Cerpen: Kuburan Impian

“Udah, Sak! Mending kita cari kos lain!” protes Udel, matanya melotot ketakutan memandang tembok kamar kosan barunya yang lembap dan berjamur. “Gue denger suara bisikan ‘Jangan tidur di sini…’ tadi malem. Serius!”

Sakti, sang mahasiswa filsafat yang logis banget, cuma mengernyit. “Del, itu mungkin angin yang nyelinap lewat lobang tembok. Atau elo lagi kebanyakan baca cerita hantu online.”

Tapi Udel bersikukuh. Kosan murah meriah di pinggiran kota itu memang menyeramkan. Angin selalu berdesis aneh, lampu neon berkedip-kedip kayak morse, dan yang paling parah: kamar mandinya ada di ujung koridor gelap yang pas banget berhadapan sama pintu belakang… yang konon langsung nyambung ke pemakaman umum tua! “Bayangin, gue lagi ‘boker’ tengah malem, terus ada yang ketok-ketok pintu kamar mandi sambil bilang ‘Bisa numpang lewat?'”

Sakti akhirnya penasaran. Malam itu, dia sengaja menginap di kamar Udel. Benar saja, tengah malam, suasana jadi mencekam. Lampu kamar tiba-tiba mati. Suara bisikan berdesis-desis makin jelas dari tembok. Udel meringkuk ketakutan di balik selimut.

Tiba-tiba… TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan keras dari pintu kamar mandi dalam koridor. Udel menjerit lirih. Sakti, meski jantungnya deg-degan, berjalan mendekat. “Siapa?!” tanyanya berusaha tegas.

Suara parau dan terdengar kesal menjawab, “Ini Mbah Gembul! Buka pintunya, dong! Gue mau lewat! Jalan pintas ke kuburan macet total nih!”

Sakti dan Udel saling pandang, bingung setengah mati. Mbah Gembul? Jalan pintas macet?

Dengan nekat, Sakti membuka pintu kamar mandi. Di hadapan mereka, bukan hantu menyeramkan, tapi sesosok kakek tua berpakaian kumal ala jaman dulu, wajahnya keriput tapi ekspresinya kesal banget. Dia memanggul karung goni.

“Ah, akhirnya ada yang buka!” gerutu si kakek. “Dasar anak-anak muda jaman sekarang, tidurnya larut malem! Mana lampu koridornya mati lagi! Gue hampir kesandung nisan Pakde Sulaiman tadi!”

“Ma-maaf, Mbah,” gagap Udel dari balik bahu Sakti. “Ini… ini siapa? Dan… lewat mana?”

“Dari kuburan sebelah, lah!” jawab Mbah Gembul seperti itu hal biasa. “Pintu belakang kosan ini itu gerbang siluman ke pemakaman! Biasanya sepi, malem ini rame banget! Ada arwah baru pindahan dari kota, bawa-bawa barang banyak. Truk arwahnya mogok di persimpangan alam baka, bikin macet panjang! Gue buru-buru mau ke arisan siluman di seberang, hampir telat!”

Sakti, logikanya kacau balau, cuma bisa nyeletuk, “Arisan siluman?”

“Iya! Hadiah utamanya sepeda onthel jadul! Keren, lho!” mata Mbah Gembul berbinar. “Ngomong-ngomong, kalian punya minyak tanah nggak? Lampu templok gue habis. Gelap banget nih jalannya.”

Dengan setengah sadar, Udel menyerahkan sebotol kecil minyak tanah (sisa untuk kompor primusnya). Mbah Gembul senang bukan main. “Wah, makasih banyak! Nih, gue kasih jasa.” Dia mengorek-orek karung goni dan mengeluarkan… sekeping uang koin jaman Belanda yang sudah kusam. “Simpan baik-baik, bisa buat hoki!”

Sebelum mereka protes, Mbah Gembul sudah melesat masuk ke kamar mandi, menghilang di balik pintu yang tertutup sendiri. Hening. Hanya bau minyak tanah dan koin usang di tangan Sakti yang membuktikan kejadian itu nyata.

Keesokan harinya, kosan “angker” itu berubah jadi pusat kehebohan. Berita tentang “pintu gerbang siluman” dan “macetnya arwah pindahan” tersebar lewat mulut ke mulut. Pemilik kos, Bu Imah, yang selama ini cuek, kebingungan karena banyak warga penasaran mau lihat “pintu kamar mandi ajaib”. Bahkan ada YouTuber datang!

Sakti dan Udel, awalnya ketakutan, malah jadi semacam “pemandu wisata”. Mereka bikin aturan: jangan ganggu penghuni kuburan, apalagi malam-malam. Mereka juga “berdiplomasi” dengan Mbah Gembul yang jadi semacam perwakilan.

Hubungan mereka pun unik. Mbah Gembul ternyata cerewet dan bawel. Dia sering ngeluh:

“Gara-gara video-video kalian, kuburan jadi rame kayak pasar malam! Susah tidur gue!”
“Tolong dong bilangin itu arwah baru… jangan nyetel dangdutan kenceng-kenceng! Mengganggu ketenangan!”
“Anak-anak kos yang pacaran di dekat nisan nenekku… tolong diusir! Nenekku tu jaman muda galak!”

Sebagai gantinya, Mbah Gembul sering ngasih “oleh-oleh” aneh: bunga kering yang katanya langka, kancing baju antik, atau… koin-koin usang. Dia juga jadi sumber gosip “dari seberang” yang lucu-lucu: siapa arwah yang selingkuh, siapa yang masih galau sama mantan, siapa yang menang arisan terus beli “TV siluman” baru.

Suatu hari, Mbah Gembul terlihat sedih. “Gue mau pindah,” katanya.

“Lho? Kenapa, Mbah? Ganggu ya kita?” tanya Udel khawatir.

“Bukan. Arisan siluman gue dibubarin. Ketua arisannya ketahuan korupsi hadiah utama! Sepeda onthelnya ternyata cuma replika!” keluh Mbah Gembul. “Tapi yang bikin gue bete… kuburan ini mau digusur. Katanya mau dibangun mal. Mana bisa! Ini rumah gue!”

Sakti dan Udel tercengang. Mereka baru dengar kabar itu. Perasaan campur aduk. Sedih karena Mbah Gembul, tapi juga… akan kehilangan keunikan tempat tinggal mereka.

Malam terakhir sebelum proyek dimulai, suasana kosan hening. Sakti dan Udel duduk di depan pintu kamar mandi. Tiba-tiba, pintu itu terbuka perlahan. Bukan cuma Mbah Gembul yang keluar, tapi puluhan arwah lain! Ada yang masih pakai baju dinas, ada nenek-nenek, bahkan ada anak kecil.

Mbah Gembul tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. “Kami mau pamitan. Terima kasih udah jadi tetangga yang baik… meski kadang berisik.” Para arwah lain mengangguk, beberapa melambaikan tangan.

“Kalian mau pindah ke mana, Mbah?” tanya Sakti, dadanya sesak.

“Entahlah. Mungkin nyempil di pemakaman lain yang belum penuh,” jawab Mbah Gembul. “Tapi jangan sedih! Kami tinggalin oleh-oleh spesial!”

Dia memberi kode. Para arwah mulai bergerak. Mereka bukan menghilang, tapi… menari. Tarian tradisional gemulai, diiringi desau angin dan gemerisik daun yang tiba-tiba terdengar indah. Cahaya keemasan samar menyelimuti mereka. Itu tarian perpisahan yang indah sekaligus mengharukan. Sakti dan Udel terpana, air mata menetes tanpa sadar.

Saat tarian usai, para arwah membungkuk hormat. Mbah Gembul melangkah mendekat, meletakkan sesuatu di tangan Udel: sebuah lampu templok tua, tapi bersih dan berisi minyak tanah penuh. “Simpan. Kalau ada kesulitan, nyalakan ini. Mbah doakan yang terbaik.”

Kemudian, mereka berbalik, masuk ke kamar mandi satu per satu, menghilang. Pintu tertutup dengan sendirinya. Kini benar-benar hening.

Keesokan harinya, kosan itu sepi. Kabar tentang “pintu gerbang” dan penghuninya berhenti. Proyek mal dimulai. Sakti dan Udel pindah, tapi mereka membawa lampu templok dan kenangan unik.

Bertahun kemudian, saat Udel sedang stres berat karena urusan kerjaan yang kacau, dia teringat lampu templok itu. Dengan iseng, dia menyalakannya di balkon apartemennya yang baru. Dia tidak mengharapkan apa-apa.

Tiba-tiba, angin berdesis lembut. Suara parau yang sangat familiar terdengar, meski seperti dari jauh: “Udel! Masih galau? Mbah lagi di Bali nih, nikmatin alam baka pantai! Katanya sih mau ada proyek vila mewah di kuburan sebelah sini juga, bahaya! Tapi tenang, Mbah doain kerjaanmu lancar! Nih, kirim sedikit ‘angin sepoi-sepoi keberuntungan’ dari Bali!”

Angin sejuk tiba-tiba mengelus wajah Udel. Teleponnya berdering. Bosnya membatalkan keputusan PHK. Udel tertawa terbahak-bahak sambil menangis. Ternyata, tetangga dari “seberang” itu tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya pindah alamat… dan Mbah Gembul, sang arwah bawel, tetap setia mengirim “update” dan doa dari balik cakrawala, lengkap dengan keluhan tentang proyek pembangunan dan gosip terbaru di alam baka. Ending yang tak terduga? Persahabatan absurd mereka ternyata abadi, dibuktikan dengan kiriman “angin sepoi-sepoi keberuntungan” dan broadcast gosip alam baka via lampu templok tua!

TAMAT