Lantunan gending Jawa mengalun sayup dari lembah ketika Dimas tiba di perbatasan desa. Bau melati dan tanah basah menusuk hidungnya—aroma yang sama seperti malam ia pergi sepuluh tahun silam. Di tangannya, tas kulit usang berisi manuskrip kuno peninggalan eyangnya, halaman-halamannya penuh dengan simbol sulur yang hanya bisa dibaca saat bulan purnama.
Mbok Darmi, penjaga pintu desa, mengenalinya seketika. “Kau membawa pulang lebih dari sekadar buku tua, Nak,” bisiknya sambil menatap bayangan ketiga yang mengikuti langkah Dimas—sesosok figur tanpa wajah yang berjalan seirama dengannya. Lentera minyak di gubuknya tiba-tiba padam meski tidak ada angin.
Rumah tua eyangnya masih berdiri, tapi sekarang dihuni oleh Sri, adik kelasnya dulu yang kini jadi dukun desa. “Aku menjaga tempat ini untukmu,” ujarnya sambil menyapu debu dari meja kayu tempat mereka dulu belajar menulis mantra. Di dinding, jam dinding eyang masih berdetak—terhenti tepat pada pukul tiga, waktu kematian sang empu.
Malam itu, saat bulan tepat di zenith, Dimas membuka manuskrip di tengah lingkaran api unggun. Sri mengumandangkan kidung pembuka, suaranya bergetar mengikuti irama yang tidak ditulis di buku mana pun. Tiba-tiba, tinta di halaman-halaman mulai bergerak sendiri, membentuk diagram baru—sebuah peta menuju gunung di utara desa.
“Eyang tidak mati karena sakit,” bisik Sri sambil menunjukkan tapak darah di halaman terakhir. “Dia pergi ke Gunung Lanang untuk menyegel sesuatu… dan gagal.” Angin malam berbisik membawa suara gamelan jauh, memainkan gending yang hanya dikenal oleh para arwah.
Di kaki Gunung Lanang, mereka menemukan pintu batu dengan ukiran mirip diagram di manuskrip. Darah Dimas—keturunan langsung sang empu—membuka portal itu. Di dalam, bukan harta yang mereka temukan, melainkan pusaka berbentuk keris tanpa bilah, hanya sarungnya saja. “Ini bukan senjata,” gumam Dimas, “tapi kunci.”
Ketika ayam jantan berkokok, desa mereka berubah. Rumah-rumah yang sempat hancur dalam peristiwa aneh sepuluh tahun lalu kini utuh kembali. Di kuburan eyang, batu nisan baru muncul dengan tulisan: “Di sini terbaring Mbah Suro, yang mengorbankan diri untuk menunda apa yang tidak bisa dihentikan.”
Kini, Dimas dan Sri duduk berhadapan di pendopo setiap malam Jumat Kliwon. Di antara mereka, keris kosong itu bersandar di atas kain mori. “Kita hanya punya satu siklus bulan lagi,” bisik Sri sambil menatap langit. Di kejauhan, gending Jawa kembali terdengar—kali ini lebih keras, seolah dimainkan oleh tangan-tangan yang tidak lagi menyembunyikan diri.
TAMAT
Zenith: Titik tertinggi di langit yang tepat berada di atas pengamat