Hujan deras awal tahun menyiram jendela kosan Rani, memecah kesunyian larut malam. Matanya merah menatap laptop—Call Ended. Lagi-lagi. Layar Zoom menampilkan wajahnya sendiri yang pucat, sementara sisi Arya gelap gulita. “Gangguan jaringan,” pesan terakhirnya 30 menit lalu, disusul senyap.
Jam dinding berdetak seperti bom. Rani menggigit bibir. Ini minggu ketiga Arya tiba-tiba menghilang saat video call. Awalnya ia percaya: tugas dadakan, mati lampu, kuota habis. Tapi malam ini, firasatnya mengeras. Ada yang salah.
HP-nya bergetar. Bukan Arya.
Adik: “Ran, Arya barusan nelpon rumah cari kamu! Darurat katanya! Cepet balik!”
Dingin mengalir di tulang punggung. Rumah? Arya tahu orang tuanya di kampung tak punya HP. Dan kenapa ke sana?
Rani: “Apa katanya?!”
Adik: “Suaranya terputus-putus… ‘Rani jangan pulang… bahaya…’ terus putus.”
Jangan pulang? Bahaya? Napas Rani tersekat. Kacanya berkabut. Ia mencoba video call Arya—declined. Pesan WhatsApp dikirim—1 centang. Arya sengaja memutus kontak.
Pintu kosan diketuk kasar. Rani menjerit kecil.
“Ibu Kos, Rani! Buka! Ada yang kirim paket darurat!”
Suara Ibu Kos gugup. Rani membuka pintu, tangan gemetar.
Di luar, Ibu Kos memegang kardus basah terguyur hujan. Tak ada alamat pengirim. Hanya stiker merah bertuliskan: “UNTUK RANI. JANGAN DIBUKA SENDIRI.”
“Siapa yang antar, Bu?” tanya Rani suara bergetar.
“Laki-laki pakai hoodie hitam… lari cepat begitu liat aku,” jawab Ibu Kos ketakutan.
Kardus itu ringan. Tapi getaran jahat seolah merambat dari dalamnya. Rani membawanya ke meja, pisau cutter di tangan. Apa isinya? Surat ancaman? Barang Arya yang hilang?
HP berdering lagi.
Unknown Number.
Ia mengangkat. Sunyi. Lalu… suara napas berat.
“Jangan buka kotaknya…” bisik suara serak yang tak dikenali.
“Siapa ini?!” teriak Rani.
“Arya dalam bahaya. Mereka tahu kau pacarnya. LARI SEKARANG—”
Jendela kamar pecah berantakan! Batu sebesar kepalan tangan terjungkal di lantai—dilibat kertas bertuliskan: “DIAM ATAU MATI.”
Rani menjatuhkan telepon. Ini bukan gangguan sinyal. Ini nyata. Arya diculik? Dihabisi preman? Ia menatap kardus itu, darahnya mendidih. Apa pun isinya, ini petunjuk.
Dengan nekat, ia menyobek lakban kardus.
…Kosong.
Hanya ada satu benda: Kartu Perpustakaan Arya yang hilang 3 bulan lalu.
Plak!
Kartu itu jatuh dari tangannya. Kenapa dikirim sekarang? Kenapa dengan ancaman? Apa arti—
Laptopnya menyala tiba-tiba. Layar Zoom terbuka sendiri.
ARYA ADA DI SANA.
Wajahnya lebam, mata sembap. Latar belakang gelap. Ia terisak: “Rani… maafin aku… aku udah bobol tabungan kita… 20 juta… buat bayar utang judi…”
Rani membeku. Judiiiii?
“Tapi mereka nggak terima… mau lebih…” Arya tercekik. “Mereka suruh aku jebak kamu… bilang ada bahaya biar kamu pulang kampung… trus mereka culik kamu di jalan buat tebusan…”
“KARET KARDUS ITU DIPASANG GPS!” Arya menjerit tiba-tiba. “LARI RAN! MEREKA DA—”
BLACK SCREEN.
Rani terduduk. Dunia berputar. Pacarnya. Utang judi. Pengkhianatan. GPS di kardus…
HP-nya berbunyi lagi.
Arya: “Link Zoom error tadi, Ran! Aku di warteg. Sinyal hujan gini ampas. Masih online?”
Rani memandang kosong ke layar. Pesan itu… baru masuk.
Ia pelan-pelan menoleh ke kardus yang masih terbuka. Kartu perpustakaan Arya… yang ia temukan seminggu lalu di tas lama dan ia simpan di laci.
Dan telepon “Arya” dari “warteg”… persis seperti suara adiknya yang bisa meniru suara siapapun.
Dinginnya bukan lagi dari hujan.
Dia membuka WhatsApp, mengetik ke grup keluarga:
“Siapa yang pakai HP Bapak malam ini?”
Balasan datang 10 detik kemudian:
Bapak: “HP Bapak ketinggalan di kantor sejak siang. Kenapa?”
Rani menatap kardus kosong, lalu jendela yang pecah. Batu itu… bentuknya mirip batu pemberat jemuran yang biasa dipakai adiknya.
Tiba-tiba, teleponnya berdering.
Adik: “Ran… jangan marah ya… aku cuma takut kamu nggak pulang liburan semester ini… aku kangen…”
Di latar belakang suara adiknya, terdengar suara Ibu Kos tertawa : “Dasar si Adik usil! Kubilang jangan nakut-nakuti kakak!”
Rani menutup mata.
Bahaya yang paling nyata, ternyata bukan dari preman atau pacar penghianat…
Tapi dari kampung halaman yang terlalu rindu.
TAMAT