Novel: Bisikan Gletser di Hati Eiger (8/12)

BAB 8: GLETSCHERFLÜSTER & KABUT PENGIKATAN DI GRINDELWALD FIRST

Kabut pagi menyelimuti Grindelwald seperti selendang perak. Dari balkon chalet Arno, Rania menyaksikan lembah hijau berbentuk tapal kuda yang dikelilingi raksasa es: Eiger, Mönch, dan Jungfrau. Cincin Edelweiss di jarinya terasa hangat, tapi pesan Adrian semalam seperti duri di balik bantal.

Frühstück! Sarapan!” panggil Arno dari dapur kecil. Di atas meja kayu cedar: Birchermüesli (oat direndam susu, apel, kacang), Zopf (roti kepang) dengan selai Aprikose, dan aroma caffè crema kental.

“Proyek konservasi Schutzhütte dimulai hari ini,” ujarnya, menyodorkan peta. “Kita inspeksi Gletscherschlucht—ngarai gletser dekat sana. Jalannya… spektakulär.”

Tapi rencana berubah saat Lea muncul di pintu, wajahnya pucat. “Bruder… Ada yang perlu kau lihat.” Ia menyodorkan ponsel. Foto Rania & Adrian di pantai Bali dua tahun lalu, tersenyum mesra.

Wer ist das? Siapa ini?” tanya Arno, suaranya datar berbahaya.

Rania menelan ludah. “Adrian. Mantan tunanganku. Tapi kami sudah selesai—”

Warum ist er hier? Kenapa dia di sini?”

“Entahlah! Dia kirim pesan tadi malam—”

Und warum hast du es mir nicht gesagt? Dan kenapa kau tak memberitahuku?” Matanya menyipit, bekas luka di pelipis memutih. Cincin Edelweiss tiba-tiba terasa dingin.

Lea menyela: “Er hat nach dir gefragt im Hotel, Arno! Dia tanyakan kau di Hotel Kirchbühl!”

Arno mendorong kursi. “Wir gehen jetzt. Ke Gletscherschlucht. Du auch, Lea. Kau ikut.” Suasana jadi tegang.

Gletscherschlucht Grindelwald adalah dunia lain. Jembatan gantung melintasi jurang sempit, di bawahnya Sungai Lütschine berwarna biru susu menggemuruh melalui dinding batu licin setinggi 50 meter. “Ngarai ini diukir gletser selama 250 juta tahun!” teriak Arno menembus deru air, sikapnya profesional tapi dingin.

Di terowongan iluminasi, lampu biru-ungu menyoroti striasi (goresan) di dinding batu. “Bekas gesekan gletser purba,” jelas Lea, mencoba mencairkan suasana. “Seperti luka yang jadi seni.”

Arno tak berkomentar. Ia fokus pada inspeksi pagar jembatan. Saat Rania mendekat, ia berpaling.

Makan siang di restoran panoramik First, ketegangan masih menggantung. Plättli (daging sapi iris tipis) dan Rösti terasa hambar. Tiba-tiba, Adrian muncul—berkemeja putih rapi, kontras dengan jaket gunung Arno.

Grüezi,” sapa Adrian fasih ke Arno, lalu ke Rania: “Surprise, sayang.”

Arno berdiri, tinggi badannya mengintimidasi. “Sie ist nicht deine ‘Sayang’.”

Adrian tersenyum tipis. “Kami punya sejarah, Tuan…?”

“Arno.”

“Arno. Sang Geisterführer.” Tatapan Adrian tajam. “Rania bicara banyak tentangmu—dan kecelakaan tragismu.”

Rania tersentak. “Aku tak pernah—”

Genug! Cukup!” hardik Arno. “Rania, pilih. Dia atau proyek ini.”

Sebelum Rania jawab, gemuruh tanah menggetarkan lantai!

Steinschlag!” teriak Lea. Dari tebing First, batu-batu besar meluncur! Pengunjung berhamburan.

Di tengah kepanikan, Adrian menarik lengan Rania. “Ayo pergi!”

Tapi Rania melepaskan diri. “Arno! Lea!”

Arno sudah berlari ke arah sekelompok turis terjebak di First Cliff Walk—jembatan kaca di tepi jurang. Sebuah batu sebesar lemari es menghantam pondasi jembatan!

Das Glas bricht! Kacanya retak!” teriak seseorang.

Rania memandang Adrian. “Tolong mereka! Kau dokter!”

Adrian terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Tapi kau ikut aku setelah ini.”

Tim evakuasi terbentuk: Arno memimpin penyelamatan di jembatan, Adrian menangani korban luka, Rania & Lea mengatur kerumunan. Saat seorang anak terjebak di bagian jembatan yang miring, Arno merangkak di kaca retak—harness-nya terkait ke tali baja.

Ich hol dich, Kleiner!” Aku datang, Nak!

Penyelamatan dramatis itu diakhiri sorak-sorai. Tapi saat turun, kaki Arno terpelesch di pecahan kaca—lututnya berdarah lagi!

Scheisse!

Rania berlari, tapi Adrian lebih dulu. “Biarkan aku. Aku ahli bedah ortopedi.” Tangannya cekatan membalut luka. “Kau butuh jahitan.”

Di klinik kecil Grindelwald, Adrian menjahit luka Arno dengan presisi. Keheningan yang janggal.

Danke,” gumam Arno akhirnya.

“Untuk Rania, apa pun,” jawab Adrian halus. “Dia tak cocok di dunia kerasmu, Arno. Dia butuh stabilitas—seperti yang pernah kami punya.”

Arno menatapnya. “Kau tak kenal dia sekarang.”

Malam harinya, Rania menemui Adrian di Hotel Kirchbühl.

“Pulanglah, Adrian. Aku tak mencintaimu lagi.”

Adrian mengeluarkan surat dari firma arsitektur Rania di Jakarta: “Proyek Maldives-mu disetujui. Butuh segera. Bos bilang, cutimu dibatalkan.”

Rania terpana. “Kau yang merusak cutiku?”

“Kau terlalu berharga untuk tersia-siakan di gubuk kayu.” Ia memegang tangannya. “Aku tahu kesalahan dulu. Kembalilah, kita perbaiki.”

Dari jendela, Rania melihat Arno di kejauhan, duduk di bangku tepi jalan, kepalanya tertunduk. Cahaya lampu jalan menyoroti kesendiriannya.

Es tut mir leid, Adrian.” Maaf.

Ia keluar, langkahnya berat ke arah Arno. Tapi saat mendekat, Lea muncul dari bayangan—wajahnya marah.

Warum? Kenapa kau lukai dia lagi?” bisik Lea. “Arno barusan batalkan partisipasi di proyek konservasi! Untuk ‘kebaikanmu’ katanya!”

Rania terpana. “Aku tak minta itu!”

“Tapi kau biarkan Adrian bermain di sini!” Lea mengeluarkan ponsel. Foto Rania & Adrian berdekat di klinik tadi siang—diambil dari sudut yang terlihat intim. “Aku kirim ini ke Arno. Untuk buka matanya!”

Rania tersentak. “Lea! Itu salah penafsiran!”

Genau wie Sophie dulu! Persis seperti Sophie!” mata Lea berkaca-kaca. “Dia juga dekat dengan pemandu lain sebelum… sebelum kecelakaan! Arno tak boleh sakit lagi!”

Ia lari, meninggalkan Rania yang limbung. Arno sudah pergi dari bangku itu.

Esok pagi di Danau Bachalpsee, permukaan airnya tenang memantulkan puncak Schreckhorn. Arno sudah berdiri di tepi danau, ransel di punggung.

“Kau akan pergi?” tanya Rania, suara gemetar.

Expedition. Eiger Nordwand. Ekspedisi. Tembok Utara Eiger,” jawabnya tanpa menoleh. “Dua minggu.”

“Tapi lukamu—”

Heilt. Sembuh.” Ia akhirnya menatap Rania. Matanya seperti es Danau Aare—dingin dan tak tertembus. “Proyek Schutzhütte… kau lanjutkan tanpa aku.”

“Arno, foto itu—Lea salah tangkap! Adrian dan aku—”

Ich weiß. Aku tahu.” Ia memotong. “Tapi Adrian benar. Duniamu… dan duniaku…” Ia menunjuk danau yang memantulkan langit. “Seperti ini. Indah tapi sementara. Kabut datang—” ia menunjuk kabut yang mulai turun, “—hilang.

Dia menyodorkan kantong kecil berisi keju Alp Käse dan cokelat Toblerone. “Provisi untukmu.”

Rania tak menerima. “Kau lari.”

Nein. Aku memilih.” Ia menarik napas. “Saat di First kemarin, saat kaca retak… aku melihat wajah Lukas. Dan Sophie. Mereka tersenyum.” Matanya basah. “Weil ich endlich loslasse. Karena aku akhirnya melepas.”

Ia meletakkan kantong provisi di batu. “Melepas masa lalu… dan khayalan tentangmu.”

Tanpa pelukan, tanpa jabat tangan, Arno berbalik menyusuri jalur pendakian. Kabut tipis menyapunya perlahan, menyamarkannya jadi siluet.

Rania jatuh berlutut di tepi danau. Air matanya menetes, mengacaukan pantangan Schreckhorn yang sempurna.

Di sakunya, ponsel bergetar. Pesan Adrian:

“Helikopter ke Maldives jam 15.00. Aku tunggu di Interlaken Ost. Pilihanmu.”

Dan pesan Lea:

“Maafkan aku. Tapi kau & Arno seperti Fondue moitié-moitié—keju Gruyère yang kuat & Vacherin yang lembut. Tapi jika tak diaduk terus… ia gosong.”

Rania memandang kabut yang semakin tebal, menyelimuti jejak Arno. Di kejauhan, lonceng sapi berbunyi nyaring, seperti panggilan gunung.

Dia memungut kantong provisi Arno. Di dalamnya, bukan hanya makanan—ada pisau lipat Swiss Army milik Lukas, dan selembar kertas:

Rania – Partnerin meiner Tapferkeit.
Wenn der Gletscher flüstert… hör zu.

(Rania – Partner keberanianku.
Jika gletser berbisik… dengarkan.)

Dengan pisau Lukas di genggaman dan kabut yang menyelimuti jalur hidupnya, Rania berdiri. Danau Bachalpsee yang tenang menyimpan jawaban—tapi untuk menemukannya, ia harus menerobos kabut.


Glossary:

  1. Grindelwald First: Puncak gunung di Grindelwald, akses via kereta gantung; punya Cliff Walk & Danau Bachalpsee.
  2. Gletscherschlucht: Ngarai glasial dalam (panjang 1km, kedalaman 300m) hasil erosi gletser.
  3. First Cliff Walk: Jembatan kaca menggantung di tebing First, ketinggian 45m.
  4. Birchermüesli: Muesli basah khas Swiss (oat, apel parut, kacang, yogurt/susu).
  5. Zopf: Roti kepang Swiss, tekstur lembut.
  6. Plättli: Irisan tipis daging sapi/veal, dimasak dengan saus.
  7. Alp Käse: Keju keras dari susu sapi penggembalaan Alpen.
  8. Fondue moitié-moitié: Fondue campuran 50% Gruyère (kuat) & 50% Vacherin (lembut).
  9. Eiger Nordwand: Tembok Utara Eiger (±1.800m), jalur pendakian tersulit Alpen.
  10. Striasi: Goresan garis sejajar di batuan hasil gesekan gletser.
  11. Geisterführer: Pemandu hantu (sebutan untuk Arno).
  12. Partnerin meiner Tapferkeit: Partner keberanianku.

Gunung-gunung ini mengajari kita: untuk melihat pantulan kebenaran di danau jernih, pertama-tama kau harus berani menerobos kabut pengabur. Dan terkadang, melepaskan bukan tanda kekalahan—tapi keberanian mempercayai bahwa gletser tahu jalannya sendiri.

Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12