Rudi, mahasiswa KKN dengan semangat membara setinggi Semeru, ngotot mau “menghijaukan” Gang Delima. “Penghijauan bukan cimat, Mas!” pekiknya ke Pak Broto, ketua RT yang lagi asyik nyeruput kopi sambil duduk di kursi plastik. Ide Rudi? Menanam puluhan bibit pohon buah di sepanjang gang sempit itu. “Bayangin, Pak! Mangga, jambu, nangka… gratis! Udah sejuk, bisa panen!” Pak Broto nyemprotkan kopinya. “Ndasmu ndek! Di gang sempit ini, motor aja saling gesek, apalagi pohon!”
Seminggu kemudian, Gang Delima jadi ajang pertempuran tanah. Rudi dan kawan-kawannya, berseragam kaos “Save The Earth”, mati-matian gali lobang di depan pagar warga. Pak Broto geleng-geleng lihat bibit segede lidi itu. “Itu pohon apa tongkat penyangga antena, Rud?” tanya Bu Lastri sambil jemur pakaian, hampir kesangkut sekop. Bibit-bibit itu ditanam pas di tepi jalan, persis di jalur favorit bocah-bocah main sepeda dan tukang bakso lewat. “Santai Bu, nanti juga tumbuh!” sahut Rudi penuh keyakinan.
Dua bulan berlalu. Bibit-bibit “lidi” itu menjelma jadi monster mini. Akar mangga Arumanis Bu Lastri nyembul retakin paving block, bikin jalannya jadi trek off-road. Pohon jambu air depan rumah Pak Joko tumbuh miring 45 derajat, nyandera kabel listrik, daunnya jadi tirai alami buat jemuran handuk dalam Bu Surti – yang protes karena handuknya “dikepruk” burung. Tapi puncaknya adalah pohon nangka. Bibit kecil Rudi itu tumbuh supernaturally cepat, buah nangka mungilnya tumbuh persis di ketinggian jidat orang lewat. “Bahaya! Itu ranjau tengkorak!” teriak Pak Broto.
Perang terbuka pecah saat musim buah tiba. Mangga Bu Lastri berjatuhan, bukan saat ranum, tapi pas masih keras seperti peluru kendang. Seorang sales obat nyamuk kena “tembak” mangga di bahu, teriak “Penjaraaah!” sampai lari terbirit-birit. Bu Surti kesandung akar jambu waktu buru-buru tarik jemuran gara-gara ujan mendadak, jatuh telentang di atas tumpukan handuk. Yang paling kacau: nangka jebol. Buah nangka “ranjau tengkorak” itu, entah diganggu tupai atau emang waktunya, jatuh pas Pak Broto lagi pidato soal gotong royong. Bruk! Langsung mengenai gentong air plastik. Air plus potongan nangka mentah muncrat ke mana-mana. “GUBRAK! SIAPA YANG TANAM BOM DI GANG INI?!” raung Pak Broto, wajahnya belepotan getah nangka.
Gang Delima jadi medan perang warga. Bu Lastri pengen tebang mangganya yang merusak jalan. Pak Joko pengen gergaji pohon jambu “mesum” yang ganggu kabel dan jemuran. Bu Surti malah nawarin ganti rugi handuk dalam yang “dikepruk”. Sementara Pak Broto, masih ada sisa getah nangka di kuping, ngadang Rudi yang coba kabur. “Ndek! Ini buah tanganmu! Selesaikan!” Rudi, yang dulu semangatnya membara, kini terlihat seperti bibit layu. “Maaf Pak… saya kira… pohon itu bakal nurut…”
Solusinya? Operasi Pindah Pohon Gila-gilaan. Dengan dana patungan warga (plus uang saku Rudi yang disita), pohon-pohon “nakal” itu dipindah ke pinggir kali kecil dekat gang yang lebih longgar. Prosesnya komedi murni. Pohon nangka harus diangkat pakai derek sewaan mini, buahnya yang baru tumbuh dibungkus kain seperti bayi prematur. Akar mangga Bu Lastri nyangkut di paving, ditarik pakai tali dan teriak “Heave ho!” ala pelaut. Tukang becak ngumpul jadi penonton, jualan kacang rebus. “Ini lebih seru dari sinetron, Bro!” sahut salah satunya.
Satu tahun kemudian, pinggir kali itu jadi Taman Rujak Delima. Pohon-pohonnya berbuah lebat. Warga Gang Delima, yang dulu ribut, sekarang kompak jaga taman. Bu Lastri jadi ahli rujak mangga muda. Pak Joko jualan jambu air dingin. Bu Surti malah senang karena jemurannya aman, dan handuk dalamnya tak ada yang kepruk. Pak Broto, walau kadang masih geleng-geleng, sering duduk di kursi plastiknya di bawah pohon nangka yang kini aman.
“Rudi, pohon itu kayak orang,” katanya suatu sore sambil kecipak-kecipuk makan rujak. “Nggak bisa cuma ditanam, ndek. Harus diarahin, dikasih tempat yang bener… kalo nggak, ya perang rujak kayak dulu!” Rudi cuma bisa nyengir, sambil ngeliat anak-anak manjat pohon jambu dengan aman. Hijau-hijauan emang bagus, tapi efek sampingnya? Bisa bikin satu gang kompak… setelah perang rujak dulu!
TAMAT