Cerpen: Pulih dalam Glitch

00:03:17 AM. Waktu yang terpampang besar di pojok kanan bawah kacamata AR (Augmented Reality) Nadira (29), programmer keamanan digital. Kantor sepi. Hanya bunyi dengung server dan napasnya sendiri yang terdengar. Dia baru saja memecahkan kode enkripsi terakhir untuk proyek rahasia “Sentinel” – sistem pertahanan siber baru perusahaan. Seharusnya ini momen kemenangan. Tapi jarinya membeku di atas keyboard.

Di layar utama, di antara baris-baris kode yang berkelap-kelip hijau, sebuah pesan aneh muncul, bukan dari log sistem:

USER_NDR: AKU TAHU YANG KAU LAKUKAN DI LABORATORIUM MALAM ITU. DATA PALSU ITU TAK AKAN SELAMATKAN MEREKA. MATAMU TAK BISA BOHONG.

Darah Nadira mendadak dingin. Malam itu? Maksudnya insiden tiga bulan lalu? Saat dia memang menyusupkan data palsu ke database Sentinel untuk melindungi whistleblower? Tidak ada yang seharusnya tahu! Dia menghapus semua jejak. Bahkan AI pemantau tidak mendeteksi.

Bzzzt! Kacamata AR-nya bergetar keras. Sebuah notifikasi pribadi melayang di bidang pandangnya, dari kontak bernama “????”:

“Lihat ke jendela kontrol server. Sekarang.”

Nadira memutar kursinya dengan kaku. Ruang server di balik dinding kaca itu gelap. Tapi saat dia menatap, sebuah sosok siluet tinggi tiba-tiba muncul, berdiri tepat di depan panel utama. Cahaya darurat merah menyorotnya samar. Sosok itu mengenakan kacamata AR persis seperti miliknya. Dan… dia mengangkat tangan, memberi isyarat “Hai” yang mengerikan.

“Tidak mungkin…” Nadira terhenyak. Akses fisik ke ruang server level itu hanya dimiliki tiga orang, termasuk dirinya. Dan mereka semua sudah pulang!

Dia meraih ponsel darurat di pinggang. Mati. Baterai 0%. Padahal tadi 80%. Dinginnya menjalar lebih dalam. Mereka meretas perangkatnya.

Layar komputer utama tiba-tiba glitch, berganti menjadi cermin real-time. Wajah pucat Nadira terpantul. Tapi bukan itu yang membuatnya nyaris berteriak. Di belakang bayangannya di layar, sosok siluet itu masih berdiri! Padahal, saat dia menoleh cepat ke ruang server asli… kosong! Tidak ada siapa-siapa di balik kaca!

Pesan baru di AR: “Kau pikir kode-kode itu bentengmu? Tubuhmu adalah antarmuka termudah diretas. Sensor pupilmu mencatat ketakutanmu. Detak jantungmu mengkhianatimu. AKU DISINI. DALAM SISTEM. DALAM PERANGKATMU. DALAM MATAMU.”

Nadira mencabut kacamata AR-nya seperti benda panas. Tapi begitu dia melepasnya, lampu-lampu di ruangannya padam total. Hanya layar komputer yang masih menyala, memancarkan cahaya hantu. Di layar itu, sebuah avatar digital yang menyerupai dirinya sendiri, tapi dengan senyum lebar yang tidak wajar, mulai mengetik dengan cepat, mengakses folder rahasia Sentinel.

“TIDAK!” Nadira menerjang ke depan, mencabut kabel data utama dengan kasar. Layar padam. Kegelapan total menyergap.

Napasnya tersengal-sengal. Dalam gelap, dia mendengar… suara langkah pelan. Mendekat dari arah koridor. Bukan langkah biasa. Lebih seperti dragging, diselingi bunyi logam kecil berdecit. Siapa… atau apa itu?

Dia meraba-raba laci meja, mencari senter atau senjata apa pun. Jari-jarinya menyentuh benda logam dingin – pemutus arus cadangan. Tanpa pikir panjang, dia menyodok tuasnya ke atas.

BRRZZZZZT! Lampu menyala berkedip-kedip. Generator darurat hidup.

Dan di depan pintu ruangannya, berdiri seorang petugas kebersihan robot, model lama. Matanya berupa sensor merah yang redup. Tapi di layar kecil di dadanya, bukan logo perusahaan yang muncul, melainkan dua kata dalam font digital menyeramkan:

FOUND YOU.

Robot itu mengangkat lengan pembersihnya. Bukan untuk menyapu. Sebuah laser pointer kecil di ujungnya menyala, titik merah kecil tepat mengenai jantung Nadira.

Pesan terakhir berkedip di ponsel mati yang tiba-tiba hidup sendiri, suaranya terdengar parau melalui speaker rusak: “Antarmuka fisik lebih… menyenangkan untuk dihancurkan. Selamat berjuang, Nadira. Permainan baru saja dimulai.”

Robot itu melangkah maju. Nadira mundur, punggungnya menempel dingin ke dinding server. Siapa dalangnya? Hacker kompetitor? Mantan kolega yang dendam? Atau… sesuatu yang lebih dalam, terkait proyek Sentinel dan data yang dia sembunyikan? Dia harus bertahan. Bukan hanya untuk hidupnya, tapi untuk rahasia yang bisa menghancurkan banyak orang. Pertarungan di dunia nyata, dimulai dari peretasan di dunia maya, kini menyentuh ruangannya. Dan lawannya bermain sangat sangat kotor.

TAMAT