Anggun menatap cincin berlian itu, yang memantulkan cahaya lampu restoran mewah. Itu adalah simbol dari segala hal yang telah dia capai dan perjuangkan: stabilitas, pengakuan, dan cinta yang tenang tanpa badai. Raka, pria di seberang meja, tersenyum lembut. Matanya penuh kepastian, sebuah kepastian yang seharusnya menenangkan jiwa Anggun yang dulu selalu gelisah. Tapi justru di momen yang seharusnya paling bahagia ini, sebuah bayangan hitam dengan mata yang membara dan senyum mencibir mengintip dari balik jendela refleksinya, mengacaukan segala ketenangan yang baru saja dia raih.
Bayangan itu bernama Dika. Dia adalah mantra lama, sebuah puisi yang ditulis dengan darah dan air mata, yang lekuk-lekuknya masih melekat di ujung jari Anggun. Hubungan mereka selama tiga tahun adalah sebuah rollercoaster yang dibakar bensin murni—penuh gairah, teriakan di tengah malam, dan rekonsiliasi di bawah hujan yang membuatnya merasa paling hidup, sekaligus paling hancur. Dika adalah badai yang merontokkan semua daun, sementara Raka adalah matahari yang meneduhkan setelahnya.
“Katakan ya, Sayang,” bisik Raka, tangannya yang hangat menutupi tangan Anggun yang tiba-tiba dingin. Suaranya seperti mantra penenang, sebuah janji akan kehidupan yang mudah dan terprediksi. Sebuah kehidupan di mana tidak ada piring yang terbang, tidak ada kata-kata pedih yang diucapkan untuk saling melukai, dan tidak ada kecemburuan yang menggerogoti. Tapi apakah “mudah” adalah sinonim dari “bahagia”? Pertanyaan itu berdenyut di pelipis Anggun seperti migrain yang tak sudi pergi.
Pikirannya melayang ke malam seminggu yang lalu, ketika dia secara tak sengaja bertemu Dika di sebuah galeri seni. Dia masih sama, berantakan namun memesona, berdiri di depan sebuah lukisan abstrak yang penuh coretan merah menyala. “Lukisan ini mengingatkanku padamu,” katanya, tanpa salam, seolah waktu tidak pernah memisahkan mereka. “Lihat kekacauan ini. Indah, tapi menyakitkan untuk dilihat terlalu lama.” Dan Anggun tahu, dia tidak hanya membicarakan lukisan itu.
Malam setelah pertemuan itu, Dika mengiriminya sebuah lagu lama yang dulu selalu mereka putar. Melodi itu membawa Anggun kembali ke masa di mana cinta terasa seperti pertarungan, di mana setiap hari adalah misi untuk membuktikan siapa yang lebih mencintai, siapa yang lebih menderita. Dengan Raka, semuanya berbeda. Cinta mereka bukan pertarungan, melainkan kemitraan yang damai. Tapi kadang, kedamaian terasa terlalu sunyi, menunggu sebuah teriakan untuk menguji ketahanannya.
“Apakah kamu yakin kamu mencintaiku,” tanya Anggun tiba-tiba pada Raka, suaranya bergetar hampir tak terdengar, “atau kamu hanya mencintai ide-ku? Ide tentang seorang wanita berkarier cemerlang, mandiri, dan tidak merepotkan?” Raka terkejut, senyumnya pudar. Dia tidak mengerti dari mana pertanyaan itu datang. Dia tidak akan pernah bisa memahami bahwa pertanyaan itu lahir dari tatapan Dika yang selalu melihatnya bukan sebagai sebuah “ide”, tetapi sebagai sebuah “kekacauan” yang sempurna—kekacauan yang sangat dirindukan Dika.
Dika tidak pernah memberinya janji. Yang dia berikan adalah pengakuan mentah. “Aku rusak, dan kau juga,” katanya suatu malam, lama sekali. “Kita cocok karena kita sama-sama tahu bagaimana caranya saling menyakiti dan memaafkan.” Itu adalah pengakuan yang jujur dan beracun. Sementara Raka menjanjikan istana yang tak pernah retak, sebuah fantasi yang justru membuat Anggun merasa seperti penipu. Dia merasa tidak secantik dan setenar itu di dalam hati.
“Cintaku padamu tulus, Anggun,” jawab Raka akhirnya, matanya berbinar kebingungan dan sedikit terluka. “Aku mencintaimu karena kau kuat, tapi juga lembut. Karena kau tahu apa yang kau mau. Aku tidak mencintai ‘ide’-mu. Aku mencintai kamu.” Kata-katanya sempurna, seperti yang selalu diucapkannya. Dan itulah masalahnya. Kata-kata Dika tidak pernah sempurna. Kata-katanya kasar, tidak terfilter, dan karena itulah terasa lebih nyata.
Teleponnya bergetar. Sebuah pesan dari Dika muncul: “Aku di luar. Aku tahu ini egois. Tapi katakan padaku untuk pergi, dan aku akan pergi untuk selamanya. Atau, keluar.” Anggun menatap pesan itu, dan dunianya runtuh dalam diam. Ini bukan lagi tentang memilih pria yang baik atau pria yang jahat. Ini adalah pertarungan antara dua versi dirinya sendiri: siapa Anggun yang sebenarnya? Perempuan yang menginginkan kedamaian, atau perempuan yang merindukan badai?
Dia memandangi Raka, pria yang telah membangunkaninya dari mimpi buruk hubungannya dengan Dika. Dia melihat kebaikan, kesetiaan, dan masa depan yang cerah di matanya. Lalu dia melihat keluar jendela, melihat siluet Dika yang bersandar pada motor tuanya, menantang. Dia melihat gairah, kebenaran yang menyakitkan, dan sebuah kehidupan yang sepenuhnya hidup, dengan segala risikonya. Kedua pilihan itu terasa seperti pengkhianatan—pengkhianatan terhadap akal sehat, atau pengkhianatan terhadap jiwa.
Dengan napas terengah, Anggun melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Aku… aku butuh udara,” bisiknya, suaranya parau. Dia berdiri, dan langkahnya menuju pintu restoran terasa seperti berjalan di atas kaca. Setiap langkah adalah iringan untuk sebuah lagu yang dia tahu bisa menjadi soundtrack kebangkitan atau kehancurannya. Dia tidak tahu apakah ini pilihan yang salah atau benar. Yang dia tahu, ketika dia mendorong pintu kaca itu dan angin malam menerpanya, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dia merasa benar-benar ada.
TAMAT