Di sudut kota kecil yang sepi, hiduplah seorang tunanetra bernama Arman. Setiap pagi, ia duduk di teras rumahnya yang reyot, tangan kanannya menggenggam pensil, sedangkan tangan kirinya meraba-raba kertas tebal di depannya. Orang-orang yang lewat sering kali mengerutkan kening, heran melihatnya “menggambar” meski tak bisa melihat. Tapi Arman tak peduli. Baginya, dunia tak hanya dilihat dengan mata, tapi juga dirasakan dengan jiwa.
Suatu hari, seorang kurator galeri bernama Rina datang ke desa itu untuk berlibur. Ia mendengar kabar tentang Arman dan penasaran. Ketika ia melihat salah satu gambar Arman, napasnya tersendat. Itu adalah pemandangan desa dengan jembatan kayu dan bukit di kejauhan—persis seperti foto hitam-putih tahun 1950 yang pernah ia temukan di arsip kota.
“Bagaimana kau bisa menggambar ini?” tanya Rina, suaranya bergetar.
Arman tersenyum tipis. “Aku mendengarnya.”
Rina bingung. “Mendengar pemandangan?”
“Setiap tempat punya suaranya sendiri,” jawab Arman. “Angin yang berbisik di antara daun, gemericik air di sungai, bahkan derit kayu jembatan tua. Semuanya bercerita padaku.”
Rina terpana. Ia segera menyadari bahwa Arman bukan sekadar tunanetra yang berbakat—ia mungkin memiliki hyperesthesia, kemampuan indra yang luar biasa tajam. Tapi yang lebih mengherankan, beberapa detail dalam gambarnya bahkan tidak ada lagi di desa itu, seperti pohon beringin raksasa yang sudah tumbang puluhan tahun lalu.
Desas-desus pun menyebar. Warga berduyun-duyun datang melihat karya Arman, dan beberapa orang tua mengenali tempat-tempat yang sudah lama hilang. Seorang kakek bahkan menangis saat melihat gambar rumah masa kecilnya yang telah hancur diterjang banjir.
Namun, ketenaran Arman menarik perhatian yang tidak diinginkan. Seorang kolektor kaya bernama Anton Wijaya mendatangi desa, menawarkan uang dalam jumlah besar untuk semua lukisan Arman. Tapi Arman menolak. “Ini bukan untuk dijual,” katanya.
Anton tidak terima. Malam itu, sekelompok orang menyusup ke rumah Arman, berusaha mencuri gambarnya. Tapi ketika mereka masuk, sesuatu yang aneh terjadi. Kertas-kertas itu bersinar samar, dan bayangan di dinding bergerak sendiri, seakan hidup. Para pencuri itu kabur ketakutan, bersumpah melihat hantu-hantu masa lalu muncul dari gambar-gambar itu.
Keesokan harinya, seluruh desa gempar. Rina datang menemui Arman dengan pertanyaan yang membara: “Apa sebenarnya yang terjadi?”
Arman menghela napas. “Aku tidak hanya mendengar suara tempat ini—aku juga merasakan echo of time, gema waktu yang tertinggal. Setiap kali aku menggambar, aku seperti menyentuh masa lalu.”
Rina terdiam, lalu tersenyum. “Kau bukan hanya seniman, Arman. Kau adalah penjaga memori desa ini.”
Sejak itu, karya Arman dipamerkan di galeri khusus, bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai warisan. Orang-orang berdatangan, bukan untuk membeli, tapi untuk mengingat. Dan di tengah keramaian, Arman tetap duduk di terasnya, menggambar dengan tenang, menyimpan cerita-cerita yang hampir terlupakan dalam setiap goresannya.
TAMAT
Istilah:
- hyperesthesia (indra super tajam)
- echo of time (gema waktu)