Panik. Kata itu menguasai seluruh diri Rudi saat ponselnya berdering. Seorang anak kecil di UGD Rumah Sakit Harapan membutuhkan transfusi darah segera, dan golongan darahnya langka: AB negatif. Kebetulan, itu golongan darah Rudi. “Saya segera ke sana!” serunya, suara gemetar, tanpa pikir panjang. Dia selalu menghindari jarum, bahkan saat cek kesehatan rutin pun jantungnya berdegup kencang.
Rumah Sakit Harapan berjarak tiga puluh menit. Rudi menyetir seperti orang gila, menerobos lampu merah kuning, klakson dibunyikan tanpa henti. Bayangan jarum suntik besar menghantuinya, tapi bayangan nyawa anak kecil yang mengambang lebih menakutkan. Keringat dingin membasahi punggungnya, napasnya tersengal-sengal. Takikardia, pikirnya samar, mengenali detak jantungnya yang kacau dan terlalu cepat, seperti drum perang di dalam dadanya.
Sesampainya di UGD, suasana kacau. Seorang dokter muda dengan wajah lelah langsung menghampirinya. “Pak Rudi? Terima kasih banyak datang cepat. Pasien kritis, hemoglobin turun drastis. Kami sudah siapkan ruang donor.” Kata-kata dokter itu seperti palu godam. Rudi mengangguk kaku, kakinya terasa seperti batu. Dia dibimbing ke sebuah ruangan kecil dengan kursi donor. Aroma antiseptik menusuk hidungnya, memperparah mual yang sudah menggelora.
Perawat yang ramah mencoba menenangkannya. “Tenang, Pak. Ini prosedur standar. Coba tarik napas dalam.” Tapi tatapan Rudi tertuju pada jarum steril yang mengilat di baki logam. Paniknya memuncak. Napasnya memburu, penglihatannya berkunang-kunang. “Saya… saya tidak bisa!” rengeknya, ingin lari. Bayangan pingsan saat donor sekolah dulu meneror.
“Pak,” suara dokter tadi memecah kepanikannya, lebih tegas sekarang. “Anak itu… anak perempuan. Umurnya baru lima tahun. Tanpa darah segar sekarang…” Dokter itu tak menyelesaikan kalimatnya. Ada sesuatu di matanya—keputusasaan yang dalam. Tiba-tiba, bukan lagi jarum yang Rudi takuti, tapi gambaran anak kecil tak berdosa yang kehabisan waktu. Dia mengerahkan seluruh keberaniannya. “Lakukan!” desisnya, menutup mata rapat-rapat, mengepal tangan hingga putih.
Sensasi dingin alkohol di kulit lengannya. Lalu, tusukan. Rudi menahan napas, tubuhnya kaku. Tapi… tidak seburuk yang dia bayangkan. Hanya sedikit perih. Dia berani membuka mata, melihat selang merah bening terhubung dari lengannya ke kantong darah. Darahnya mengalir, perlahan tapi pasti, mengisi kantong plastik bening itu. Sebuah kelegaan aneh, campur bangga, mulai mengusir rasa takut. Dia menyumbangkan kehidupan.
Dua jam kemudian, setelah kantong darah penuh dan diperiksa kompatibilitas-nya, darah Rudi mengalir ke pembuluh darah anak kecil itu. Rudi menunggu di koridor, kecemasan berganti harap. Dokter keluar, wajahnya masih lelah tapi tersenyum kecil. “Kritis, tapi stabil. Darah Bapak tepat waktu. Kami bisa menstabilkan kondisi sambil menunggu persediaan lebih.” Rudi menghela napas lega, air mata berkaca-kaca. Dia baru saja menyelamatkan nyawa.
Keesokan harinya, dengan hati berdebar, Rudi meminta izin melihat penerima darahnya. Perawat membawanya ke ruang perawatan anak. Di sana, terbaring seorang anak perempuan kecil dengan wajah pucat, tapi napasnya teratur. Di sampingnya, seorang wanita muda yang wajahnya bercucuran air mata memandang Rudi. “Anda… Anda pendonornya?” tanyanya gemetar. Rudi mengangguk. Wanita itu langsung memeluknya erat. “Terima kasih! Terima kasih banyak! Ini putri saya, Salsa.”
Rudi menatap gadis kecil bernama Salsa. Di lengannya, bekas jarum infus terlihat jelas. Tiba-tiba, pandangannya jatuh pada gantungan kunci kecil di tas wanita itu—foto Salsa tersenyum, mengenakan baju renang merah jambu yang sama persis dengan yang dipakai putrinya yang hilang kontak, Laras, lima tahun lalu saat banjir besar. Darahnya membeku. Dia melihat lebih dekat wajah Salsa. Hidungnya yang mancung… matanya yang sipit… seperti istrinya. Sebuah realitas menghantamnya seperti petir. Hemoglobin yang mengalir dari tubuhnya bukan untuk orang asing. Itu mengalir dalam pembuluh darah cucunya sendiri. Air mata Rudi akhirnya tumpah, bukan karena takut lagi, tapi karena keharuan tak terperi. Darahnya, yang dulu dia takuti untuk diberikan, telah mempertemukannya kembali dengan sepotong hatinya yang hilang.
TAMAT