Cerpen: Klise yang Belum Terungkap

Di sudut gelap toko loak “Tempo Doeloe” di Jogja, tersembunyi di balik tumpukan arloji rusak dan piringan hitam berdebu, Dira menemukannya: sebuah kamera analog tua bermerk “Veridiana”, kulit sintetisnya mengelupas, logamnya berkarat lembut, tapi matanya yang berupa lensa tunggal masih tampak menusuk, seolah menyimpan ribuan cerita yang terperangkap dalam perak dan gelatin. Kameranya berat, tidak nyaman di genggaman, berbeda dengan gadget canggih zaman sekarang, namun ada getaran aneh ketika jarinya menyentuh tombol pelepas rana yang sudah aus, seperti berjabat tangan dengan hantu masa lalu yang diam-diam merindukan dialog. Pemilik toko, seorang kakek bernama Mbah Sastro dengan kacamata tebal dan napas berat, hanya mematok harga lima puluh ribu rupiah, “Sudah lama tak ada yang mau, Neng. Barang jadul, susah filmnya, susah cuci cetaknya,” katanya sambil mengisap rokok kretek, asapnya menari-nari dalam sorot lampu neon yang redup. Dira, seorang fotografer lepas yang sedang mandek ide, merasa tertantang; benda ini bukan sekadar rongsokan, ia adalah mesin waktu yang membutuhkan kunci.

Setelah berburu ke beberapa toko kamera langka di Jakarta, akhirnya Dira mendapatkan dua rol film 35mm yang belum kadaluarsa, barang kolektor yang harganya sepuluh kali lipat kamera itu sendiri. Proses memuat film ke dalam tubuh Veridiana yang kaku itu seperti operasi rumit; ia harus melakukan semuanya dalam ruang gelap total, meraba-raba mekanisme tua yang enggan, jarinya gemetar menahan rasa tidak sabar dan sedikit takut. Suara “klik” halus ketika film terkunci di tempatnya terasa seperti sebuah sumpah, sebuah permulaan. Selama seminggu berikutnya, Dira membawa Veridiana ke mana-mana, melihat dunia melalui jendela bidiknya yang sempit, dunia yang tiba-tiba terasa lebih lambat, lebih disengaja, lebih intim; setiap bidikan membutuhkan pertimbangan matang karena filmnya terbatas, hanya 36 eksposur, sebuah kemewahan sekaligus beban di era digital yang serba instan dan bisa dihapus. Ia memotret pedagang sate keliling di sore hari yang kabur, garis bayangan panjang di tembok tua Kampung Tugu, wajah keriput nenek penjual kembang di stasiun yang matanya menyimpan samudra kesabaran, dan secercah cahaya pagi menyelinap di antara gedung-gedung tinggi di Sudirman, menari di atas genangan air hujan semalam.

Dengan hati berdebar-debar, Dira menyerahkan dua rol film itu ke sebuah lab foto tua di Pasar Baru, satu-satunya tempat yang masih mau dan mampu memproses film hitam putih secara manual. Prosesnya memakan waktu tiga hari, tiga hari di mana Dira seperti kehilangan sebagian jiwanya, terus membayangkan apa yang tertangkap oleh mata Veridiana yang misterius itu. Ketika ia kembali ke lab, pemiliknya, Pak Hendra yang selalu memakai sarung tangan putih, menyodorkan dua amplop cokelat tebal dengan ekspresi aneh, campuran bingung dan takjub. “Ini… unik sekali hasilnya, Mbak Dira. Sepertinya ada sesuatu dengan kameranya. Atau… filmnya?” Dira membuka amplop pertama dengan tangan dingin. Foto-foto hitam putih itu tajam, kontrasnya dalam, nuansanya kaya, persis seperti yang ia bayangkan. Tapi kemudian, di antara foto-foto yang ia ingat mengambilnya—pedagang sate, bayangan tembok, nenek penjual kembang—terselip beberapa gambar yang sama sekali asing.

Ada empat foto yang tidak pernah ia bidik. Foto pertama menunjukkan sebuah jembatan gantung kayu di tengah hutan lebat, kabut tipis menyelimuti dasar jurang di bawahnya, cahaya redup menyinari dedaunan basah; suasana yang terasa sangat sepi dan jauh dari Jakarta. Foto kedua lebih membingungkan: sepasang tangan yang sedang menjahit sebuah boneka kain, tangan-tangan itu terlihat halus, mungkin milik seorang wanita muda, tapi bonekanya bentuknya aneh, hampir abstrak, dengan benang merah menyala sebagai mulutnya. Foto ketiga adalah potret close-up seorang lelaki paruh baya dengan mata sangat sedih, mengenakan kemeja putih sederhana, latar belakangnya buram tak terbaca; ada kedalaman penderitaan di matanya yang membuat Dira merasa tidak nyaman. Dan foto terakhir yang asing adalah sebuah pintu kayu tua yang dicat biru, di tengah dinding batu yang ditumbuhi lumut; di depan pintu itu tergeletak setangkai mawar merah yang sudah mulai layu. Keempat gambar ini memiliki kualitas teknis yang sama sempurna dengan foto-foto Dira, seolah diambil pada waktu dan tempat yang sama, dengan gaya yang konsisten. Tapi Dira tahu, ia tidak pernah melihat pemandangan ini, apalagi memotretnya. Dingin merayap di tulang punggungnya.

Rol film kedua memberikan kejutan yang lebih mengejutkan. Selain foto-foto yang memang ia ambil—cahaya pagi di Sudirman, detil arsitektur tua Kota, anak-anak bermain layangan—terdapat tiga foto “asing” lagi. Yang pertama adalah foto jembatan gantung yang sama dari sudut berbeda, kali ini terlihat seseorang berdiri di ujung jembatan, sosoknya samar karena kabut, mengenakan jaket gelap. Foto kedua menunjukkan boneka kain yang sedang dijahit itu kini sudah hampir jadi, bentuknya lebih jelas: seperti figur manusia tanpa wajah, dengan benang merah membentuk senyum lebar yang mengerikan. Foto ketiga adalah potret pria sedih tadi, tapi kali ini ia tersenyum kecil, senyum yang terasa pahit dan dipaksakan, matanya masih menyimpan kesedihan yang sama dalam. Dan yang terakhir, bukan foto baru, melainkan foto pintu biru tua dengan mawar layu itu lagi, tapi sekarang ada secarik kertas kecil terselip di bawah bunga, bertuliskan sesuatu yang tidak terbaca jelas. Dira merasa dunia berputar. Veridiana bukan hanya merekam apa yang dihadapannya sekarang; ia juga memuntahkan fragmen-fragmen masa lalu, atau mungkin masa depan, yang tersangkut di dalam mekanismenya yang tua.

Obsesi Dira terhadap kamera dan foto-foto misterius itu menjadi total. Ia menghabiskan hari-harinya di perpustakaan nasional, menyisir arsip koran tua, mempelajari sejarah kamera kuno, bahkan menemui seorang profesor sejarah fotografi yang sudah pensiun. Dari risetnya, “Veridiana” adalah merek kamera langka buatan tangan di Eropa Timur (mungkin Cekoslowakia) pada akhir 1950-an, hanya diproduksi terbatas. Yang lebih menarik, ada desas-desus di kalangan kolektor bahwa beberapa unit Veridiana memiliki… “karakteristik unik”, sering dikaitkan dengan legenda urban tentang kamera yang bisa menangkap apa yang tidak terlihat oleh mata biasa. Profesor itu mengingatkan Dira dengan nada serius, “Benda-benda tua kadang menyimpan energi, Nak. Bukan mistik, tapi energi dari tangan yang memegangnya, dari momen-momen yang mereka abadikan. Kamu yakin ingin menggali lebih dalam?” Peringatan itu justru mengobarkan rasa ingin tahu Dira. Ia memutuskan untuk mencoba memecahkan misteri foto-foto tersebut, dimulai dari yang paling konkret: potret pria bermata sedih.

Dengan bantuan seorang teman jurnalis yang mahir mencari informasi, Dira mencoba melakukan pencarian wajah secara digital menggunakan foto close-up pria itu. Awalnya sia-sia, sampai mereka memutuskan untuk tidak fokus pada wajahnya saja, tapi pada kemeja putihnya yang sederhana. Di kerah kemeja pria itu, hampir tak terlihat, ada sebuah logo kecil yang samar: gambar burung garuda dengan tulisan “PG Tjandi”. Riset cepat mengungkap itu adalah singkatan dari Pabrik Gula Tjandi, sebuah pabrik gula tua di Jawa Timur yang sudah tutup sejak awal 2000-an. Dira terbang ke Surabaya, lalu menyewa mobil menuju ke lokasi bekas pabrik. Yang tersisa hanyalah reruntuhan bangunan bata merah yang ditumbuhi ilalang, mesin-mesin raksasa yang berkarat, dan kesunyian yang pekat. Seorang penjaga tua yang masih tinggal di rumah dinas terdekat mengiyakan ketika Dira menunjukkan foto pria itu (cetakan digital dari foto analog Veridiana). “Itu Pak Karno! Mandor bagian ketel uap. Orangnya baik sekali, tapi hidupnya berat. Istrinya sakit-sakitan, anak tunggalnya… hilang waktu masih kecil. Diculik, katanya. Tahun 80-an, kalau tidak salah. Pak Karno sendiri sudah meninggal, sepuluh tahun lalu mungkin.” Penjaga itu menggeleng sedih. “Dia sering duduk di bangku itu, memandangi pabrik yang sepi, matanya… ya, persis seperti di foto ini.”

Petunjuk berikutnya datang dari foto jembatan gantung. Setelah menelusuri berbagai forum hiking dan peta tua, Dira mengidentifikasinya sebagai Jembatan Cinta di kawasan hutan di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Ia mendaki menyusuri jalur yang sudah jarang dilalui, ditemani seorang pemandu lokal. Kabut tipis dan udara dingin menyambut mereka, persis seperti dalam foto. Ketika tiba di jembatan kayu yang reyot itu, hati Dira berdegup kencang. Ia mengeluarkan Veridiana, memandang melalui jendela bidik. Melalui lensa tua itu, pemandangan terasa berbeda; lebih muram, lebih sarat beban. Ia memotret beberapa klise. Di ujung jembatan, tempat sosok dalam foto kedua berdiri, ia menemukan sesuatu yang tercecer di balik semak: sebuah bandana kecil berwarna biru, usang dan kotor. Pemandunya tiba-tiba pucat. “Itu… seperti bandana adik saya,” bisiknya gemetar. “Dia hilang di sekitar sini dua puluh tahun lalu waktu kami masih kecil. Cuma ditemukan sepatunya…” Dira memandang bandana itu, lalu ke lensa Veridiana. Apakah kamera ini tidak hanya menangkap gambar, tapi juga… jejak?

Boneka kain tanpa wajah dengan senyum benang merah itu menjadi teka-teki paling menakutkan. Dira hampir menyerah, sampai ia memperhatikan latar belakang foto tempat tangan-tangan itu menjahit: ada sudut lemari es tua bermerk “Toshiba” dengan stiker bergambar bunga di bagian bawah. Detail kecil itu. Ia menyebarkan foto tersebut (hanya bagian latar belakang yang aman) di grup komunitas pecinta barang antik online, bertanya apakah ada yang mengenali model lemari es tersebut. Seorang anggota memberi petunjuk: itu model yang sangat populer di Indonesia akhir 70-an sampai awal 80-an, dan stiker bunga tertentu itu adalah pemberian promo dari sebuah toko elektronik ternama di Bandung saat itu. Dengan susah payah, Dira melacak alamat toko elektronik yang sudah lama tutup itu, lalu menyisir lingkungan sekitarnya, menanyakan penduduk lama apakah ada yang pernah membuat boneka aneh. Kebanyakan hanya menggeleng. Hampir putus asa, seorang nenek penjual gorengan di ujung jalan teringat sesuatu. “Dulu, ada anak perempuan tetangga sini, namanya Sari. Pintar sekali menjahit, tapi… agak aneh. Sering buat boneka bentuknya serem. Keluarganya pindah mendadak tahun 85, katanya Sari sakit jiwa. Ibunya yang cerita ke saya.” Nenek itu mengerutkan kening. “Ibunya bilang, Sari sering ngomong punya ‘teman’ berbentuk bayangan, dan boneka-boneka itu dibuat buat ‘teman’-nya.” Dira merinding. Apakah Veridiana menangkap bayangan “teman” Sari?

Kembali ke Jakarta, Dira fokus pada foto terakhir yang berulang: pintu biru tua dengan mawar layu dan kertas terselip. Setelah memperbesar scan foto kedua, ia bisa membaca sebagian tulisan di kertas itu: “… bertemu di … jam 3 … jangan bawa siapa…” dan sebuah tanda tangan sulit dibaca. Pintunya sendiri terasa familiar, tapi Dira tidak bisa menempatkannya. Suatu sore, ketika hujan deras mengguyur Jakarta, Dira terjebak macet di kawasan Menteng. Ia menoleh ke jendela taksi, matanya menatap tanpa fokus pada deretan rumah tua bergaya kolonial. Tiba-tiba, jantungnya berhenti berdetak. Di sana! Sebuah pintu kayu tinggi berwarna biru tua, persis seperti dalam foto, lengkap dengan dinding batu dan lumutnya. Rumah itu terlihat tidak berpenghuni, jendelanya tertutup rapat, halamannya dipenuhi rumput liar. Dira segera turun dari taksi, berlari ke bawah guyuran hujan. Ia mendekati pintu biru itu. Tidak ada mawar layu, tapi di dekat ambang pintu, ada bekas seperti sesuatu pernah diletakkan di tanah basah. Ia mengeluarkan Veridiana. Jari-jarinya dingin, bukan karena hujan. Ia mengangkat kamera, membidik pintu itu. Klik. Suara rananya terdengar lebih keras dari biasanya di tengah deru hujan.

Beberapa hari kemudian, hasil cetak foto yang ia ambil di depan pintu biru itu tiba. Dira membuka amplop dengan napas tertahan. Foto itu menunjukkan pintu biru dalam suasana hujan, persis seperti yang ia lihat. Tapi di bagian depan, di tempat yang kosong ketika ia memotret, kini tergeletak setangkai mawar merah yang segar, bukan yang layu. Dan di bawah mawar itu, jelas terlihat secarik kertas putih. Foto ini seperti jawaban sekaligus pertanyaan baru. Tanpa pikir panjang, Dira kembali ke rumah berpintu biru di Menteng. Kali ini siang hari. Rumah itu masih sepi. Dengan hati berdebar, ia mendekati pintu, melihat ke tempat mawar segar seharusnya berada dalam foto. Kosong. Namun, di balik pot tanaman besar yang pecah di teras, ia melihat sesuatu putih terselip. Sebuah amplop kecil, masih bersih, seolah baru diletakkan. Tertulis namanya: “Dira”.

Di dalam amplop, hanya ada satu lembar kertas bergaris tipis, tulisan tangan rapi dengan tinta biru: “Kamera itu bukan jebakan, tapi jalan pulang. Ia mencari yang tersesat. Foto-foto itu adalah jeritan yang terabaikan, getaran yang terperangkap. Kau mendengarnya. Sekarang, temukan ruang gelap di mana cahaya terakhir dipantulkan. Jam tiga. Bawa klise yang belum terungkap.” Tidak ada tanda tangan. Pesannya misterius namun terasa mendesak. “Ruang gelap di mana cahaya terakhir dipantulkan”? Dira memutar otak. Di lab foto! Tempat Pak Hendra mencetak foto-fotonya. “Cahaya terakhir” bisa merujuk pada lampu merah (safelight) yang digunakan di ruang cuci cetak tradisional, satu-satunya cahaya yang diperbolehkan karena tidak memengaruhi kertas foto sensitif. “Klise yang belum terungkap”? Rol film ketiga! Dira baru menyadari, ia masih memiliki satu rol film yang belum ia gunakan sama sekali, masih tersegel rapi di dalam kotak Veridiana. Ia segera menghubungi Pak Hendra, meminta izin menggunakan ruang cuci cetaknya yang tua di belakang lab, jam tiga pagi, waktu paling sepi. Pak Hendra, yang sudah penasaran dengan misteri kamera ini, setuju dengan syarat ia boleh menunggu di luar.

Tepat jam tiga pagi, Dira masuk ke ruang cuci cetak yang sempit. Hanya disinari lampu merah redup, ruangan itu terasa seperti gua, penuh dengan bau kimia pemroses foto yang menusuk hidung. Ia menggantungkan rol film ketiga yang belum terpakai itu di pengait khusus. Dengan tangan yang sedikit gemetar tapi penuh keyakinan, ia menggunakan gunting khusus untuk membuka kaleng film dalam gelap total, merasakan gulungan plastiknya yang dingin. Ia memuatnya ke dalam tangki pengembang. Prosesnya lambat, ritual kuno yang membutuhkan kesabaran dan kepekaan. Ia mengocok tangki dengan ritme teratur, menghitung detik dalam hati, merasakan cairan ajaib bekerja di dalam kegelapan, mengubah yang tak terlihat menjadi nyata. Setelah melalui semua larutan—pengembang, pembuat henti, pembersih—akhirnya ia bisa membuka tangki. Di bawah lampu merah, ia mengangkat gulungan negatif film yang basah. Ia mengalirkannya dengan jemuran khusus. Lalu, dengan senter kecil berfilter merah, ia memeriksanya.

Yang ia lihat membuat darahnya membeku. Bukan pemandangan baru. Bukan potret orang asing. Negatif itu menunjukkan serangkaian gambar yang ia kenal sangat baik: foto-foto “asing” dari dua rol sebelumnya—jembatan, boneka, pria sedih, pintu biru—tapi dalam urutan yang berbeda. Dan di akhir gulungan, ada tiga frame tambahan. Frame pertama: sebuah foto keluarga muda—suami, istri, dan seorang bayi perempuan—berdiri di depan toko loak “Tempo Doeloe”, tersenyum bahagia. Frame kedua: foto yang sama, tapi hanya sang istri yang tampak jelas, memegang kamera Veridiana dengan bangga, sementara suami dan bayinya terlihat buram, seperti hantu. Frame ketiga: hanya kamera Veridiana itu sendiri, tergeletak di atas meja kayu, sepi. Dira memegang negatif itu erat-erat. Tiba-tiba, memori yang terpendam sejak kecil menyembur: ia pernah melihat kamera ini! Di tangan ibunya! Ibunya adalah seorang fotografer berbakat yang meninggal dalam kecelakaan saat Dira masih sangat kecil. Kecelakaan itu juga merenggut nyawa ayahnya. Dira selamat, tapi ingatannya tentang mereka kabur. Veridiana adalah kamera kesayangan ibunya. Dan toko loak tempat ia menemukannya… itu adalah tempat keluarganya biasa berjalan-jalan! Kamera ini tidak menangkap hantu orang lain. Ia berusaha menyampaikan pesan darinya sendiri, dari masa lalunya yang terfragmentasi, dari tragedi yang memisahkannya dari orang tuanya. Jeritan yang terabaikan itu adalah jeritannya sendiri.

Dira keluar dari ruang gelap, wajahnya basah oleh air mata dan larutan foto. Pak Hendra memandangnya penuh tanya, tapi Dira hanya menggeleng pelan, memeluk Veridiana erat-erat. Ia mengerti sekarang. Kamera tua ini bukan mesin perangkap hantu, melainkan jembatan. Sebuah benda yang menyimpan getaran cinta, kehilangan, dan kerinduan mendalam ibunya—dan mungkin juga getaran kehilangannya sendiri—yang terperangkap dalam perak halida dan seluloid selama puluhan tahun. Foto-foto “asing” itu adalah metafora visual dari luka dan misteri dalam hidupnya: jembatan (transisi, bahaya), boneka (kenangan masa kecil yang terdistorsi), pria sedih (kekosongan tanpa ayah), pintu biru (pintu masa lalu yang tertutup, menunggu untuk dibuka). Veridiana, melalui caranya yang misterius, telah membimbingnya pulang ke dirinya sendiri, ke potongan-potongan jiwa yang tercecer. Keesokan harinya, Dira kembali ke rumah berpintu biru di Menteng. Kali ini, ia tidak sendirian. Ia membawa foto keluarga itu, hasil cetakan dari negatif ketiga yang ia proses sendiri dengan cinta di ruang gelap tadi. Ia menyelipkannya di bawah pot tanaman, di tempat amplop untuknya pernah ditemukan. Untuk siapa? Mungkin untuk arwah ibunya. Mungkin untuk dirinya yang dulu. Atau mungkin, hanya untuk memantulkan cahaya terakhirnya ke alam semesta, sebagai tanda bahwa pesan itu akhirnya diterima. Ia mengangkat Veridiana sekali lagi, membidik rumah itu, dan kali ini, ketika jarinya menekan tombol rana, suara klik-nya terdengar seperti sebuah pintu yang akhirnya tertutup dengan lembut. Klise yang terakhir telah terungkap.

TAMAT