Malam itu, Daniel bekerja lembur sendirian di kantornya di lantai 12. Hujan deras memecah kesunyian gedung perkantoran yang sepi. Ketika lift berbunyi tanpa dipanggil, ia mengira itu hanya gangguan listrik—sampai panel digital menunjukkan angka 13, lantai yang tidak ada dalam denah gedung.
Dengan rasa penasaran bercampur gelisah, Daniel menekan tombol lift. Pintu terbuka dengan perlahan, mengungkapkan koridor tua yang berdebu dengan wallpaper mengelupas tahun 90-an. Bau kopi basi dan asap rokok menyengat—bau yang anehnya membuat Daniel teringat ayahnya yang telah meninggal, seorang workaholic yang sering lembur di gedung ini dua puluh tahun silam.
Di ujung koridor, sebuah meja kerja masih teratur dengan komputer CRT tua yang menyala. Telepon di atasnya berdering. Tanpa berpikir, Daniel mengangkatnya. “Akhirnya kamu datang,” suara di seberang sana membuat darahnya membeku—itu suara ayahnya, persis seperti yang ia ingat. “Aku terjebak di sini sejak 1999. Bantu aku menyelesaikan laporan ini…”
Ketika Daniel menoleh, seluruh ruangan berubah—komputer modern berganti mesin ketik manual, kalender di dinding menunjukkan tanggal 15 Juli 1999, hari ayahnya terkena serangan jantung di kantor. Di meja, berkas-berkas laporan keuangan dengan catatan mencurigakan tentang penggelapan dana perusahaan—sama persis dengan kasus yang sedang Daniel selidiki sekarang di divisi audit.
Tiba-tiba, telepon berdering lagi. Kali ini suara ayahnya berbisik panik: “Mereka tahu kau di sini. Pergi sekarang!” Lampu mulai berkedip, dan Daniel melihat tiga bayangan asing mendekat dari ujung koridor—siluet yang mirip dengan direktur perusahaan tempatnya bekerja sekarang, tapi dengan penampilan dua puluh tahun lebih muda.
Daniel berlari ke lift, tapi pintunya tidak mau terbuka. Dari celah pintu, ia melihat jam dinding berputar mundur dengan cepat, berhenti di pukul 03.15—waktu kematian ayahnya tercatat di sertifikat kematian. Bau obat jantung menyengat tiba-tiba memenuhi ruangan.
Ketika Daniel membuka matanya, ia kembali di lantai 12. Komputernya menampilkan dokumen anonim yang baru saja terkirim—scan laporan keuangan tahun 1999 dengan cap “DIBATALKAN” berwarna merah, dan satu baris pesan: “Mereka masih berkuasa. Buktikan apa yang terjadi padaku.”
Keesokan harinya, Daniel menemukan arsip lama tersembunyi di ruang server: rekaman CCTV tanggal 15 Juli 1999 yang menunjukkan ayahnya menerima ancaman telepon sebelum kolaps. Yang membuat bulu kuduknya berdiri—tiga orang di rekaman itu adalah para petinggi perusahaan tempat ia bekerja sekarang, masih mengenakan dasi yang sama seperti yang ia lihat di bayangan tadi malam.
Sekarang, setiap kali hujan turun di malam hari, lift di kantor Daniel selalu berhenti sebentar di lantai 13—seolah menunggu seseorang yang berani melanjutkan apa yang tidak sempat diselesaikan dua dekade lalu. Dan di laci mejanya, selalu ada kopi hitam yang masih hangat, meski tak ada seorang pun yang mengantarnya.
TAMAT
*CCTV pertama kali digunakan untuk publik di Indonesia sekitar tahun 1995, namun penggunaannya masih terbatas pada gedung perkantoran. Peningkatan penggunaan CCTV secara signifikan terjadi setelah kerusuhan Mei 1998.