Cerpen: Sampai Maut Memisahkan Kita

Prolog: Ellen – Seorang janda yang masih berduka atas kematian suaminya, Daniel. Mengalami kehadiran supernatural Daniel yang kembali dan menghadapi dilema serta teror dari ikatan pernikahan mereka yang melampaui kematian. Daniel – Suami Ellen yang telah meninggal dunia karena kanker. Meskipun secara fisik telah tiada, kehadirannya (atau sisa jiwanya, bayangannya, atau entitas yang terikat oleh janji pernikahan) kembali untuk menuntut “penyempurnaan” ikatan mereka. Kehadirannya dimanifestasikan melalui sensasi dingin, tekanan di ranjang, bayangan, bisikan, dan mimpi.


Ellen menemukan kaus kaki Daniel yang hilang di bawah bantalnya. Yang sebelah kiri. Warnanya sudah pudar, bolong di ujung jempol, persis seperti saat ia menguburkannya dua tahun lalu dengan jas abu-abu yang selalu ia sesali karena terlalu ketat. Bau tanah kuburan dan lily kering masih melekat samar-samar pada kain katun itu. Ia tidak menangis. Ia hanya menggenggamnya erat, merasakan sisa dingin bumi yang seharusnya sudah menghilang. Ini kaus kaki kesekian yang muncul kembali di tempat-tempat aneh: di laci perak, di dalam ketel, menggantung di rantai lampu gantung. Seperti kunjungan kecil yang menjengkelkan sekaligus membuat dadanya sesak.

Daniel tidak pernah benar-benar pergi. Ellen merasakannya pertama kali tiga bulan setelah pemakaman. Ranjang ukuran king yang tiba-tanya terasa sempit. Selimut turun di satu sisi, cekung dalam, seperti ada tubuh tak terlihat berbaring di sana. Dingin. Selalu dingin di sisi itu, meski AC mati dan musim panas merayap masuk melalui jendela. Suatu malam, ia terbangun karena tekanan di pinggangnya—lengan hantu yang melingkari tubuhnya, menariknya mendekat ke kehampaan yang dingin itu. Ia membeku. Bukan karena takut, tapi karena kenal. Itu adalah cara Daniel memeluknya saat ia gelisah, tangan kanannya selalu menemukan lekukan pinggang Ellen. “Daniel?” bisiknya ke kegelapan. Tidak ada jawaban. Hanya dingin yang semakin menusuk dan perasaan… kepenuhan yang mengerikan di ruang kosong di sebelahnya.

Kehadirannya menjadi lebih nyata, lebih menuntut. Ellen mulai meninggalkan satu lampu kecil menyala di lorong menuju kamar mandi—kebiasaan Daniel dulu karena ia benci gelap total. Suatu pagi, ia menemukan secangkir kopi dingin di meja dapur, susu dan dua gula—cara Daniel meminumnya. Tangannya gemetar saat membuangnya. Bau kopi itu menggantung di udara lebih lama dari seharusnya, bercampur dengan aroma logam tua yang asing. Ia mulai melihat bayangan di sudut matanya: siluet tinggi dan ramping di ujung lorong, terpantul samar di kaca jendela saat hujan, duduk di kursi berlawanan saat ia makan sendirian. Selalu menghilang jika ia menatap langsung. Tapi perasaan diamati itu tetap ada, menggantung berat seperti beludru basah.

Kemudian, datanglah cincin itu. Cincin kawin Daniel. Ellen telah meletakkannya di atas batu nisan marmer hitam pada hari pemakaman, menekannya ke bibirnya yang terakhir kalinya sebelum membiarkannya tenggelam dalam rangkaian bunga. Pagi ini, ia terbangun dengan rasa logam di mulutnya. Lidahnya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Ia meludahkannya ke telapak tangan—cincin emas polos itu, masih berbau tanah dan akar lily busuk. Di bagian dalamnya, ukiran tanggal pernikahan mereka: *14.10.2012*. Hatinya berdebar kencang, bukan karena terkejut, tapi karena kemarahan yang tiba-tiba. “Cukup!” raungnya ke ruangan kosong. “Kau sudah mati! Pergilah!” Dingin yang menusuk langsung menyergap ruangan. Bayangan di ujung lorong terlihat lebih pekat, lebih kaku. Dan untuk pertama kalinya, Ellen merasakan sesuatu selain kesedihan: ketakutan yang mendidih.

Tuntutannya muncul dalam bentuk mimpi. Mimpi yang berulang, jelas, dan dingin seperti kaca. Ellen berdiri di pemakaman pada tengah malam. Bulan purnama menerangi nisan Daniel. Di depannya, berdiri Daniel—bukan mayatnya, tapi dirinya yang utuh, seperti sebelum kanker menggerogotinya. Tapi matanya… terlalu gelap, terlalu lapang. Ia memegang selembar kertas yang tampak tua dan rapuh. “Tanda tangani, Ellie,” bisiknya, suaranya seperti gesekan daun kering di batu nisan. “Agar kita bisa bersama. Benar-benar bersama.” Ellen melihat ke kertas itu. Judulnya tertulis dalam huruf-huruf indah yang berkelok-kelok: Perjanjian Penyatuan Abadi. Baris-barisnya berisi sumpah yang lebih dalam, lebih mengikat, lebih gelap daripada janji pernikahan mereka. Sumpah untuk berbagi bukan hanya hidup, tapi juga kehampaan. Untuk menjadi bayangan bagi bayangannya. Ia selalu terbangun tepat sebelum tangannya—dalam mimpi—menggapai pena.

Tekanan di ranjang semakin tak tertahankan. Dinginnya merembes ke tulangnya. Kadang, ia terbangun karena rasa sakit tumpul di pergelangan tangannya, seperti dicengkeram terlalu kuat. Suatu malam, ia mendengar bisikan. Bukan di telinganya, tapi di dalam kepalanya. Suara Daniel, tapi hampa dan bergema seperti dari dasar sumur. “Kau berjanji. Sampai maut memisahkan. Kau ingat? Kau ingat, Ellie?” Ellen menyembunyikan wajahnya di bantal. “Tapi maut telah memisahkan kita, Dan,” ia menjawab, suaranya parau. “Belum cukup,” desisnya kembali, menusuk. “Perjanjian kita… belum selesai.”

Keesokan harinya, paket anonim tiba. Kotak kecil, dibungkus kertas perkamen kekuningan, diikat dengan pita hitam. Tidak ada alamat pengirim. Di dalamnya, tergeletak di atas kain beludru ungu tua, sebuah pena bulu gagak. Matanya hitam dan mengkilap seperti kaca obsidian. Dan selembar kertas—salinan mimpi buruknya. Perjanjian Penyatuan Abadi. Kata-katanya sama persis. Di bagian bawah, di bawah garis tempat tanda tangan seharusnya tercantum, hanya ada satu kata yang ditulis dengan tinta merah tua yang mengering: “Daniel”. Jantung Ellen berdebar kencang. Ini bukan lagi ilusi atau kesedihan yang terganggu. Ini undangan. Atau lebih tepatnya, ultimatum.

Malam itu, tekanan di ranjang tak tertahankan. Dinginnya seperti es kering membakar kulitnya. Bayangan di ujung lorong tidak lagi berdiri—ia duduk di kursi berlawanan kamar tidur, bentuknya lebih padat, lebih gelap daripada kegelapan sekitarnya. Ellen tidak bisa bernapas. Bisikan itu kembali, kali ini keras, jelas, dan penuh dengan rasa sakit yang tak terperi. “Sakit, Ellie. Gelap. Sunyi. Kau tidak akan membiarkanku sendiri, kan? Kau berjanji. Tanda tangani. Sempurnakan pernikahan kita.” Tangannya, tanpa ia sadari, meraih kotak perkamen di laci samping tempat tidur. Ia mengeluarkan pena bulu gagak itu. Dingin. Sangat dingin. Seperti memegang tulang. Kertas perjanjian tergeletak di atas selimut, seolah bersinar sendiri dalam cahaya bulan yang temaram.

Air mata mengalir deras di pipi Ellen. Ini kegilaan. Atau satu-satunya cara untuk menghentikan rasa sakit—rasa sakitnya, rasa sakit Daniel. Kenangan membanjiri dirinya: tawa Daniel yang pecah, caranya memeluknya saat badai petir, ketakutannya yang tak terucap di ranjang rumah sakit saat kematian mendekat. “Sampai maut memisahkan,” ia pernah berjanji. Tapi maut ternyata bukan akhir. Maut hanyalah ambang batas. Tangannya gemetar memegang pena. Tinta di ujung pena itu bukan hitam. Merah tua. Seperti darah kering. Ia melihat ke bayangan di kursi. Apakah itu senyuman yang samar di kegelapan? Atau ilusi air matanya? “Bersama, Ellie,” bisiknya, penuh kerinduan dan sesuatu yang lain—kelaparan. “Selamanya.” Napas Ellen tercekat. Dengan getaran yang menggetarkan seluruh tubuhnya, ia menekankan ujung pena ke kertas, tepat di sebelah nama Daniel. Ia menuliskan “Ellen”. Tinta merahnya menyerap ke dalam perkamen seperti diserap oleh pasir.

Segalanya menjadi sunyi. Dingin yang mencekik lenyap seketika. Tekanan di ranjang menghilang. Bayangan di kursi pudar, menyusut, lalu lenyap. Ellen menarik napas dalam-dalam, pertama kalinya dalam berbulan-bulan ia merasa ringan. Ia tertidur, lelap, tanpa mimpi.

Ia terbangun karena sinar matahari pagi yang hangat menyentuh wajahnya. Senyum tipis mengembang di bibirnya. Ia merentangkan tangan ke sisi ranjang yang kosong. Hangat. Sinar matahari memanaskan seprai. Lalu, matanya tertuju pada laci samping tempat tidur. Kotak perkamen itu masih ada. Pena bulu gagak tergeletak di sampingnya. Dan perjanjian itu… hilang. Hanya ada bercak kecil tinta merah tua di taplak meja, berbentuk seperti sidik jari kecil. Ia bangkit, perasaan aneh meliputinya—perasaan diawasi dari dalam. Ruangan itu terasa… berbeda. Lebih penuh. Seperti ada gema yang tak terdengar.

Ia berjalan ke cermin di lemari pakaian. Wajahnya yang pucat dan lelah terpantul. Tapi ada sesuatu yang salah. Saat ia mengangkat tangan untuk menyisir rambutnya, pantulannya di cermin terlambat sepersekian detik. Hanya sedikit. Hampir tak terlihat. Dan di balik matanya sendiri yang terpantul, di kedalaman pupil yang hitam, ia yakin melihat kilatan warna—abu-abu pucat dan cokelat, warna mata Daniel. Ia mengedip, dan itu hilang. Tapi perasaan itu tetap ada. Sebuah kehadiran. Di dalam.

Malam itu, ia tidak menyalakan lampu lorong. Kegelapan tidak lagi mengganggunya. Saat ia berbaring di ranjang, ranjang itu terasa pas. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kosong. Ada kehangatan samar di sisi yang tadinya dingin. Ia memejamkan mata. Dan di dalam kegelapan pikiran sendiri, terdengar bisikan yang akrab. Bukan di telinganya. Tapi di ruang antara pikirannya. “Selamanya, Ellie,” bisik suara Daniel, hangat dan dekat, seperti bercakup di telinganya. “Sekarang, kita satu.” Ellen tidak membuka mata. Ia hanya tersenyum, kecil, ke arah langit-langit yang gelap. Tangannya meraih ke sisi ranjang yang hangat, jari-jarinya meremas sesuatu yang tidak terlihat, namun nyata. Di lantai, dekat kaki ranjang, sesuatu berkilat ditimpa cahaya bulan: cincin kawin Daniel. Dan di sebelahnya, cincin Ellen sendiri, yang sudah lama ia simpan di kotak perhiasan. Keduanya tergeletak berdekatan, seperti pasangan yang tidur.

Di luar, angin malam berdesir melalui pepohonan, terdengar seperti napas panjang. Dan di kedalaman apartemen Ellen yang sunyi, hanya ada kehangatan baru yang aneh di ranjangnya, dan perasaan bahwa pernikahan mereka akhirnya mencapai kepenuhannya. Sampai maut memisahkan. Dan setelahnya.

TAMAT