Cerpen: Koridor Tunggu

Setiap sekolah punya sudut mati. Milik kami adalah Lorong 7, koridor sempit di belakang lab kimia yang baunya menyengat dan lampunya selalu berkedip. Dulu, aku, Nina, hanya lewat sini kalau terpaksa. Sampai suatu hari aku melihat Pak Romi—petugas kebun yang pendiam—menyemprotkan sesuatu bukan ke tanaman, tapi ke udara kosong dekat pintu darurat. Seperti menyiram hantu. Esoknya, Bu Siska jatuh dari tangga persis di titik itu. Kata orang, ia terpeleset oli. Tapi aku ingat bau minyak dari semprotan Pak Romi. Dan aku tahu: Lorong 7 bukan sekadar koridor. Ia adalah ruang tunggu untuk hal-hal yang belum terjadi.

Aku direkrut seminggu kemudian. Klub Pemelihara Waktu Tunggu, ekskul tanpa pengumuman, tanpa daftar nama di mading. Anggotanya hanya lima orang, termasuk aku. Pak Romi, yang ternyata koordinator, memberi tugas pertama: merapikan “Antrian C”. Di Lorong 7, peristiwa antri dengan kode huruf. “C” untuk Cemas—kejutan pop quiz, pengumuman pemotongan jam istirahat, hal-hal yang bikin deg-degan. Pak Romi menyerahkan alat berbentuk pipa logam dingin. “Arahkan ke titik yang bergetar,” bisiknya. “Rapikan barisannya. Jangan sampai saling serobot.” Aku mengulurkan tangan, pipa itu bergetar sendiri ke arah sudut kiri. Di sana, udara berkerut seperti panas aspal, berdesis pelan.

Minggu-minggu berlalu dengan ritual aneh: mengatur kepadatan antrian “B” (Bahagia—pesta ulang tahun guru, pembagian beasiswa), menenangkan antrian “M” (Marah—perkelahian, protes siswa), bahkan sesekali mengusir “antrean liar” yang mencoba menyusup—peristiwa dari sekolah lain yang tersesat. Aku belajar merasakan tekstur waktu: “U” (Ujian) terasa berat dan berdebu, “G” (Galau) lembap seperti kabut. Yang paling sulit adalah “K” (Kehilangan). Ia dingin menusuk, dan cenderung merayap ke antrian lain, mengontaminasi. Saat ujian midterm, aku harus memisahkan gumpalan “K” yang mencengkeram antrian “U”. Tanganku gemetar. Dinginnya tinggal di tulang sampai tiga hari.

Semakin mahir, semakin aku tahu sesuatu salah. Anggota klub lain, terutama yang senior seperti Ruslan, mulai terlihat… tipis. Seperti kertas kalkir. Suatu sore, saat kami menunda peristiwa kebocoran atap di antrian “R” (Rusak), Ruslan tersandung. Tangannya menembus dinding beton seperti bayangan. “Jangan lama-lama di sini, N,” katanya cepat, menarik lengannya yang nyaris transparan. “Kita cuma penjaga sementara.” Malam itu, aku menyelinap ke lorong. Di balik pintu darurat, ada ruang kecil berisi buku besar bertulisan “Daftar Tunggu Abadi”. Halamannya penuh nama anggota klub—termasuk Pak Romi dan Ruslan—dengan stempel “DILAYANI”. Tanggalnya bertuliskan hari mereka bergabung.

Hari ini, giliranku menangani antrian “K” besar. Rencana pensiun Bu Ruli, guru matematika tersayang. Udara di Lorong 7 membeku. Pak Romi membantuku mengarahkan pipa. “Fokus, Nina. Rapikan jalurnya. Biar perpisahannya lancar,” katanya, suaranya parau. Tapi matanya tak melihat ke antrian. Ia menatapku. Lelah. Lapar. Saat dingin “K” mencapai puncak, pipa di tanganku bergetar liar. Aku tersandung. Tangan Pak Romi mencengkeram bahuku—kuat, tapi terasa… hampa. “Tenang,” bisiknya. “Kau akan menggantikanku di antrian.” Baru kusadari: pipa itu tak lagi menyedot dinginnya “K”. Ia menyedot panas dari tubuhku. Dan di buku “Daftar Tunggu Abadi” yang kubuka diam-diam tadi pagi, namaku sudah tercatat. Tanggalnya: hari ini.

Pipa itu menggigit. Dinginnya bukan sekadar suhu, tapi ketiadaan—ruang hampa yang menyedot napas, detak jantung, bahkan getar ketakutan dari tulangku. “Tenang,” ulang Pak Romi, tapi genggamannya di bahuku kini terasa seperti kabut beku, mengkristal. Kulihat lenganku memucat, urat biru menghilang seakan cairan hidupku disedot pipa logam itu. Antrian “K” untuk Bu Ruli bergolak di depan, tapi yang kuhadapi adalah “K” yang lain—Kekosongan untukku.

Aku mencoba berteriak, tapi suara lenyap ditelan logam. Di sudut mataku, Ruslan muncul, wujudnya nyaris tembus pandang seperti kaca buram. “Jangan lawan, Nina,” desisnya, suaranya berderak seperti kertas robek. “Semakin kau lawan, semakin cepat ia mengambilmu. Terima. Jadi bagian dari Lorong. Itu… lebih tenang.” Matanya, dulu selalu menyala penuh semangat, kini datar. Kosong. Seperti antrian yang dirawatnya.

Tiba-tiba, ingatan menyambar: Buku Besar di ruang kecil. “Daftar Tunggu Abadi”. Jika namaku sudah tercatat, mungkin… mungkin isinya bisa diubah. Dengan sisa tenaga, kusepakkan tumpukan kaleng cat tua di dekat kaki Pak Romi. Kaleng-kaleng itu bergemuruh jatuh, mengalihkan perhatiannya sejenak. Genggamannya mengendur. Cukup! Aku merosot lepas, menjauh dari pipa yang masih mendesis haus. Dingin membekap, tapi kemauan lebih keras. Aku menyambar pintu darurat, menerjang masuk ruang sempit tempat Buku Besar itu disimpan.

Buku itu terbuka sendiri di halaman terbaru. NINA MARLINA – KODE: KT (KEPENUNGGUAN TETAP) – TGL DILAYANI: 15/08/2025. Tulisan itu berkilau tinta emas dingin, tak bisa dihapus. Di bawahnya, kolom kecil bertuliskan “ASAL PERISTIWA”. Kosong. Napasku tertahan. Selama ini, aku mengira antrian peristiwa muncul begitu saja. Tapi kolom kosong itu bisu menjerit: Siapa yang mengirimkan peristiwa ke Lorong 7?

Lorong di luar bergemuruh. Pak Romi mendobrak pintu. “Jangan sia-siakan takdirmu, Nina!” raungnya, wujudnya kini lebih kabur, terdistorsi seperti siaran televisi buruk. Kulihat tangannya, nyaris tak berbentuk. Ia akan lenyap sepenuhnya begitu aku “dilayani”. Ruslan melayang di belakangnya, tatapan hampa. Tak punya waktu. Tanpa pikir, kuambil pipa pemelihara yang kulempar tadi—masih terhubung dengan energi Lorong. Daripada menyedot, kujerumuskan ujungnya ke halaman namaku di Buku Besar.

Ledakan bisu. Cahaya keemasan menyembur dari buku. Pipa bergetar liar, menyedot tinta namaku! Huruf demi huruf tercabik dari halaman, tersedot ke dalam logam. Dingin menusuk tulang belakangku. Buku itu berteriak—suara logam yang menyayat, bukan suara manusia. Halaman namaku menjadi putih bersih, tapi pipa di tanganku membara, berat dengan sesuatu yang hidup.

Pak Romi dan Ruslan berteriak, bukan marah, tapi… panik. “Apa yang kau lakukan?!” teriak Pak Romi, wujudnya berkedip-kedip tidak stabil. “Itu sistemnya! Kau merusak alurnya!” Mereka mundur, ketakutan, bukan padaku, tapi pada pipa yang kini memancarkan aura liar, tak terkendali. Lorong 7 bergetar. Dinding retak. Cahaya lampu neon meledak satu per satu. Antrian-antrian peristiwa—”B”, “M”, “U”, “K”—berhamburan seperti asap tak berbentuk, saling bertabrakan, bercampur aduk. Kebahagiaan menyatu dengan kemarahan. Kehilangan mencemari ujian. Kekacauan.

Buku Besar bergetar keras, halamannya membalik cepat sendiri. Tulisan-tulisan emas “DILAYANI” di nama-nama lama anggota klub mulai memudar. Pak Romi menjerit—nyata, penuh rasa sakit—saat wujudnya tiba-tata mengental kembali, menjadi padat, menjadi manusia. Kulitnya yang pucat berwarna, napasnya tersengal. Ruslan jatuh berlutut, meraba tangannya yang kini solid, bukan bayangan. Mereka saling memandang, bingung, ketakutan, tapi… hidup.

Pipa di tanganku pecah berkeping. Dingin yang menyedot tadi lenyap, diganti panas arus pendek yang menyengat. Di tanganku, tersisa sepotong logam bengkok dan… selembar kertas tipis menyala-nyala dari Buku Besar. Tulisan emasnya masih terbaca: “SISTEM OVERRIDE. KODE KT: BATAL. PENYEBAB: INTERVENSI LANGSUNG DARI ASAL PERISTIWA.”

Lorong 7 berhenti bergetar. Kesunyian yang memekakkan turun. Sisa-sisa antrian peristiwa menguap. Lampu neon terakhir yang masih hidup berkedip redup. Pak Romi mendekat, matanya menatapku, penuh pertanyaan dan sesuatu yang mirip… harap. “Nina… apa yang kau lakukan?”

Aku menatap kertas menyala di tanganku. “Intervensi langsung dari asal peristiwa.” Asalnya? Siapa? Aku melihat ke lorong kosong. Ruang kelas sepi di ujung. Kantor guru. Sekolah ini sendiri?

Kemudian, bunyi bel pergantian pelajaran berbunyi nyaring, tiba-tiba normal setelah kekacauan tadi. Dari ujung lorong, Bu Ruli, guru matematika tersayang, muncul dengan koper kecil. Ia tersenyum lemah, matanya berkaca-kaca. “Nina? Pak Romi? Kalian di sini. Aku… aku pamit.” Perpisahannya. Antrian “K” yang mestinya kaurasi hari ini.

Tapi Bu Ruli berjalan lancar. Tak tersandung. Tak ada dingin menusuk. Hanya seorang guru yang pergi dengan sedih wajar. Pak Romi menarik napas dalam. “Ia… lewat begitu saja?” bisiknya, tak percaya.

Kulihat ke tanganku. Kertas dari Buku itu telah hangus menjadi abu. Tapi pesannya membara di pikiran: Asal Peristiwa. Lorong 7 diam. Kosong. Antrian-antrian hilang. Untuk sekarang. Tapi Buku Besar itu masih ada di ruang kecil. Dan ia masih banyak halaman kosong.

Angin dingin tiba-tiba berhembus dari pintu darurat yang terbuka, membawa bau… minyak dan tanah basah. Bau yang sama seperti hari aku melihat Pak Romi menyemprot udara kosong. Bau yang kini terasa seperti… undangan.

TAMAT