Cerpen: Kota Megah yang Dingin

Kapten Arka merapatkan jaketnya yang berlapis-lapis, mencoba menahan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ekspedisi Antartika ini seharusnya hanya misi pemetaan rutin, tapi radar menunjukkan sesuatu yang mustahil: struktur simetris besar terkubur 20 meter di bawah es.

“Bukan formasi alam,” bisiknya saat timnya mulai mengebor.

Setelah tiga hari kerja keras, mereka masuk melalui lubang sempit. Senter Arka menyapu ruangan luas dengan dinding-dinding halus yang tertutup es kristal. Di tengah ruangan, sebuah piano grand hitam berdiri megah—sempurna, seolah baru saja dikeluarkan dari showroom.

Yang lebih mengejutkan, ketika Arka tanpa sadar menyentuh tutsnya, instrumen itu mengeluarkan suara jernih yang menggema di ruang bawah tanah.

“Tidak mungkin,” kata Dr. Sari, ahli geologi tim. “Kayu seharusnya sudah hancur karena pembekuan dan pencairan berulang.”

Arka memainkan beberapa not secara acak. Piano itu tidak hanya berfungsi, tapi nadanya sempurna. Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Es di dinding mulai retak, mengungkapkan panel-panel dengan simbol aneh yang berpendar biru.

Dr. Sari menarik nafas tajam. “Ini… ini bukan peradaban yang kita kenal.”

Malam itu, di tenda basecamp, Arka terbangun oleh melodi piano yang terdengar dari bawah. Padahal tak seorang pun di sana. Ketika dia kembali ke ruangan bawah es, piano itu sedang “memainkan dirinya sendiri”—tuts bergerak sendiri menciptakan komposisi kompleks yang membuat jantungnya berdebar.

Di depan matanya, proyeksi holografik muncul: pemandangan kota megah dengan arsitektur organik, dihuni oleh makhluk humanoid dengan kulit pucat kebiruan. Mereka sedang bermain musik yang sama.

“Pesan,” bisik Arka. “Ini adalah pesan.”

Tapi sebelum dia bisa memahami lebih jauh, seluruh ekspedisi ditarik paksa oleh markas besar. Dua minggu kemudian, Arka menemukan dokumen klasifikasi tertinggi di laptop komandannya: Proyek “Ice Sonata” telah aktif sejak 1960-an. Mereka sudah tahu tentang piano itu. Mereka tahu itu akan “bernyanyi” lagi.

TAMAT


Istilah:

  1. Humanoid kebiruan: Makhluk mirip manusia dengan karakteristik fisiologis berbeda, sering muncul dalam teori astronomi kuno.
  2. Holografik organik: Teknologi proyeksi cahaya yang menggunakan material biologis sebagai medium.
  3. Pembekuan siklik: Proses alam dimana material mengalami pembekuan dan pencairan berulang, biasanya merusak struktur.