Cerpen: Tangan-tangan yang Menahan Lereng

Gunung Kidang, yang dulu diselimuti hutan lebat, kini lebih mirip tengkorak raksasa yang gundul. Bukit Kapas—anak gunung itu—pun tinggal tanah coklat kering yang retak-retak, debunya beterbangan setiap kali angin berhembus. Di kaki bukit itu, rumah Kakek Marwan berdiri sendirian, bagai benteng terakhir melawan laju tandus. “Dulu, di sini ada mata air,” bisik kakek pada Raka, cucunya yang baru pulang liburan kampus. Tangannya menunjuk lembah gersang. “Kicau burung bisa bikin pagi cerah… Sekarang? Hanya deru truk pengangkut batu.”

Raka menghela napas. Kuliah di kota besar membuatnya asing dengan kampung halaman. Ia datang hanya untuk istirahat, bukan jadi aktivis lingkungan. Tapi Kakek Marwan punya misi: “Kita harus hijaukan kembali Bukit Kapas!” Ia menyodorkan sekarung bibit trembesi. “Dimulai dari kita berdua!” Raka mengerutkan kening. “Kek, satu gunung gundul, kita cuma dua orang. Ini kayak mau mengeringkan laut pakai gayung!” Kakek hanya tersenyum, matanya berbinar keyakinan tua. “Laut tak kering oleh gayung, Nak. Tapi setiap tetesnya berarti.”

Mereka mulai. Pagi-pagi sekali, Kakek Marwan yang ulet menggali lubang, Raka setengah hati menuruti. Debu mengepul, matahari menyengat. Bibit pertama ditanam Kakek dengan doa. Bibit kedua Raka ditanam sambil melirik ponsel. “Kamu galinya dangkal, Nak! Akar nggak akan kuat!” tegur kakek. “Ah, Kek, nanti juga tumbuh sendiri,” balas Raka ringan. Kakek menggeleng, mengoreksi lubang itu. “Menanam itu seperti berjanji pada masa depan. Kalau setengah hati, hasilnya setengah mati.”

Drama pecah ketika PT Bumi Makmur, perusahaan tambang yang menyewa lahan, datang. “Tanaman liar dilarang!” teriak mandornya, Pak Joko, sambil menendang bibit trembesi Kakek. “Ini lahan perusahaan!” Kakek Marwan berdiri tegak meski tubuhnya ringkih. “Lahan kalian bikin kampung kami haus! Lihat sumur-sumur kering itu!” Raka mencoba menarik kakeknya. “Sudah, Kek, nanti kita dianggap penghasut…” Tapi kakek tak mundur. Bibit-bibit itu ia lindungi dengan badannya. Orang-orang desa mulai berkerumun, bisik-bisik ketidakpuasan menggema.

Malam harinya, badai menerjang. Hujan deras pertama di musim kemarau. Raka terbangun oleh gemuruh. “LONGSOR!” teriak seseorang dari kejauhan. Ia berlari ke jendela. Bukit Kapas yang gundul itu luruh seperti pasir, tanah dan batu mengalir deras menuju desa! Rumah paling dekat—kios Bu Surti—tertimbun setengah. Raka membeku. Tiba-tiba, ia ingat Kakek! Ia berlari ke kamar kakeknya—kosong! Hatinya berhenti.

Dengan senter, Raka menerobos hujan dan kegelapan. Di lereng bukit, ia menemukan Kakek Marwan—terjatuh, lumpuh ketakutan, tapi tubuhnya melindungi karung berisi puluhan bibit trembesi terakhir. Tanah longsor mengalir hanya tiga meter dari kakinya! “Kek! Kenapa kau di sini?!” Raka menarik kakek dengan gemetar. “Bibit… bibit ini harus selamat…” desis kakek, napasnya tersengal. “Gila! Nyawa lebih berharga!” Raka hampir menangis. “Kalau bibit ini mati, harapan kita mati!” jawab kakek, matanya berkaca-kaca.

Keesokan pagi, desa gempar. Rumah Bu Surti rusak berat. Tapi yang lebih menghentak: longsor itu berhenti persis di depan pagar Kakek Marwan—di mana puluhan bibit trembesi muda mereka ditanam! Akar trembesi yang ditanam dalam oleh kakek ternyata sudah mencengkeram tanah, memperlambat erosi. Foto “Akar Penyelamat” itu viral di grup WA desa. “Mereka selamatkan kita!” kata Bu Surti, air matanya meleleh. Pak Joko dari PT Bumi Makmur pun datang, wajahnya pucat. “Maafkan kami, Pak Marwan. Kami… keliru.”

Raka tak lagi setengah hati. Dengan semangat baru, ia menggalang aksi via media sosial: #SelamatkanBukitKapas. Ia unggah foto Kakek Marwan yang sakit-sakitan namun nekat menyelamatkan bibit, foto akar trembesi pahlawan, dan video tanah longsor yang mengerikan. Tagar itu menggema. Relawan dari kota berdatangan. PT Bumi Makmur, di bawah tekanan, menyumbang ribuan bibit dan alat.

Tapi klimaksnya adalah pada hari penanaman massal. Ratusan orang—tua, muda, anak sekolah, bahkan mantan penambang—berjejer rapi di Bukit Kapas. Kakek Marwan, duduk di kursi roda, memberi aba-aba lewat toa. “Satu lubang dalam! Satu janji untuk masa depan!” Raka memimpin barisan, sekop di tangannya berdebu tapi hatinya berkobar. Mereka menanam bukan hanya trembesi, tapi juga beringin, jati, dan buah-buahan.

Satu tahun kemudian…
Bukit Kapas tak lagi coklat gersang. Hijau muda menyelimuti bukit, akar-akar muda mulai mencengkeram. Mata air kecil mulai merembes kembali di lembah. Kakek Marwan sudah tiada, tapi di puncak bukit, tumbuh Trembesi Raksasa pertama—ditandai batu nisan sederhana: “Di sini terbaring Marwan. Pejuang yang mengajar kita: satu bibit yang dituluskan, bisa mengubah gurun jadi hutan.”

Raka, yang kini jadi ketua komunitas penghijauan, berdiri di bawah pohon itu. Ia memandang desa yang mulai sejuk, anak-anak bermain di bawah rindang pohon baru. Ia ingat kata-kata terakhir kakeknya:
“Kau pikir kita menanam pohon, Nak? Salah. Kita menanam waktu. Agar anak cucu nanti masih bisa bernapas lega, dan tahu arti kesetiakawanan pada bumi.”

Di kejauhan, Bukit Kapas yang dulu gundul kini berbisik lembut. Setiap daun trembesi yang bergoyang adalah epik kecil—kisah tentang bagaimana kesetiakawanan manusia dan bumi, dimulai dari satu bibit yang hampir mati, tapi diselamatkan oleh kegigihan seorang kakek tua, lalu dirayakan oleh ratusan tangan yang akhirnya sadar:
Menanam pohon bukan cinta pada tanah. Tapi janji pada langit, bahwa kita mau berdamai.

TAMAT