,” jawab Arumi tegas. “Jika kau muncul, chip Scorpio akan memaksanya membunuhmu. Atau bunuh diri.”
Rini memegang tangan Dimas yang gemetar. “Kita percaya Ghost Network, Bang. Fokus selamatkan Batu Galih dulu.”
Di layar, video hidup Nayla diputar. Gadis itu sedang bicara dengan Direktur Ratna—wanita berwajah dingin dengan tato sirkuit emas di pelipis.
“Proyeksi energi dari Halimun meningkat, Nayla,” kata Ratna. “Pastikan jaringan IndoFear siap serap.”
“Siap, Direktur,” jawab Nayla monoton. Tapi sesaat, matanya melirik kamera—sekilat kesadaran—seperti mengenali sesuatu.
“Dan jika ‘sang kakak’ muncul…” Ratna tersenyum tipis.
“Eliminasi segera,” jawab Nayla, tapi jarinya mengetuk meja: .. .-.. — …- .
(Kode Morse: I L O V E)
Dimas menatap tak percaya. Jantungnya berhenti.
“Pesan tersembunyi,” bisik Profesor Arumi. “Dia masih ada di dalam sana.”
—
PERSIAPAN
Di gudang senjata bawah tanah, Dimas dibekali armor ringan bercahaya biru: “Baju Besi Gelombang”, bisa memperkuat pancaran Echo Keberanian.
“Materialnya dari limbah drone NeoNusantara yang kita daur ulang,” kata Arman bangga.
Rini diberi sarung tangan sensorik: “Sarung Sunda”, terhubung ke jaringan akar bawah tanah. “Ini membantumu menyaring gelombang Galih tanpa terbakar,” jelas Profesor Arumi.
Saat mereka bersiap, Pak Asep menghampiri Dimas. “Kau tak bisa mengubah masa lalu, Nak. Tapi bisa pilih sekarang: Berperang karena benci… atau karena sayang.”
Dia menyerahkan secarik kain. Di dalamnya: foto lama Dimas dan Nayla kecil tersenyum di Kebun Raya Bogor, dan… sepatu merah mini Nayla yang selamat dari reruntuhan Jakarta.
“Bawa ini. Buktikan padanya kenangan sebelum neraka.”
Keris di pinggang Dimas bergetar hangat.
—
KEJUTAN
Saat kereta magnetik akan berangkat menuju terowongan bawah gunung, alarm berbunyi.
“Pelanggar Keamanan: Sel Penjara 3.”
Layar menampilkan Kapten Garuda—berhasil kabur dari jaring nanobot—menyandera seorang teknisi Ghost Network.
“Rahardja! Aku tahu kau di sini!” teriaknya lewat speaker. “Keluarkan, atau kubunuh dia dan ledakkan generator geo!”
Dimas menghela napas. Ketakutan melandanya, tapi kali ini ia tersenyum. Bahan bakar.
Ia mencabut Echo Keberanian. Cahaya biru membasahi ruangan.
“Rini, Pak Ujang… Apa yang kalian rasakan?”
Rini: “Marah! Dia mengancam rumah baru kita!”
Pak Ujang: “Bersemangat! Inilah saatnya balas dendam!”
Warga: “Takut… tapi ingin melawan!”
Gelombang emosi mengalir ke keris. Dimas membidang Kapten Garuda di layar.
“Kau cari ketakutan, Kapten?” teriak Dimas. “INI DIA!”
Ia tidak menebas ke arah Kapten. Ia menusukkan keris ke kabel data di lantai!
ZZZZZZZAAAAPPPP!
Gelombang biru menyambar seluruh jaringan Pos Aman. Di layar, Kapten Garuda menjerit—bukan karena sakit fisik, tapi karena serbuan emosi warga yang diperkuat ribuan kali:
- Ketakutan Bu Tati
- Amarah Juki
- Semangat Pak Asep
- Bahkan keberanian Rini
“STOOOOPPP! AKU LIHAT MEREKA… BANYAK SEKALI… JANGAN SERANG AKU!” jerit Kapten, terhuyung seperti orang mabuk.
Tim keamanan Ghost Network melumpuhkannya dengan mudah.
“Kau belajar,” Profesor Arumi tersenyum tipis. “Echo Keberanian bukan senjata… tapi konduktor.”
Kereta magnetik pun berangkat. Di terowongan gelap, hanya wajah Dimas yang tegang terlihat dalam cahaya biru keris. Target: Inti Bor NeoNusantara.
Tapi pikirannya di Jakarta, pada adiknya yang terjebak dalam labirin logam dan kebencian.
“Tunggulah, Nay… Kakak datang.”