BAB 2: GEMA DI BALIK KABUT
(HALIMUN, JAWA BARAT)
Kabut pagi yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti kuburan. Usai helikopter hitam NeoNusantara pergi meninggalkan debu dan kepanikan, desa Sinarresmi membeku dalam kehancuran kecil. Sebuah gubuk hidroponik hancur tertabrak motor turbin, cairan nutrisi hijau menggenang seperti darah mekanik. Di tengah lapangan, sepatu kets Rini yang terlepas terinjak-injak lumpur.
“Pak Asep… dan Joko… dibawa mereka,” lirih Bu Tati, tetangga sebelah, sambil memeluk anaknya yang menggigil. Matanya kosong menatap bekas roda helikopter. “Bilangnya… mereka pembangun liar.”
Pembangun liar. Istilah korporasi untuk warga yang menolak relokasi. Dimas mengepal sampai kuku membekas di telapak tangan. Bau besi darah dari Jakarta kembali menghantui indranya. Ia berlari ke gubuknya, jantung berdegup kencang. Peti kayu di bawah tempat tidur—kosong.
“Tidak…” desisnya. Keris itu hilang.
“Maaf, Bang…” suara kecil dari pintu. Rini berdiri dengan lengan robotiknya tertekuk, wajahnya basah oleh air mata dan lumpur. Di tangannya, tergenggam gagang keris yang berpendar biru pucat. “Tadi… waktu tentara dorong aku, ini… terbang ke gubangku. Seperti… dipanggil.”
Dimas menarik napas dalam. Echo Keberanian bereaksi terhadap ketakutan Rini. Ia mengambil keris dengan hati-hati. Logamnya bergetar dingin, ukiran naganya seakan hidup dalam cahaya redup.
“Mereka bilang akan kembali besok,” bisik Rini gemetar. “Minta desa dikosongkan, atau… atau Pak Asep dan Mas Joko akan dijadikan contoh.” Kata terakhir nyaris tak terdengar.
—
SIANG HARI – BALAI PERTEMUAN DESA
Puluhan warga berkumpul. Suasana muram. Layar proyektor darurat menampilkan peta digital Halimun bertanda merah: “Zona Eksplorasi NN-Sektor 7”.
“Sensor bawah tanah kami mendeteksi getaran bor berjarak 3 km dari sini,” kata Arman, pemuda teknisi desa. Keringat membasahi kacamata AR-nya. “NeoNusantara bukan cari mineral. Mereka bor ke gua purba tempat leluhur kita menyimpan batu galih.”
“Batu galih?” tanya seorang ibu.
“Batu energi mistis zaman Pajajaran,” jelas Pak Ujang, kuncen adat. Matanya sembab. “Menurut pantun batu, siapa kuasai galih, kuasai rasa takut manusia. Itu yang mereka mau!”
Semua mata beralih ke keris di pinggang Dimas. Logamnya berdenyut lembut, selaras dengan detak jantung warga.
“Kita harus lawan!” seru Juki, remaja penggemar drone. “Aku punya 5 drone pengawas hasil rakitan. Bisa kita—”
“Lawan?” sela Bu Tati getir. “Dengan apa? Pacul dan drone mainan? Mereka punya senjata pembeku saraf dan Garuda Exosuit! Lihat Joko tadi—diborgol listrik hanya karena berteriak!”
Ruang hening. Ketakutan mengental. Dimas merasakan keris di pinggangnya makin berat, makin dingin. Gelombang ketakutan mulai merambat. Beberapa warga mengusap dada, napas tersengal. Dan ada seorang nenek pingsan.
—
MALAM HARI – GUBUK DIMAS
Dalam cahaya lampu LED temaram, Dimas membongkar kotak perangkat lama. Sebuah jam tangan TNI-05 dengan layar retak. Identitas lamanya. Ia menekan tombol darurat.
“Signal encrypted… Searching for network…” bunyi AI jam itu.
“Bang… kenapa kau simpan itu?” Rini duduk di lantai, memeluk lutut. Lengan robotiknya berkeretak pelan.
“Untuk memanggil bantuan. Tapi…” Layar jam menampilkan simbol ⚠️ NO NETWORK. “NeoNusantara sudah memblokir sinyal desa. Saat ini kita terisolasi.”
Rini menatap keris yang ditaruh di atas meja. “Tadi siang… waktu Bu Tati teriak, keris ini bergetar kuat. Aku… aku merasa ketakutan semua orang.” Ia menunduk. “Seperti serangan panikku, tapi… lebih besar. Itu kekuatan Echo-nya, ya?”
Dimas mengangguk pahit. “Di Jakarta dulu, tanpa sadar kugunakan. Hasilnya: tentara musuh panik, tapi…” Ia menatap sepatu merah kecil di sudut kamar. “Orang tak bersalah juga ikut menderita.”
“Tapi hari ini,” Rini bersuara lirih, “ketika ketakutan itu menyebar… aku juga merasakan yang lain.” Ia mendekat ke keris. “Perasaan Bu Tati yang khawatir kehilangan anak, keberanian Arman yang ingin melindungi desa… bahkan kemarahan Juki. Semua bercampur.”
Dimas tertegun. Filosofi keris yang diungkap Arifin di bab sebelumnya—”mengubah ketakutan jadi kekuatan bersama”—terdengar di kepalanya.
—
TENGAH MALAM – POS JAGA
Lampu darurat menyala merah. Dimas dan tim keamanan desa memantau layar drone.
“Drone 3 hilang sinyal!” lapor Arman tegang. “Di sektor barat, dekat gua galih. Panas bangat bacaan sensornya—”
BRRZZZT!
Layar utama mati. Suara dengung mengerikan mengoyak malam. Dari jendela, mereka melihat cahaya oranye menyapu langit.
BOOM! Ledakan mengguncang bukit barat. Api menjilat pepohonan.
“Incinerator Drone!” teriak Juki. “Mereka bakar hutan buka jalan!”
Tiba-tiba, alarm biometrik di jam Rini berbunyi nyaring. “Deteksi stres ekstrem: 200 meter arah timur laut.”
“Pos penyimpanan bibit!” seru Dimas.
Mereka berlari. Di kebun bibit, sebuah drone NeoNusantara bersenjata laser mengarahkan senjata ke Rini yang terkunci di gudang. Di tanah, tiga warga tak sadarkan diri—kena tembak pembeku saraf.
“RINII!” teriak Dimas.
Drone itu berputar. Lampu sensornya menyala merah menyorot Dimas. “Identifikasi: Dimas Rahardja. Status: Target Prioritas Alpha. Izin eliminasi diberikan.”
Laser menyala.
Tanpa berpikir, Dimas mencabut keris. Ketakutan membajiri pikirannya: gagal lagi, gagal melindungi orang, gagal seperti Nayla…
Echo Keberanian bergetar liar. Cahaya birunya mendadak membanjiri lapangan seperti suar.
Dan sesuatu yang tak terduga terjadi:
Laser drone itu membelok, menghantam tanah. Drone bergoyang tak stabil. “Error… Emotional frequency overload…” suara robotiknya parau.
Rini, dari dalam gudang, menjerit. Bukan jerit ketakutan, tapi… amarah. “JANGAN GANGGU DESA KAMI!”
Saat itu, keris di tangan Dimas menyemburkan gelombang biru ke arah drone—tapi kali ini, berbeda. Gelombang itu tidak hanya membawa ketakutan Dimas, tapi juga keberanian Rini, kesedihan warga yang terluka, tekad Arman di pos jaga.
Drone itu meledak di udara, hujan logam cair.
Dimas terpana. Di tangannya, Echo Keberanian kini terasa hangat, berdenyut seirama dengan jeritan Rini dan detak jantungnya sendiri.
Dari kegelapan hutan, suara motor turbin menderu mendekat. Lampu sorot eksoskeleton Garuda menyapu malam.
“Besok datang lebih cepat, rupanya,” geram Dimas, menggenggam keris yang masih berpendar.
Di kejauhan, pertama kalinya sejak kejadian di Jakarta, bayangan Nayla di pikirannya tak datang. Yang ada hanya teriakan Rini:
“Lawan, Bang!”
Dan untuk pertama kalinya, ketakutan itu tak lagi melumpuhkan. Ia jadi bahan bakar.