Cerita Lucu: Kucing Oyen Sang Penjaga Genting

Di antara genting rumah yang berjejal, seekor kucing kampung bernama Oyen duduk bagai singa kecil yang mengawasi savananya—tumpukan kardus bekas dan antena televisi tetangga. Perutnya yang bulat bergemuruh, simfoni lapar yang mengalahkan kicau jangkrik. Matanya, hijau zamrud yang biasanya malas, tiba-tiba menyempit tajam. Dari balik jendela dapur rumah Bu Imas, cahaya aneh berkedip-kedip, bukan lampu minyak, bukan pula lampu neon, tapi sesuatu yang berdenyut, berwarna hijau lendir, dan mengeluarkan bunyi mendesing… seperti blender yang kesakitan.

Oyen melompat dari atapnya, bulunya berdiri bagai duri landak mini. Hatinya berdebar tak karuan, bukan karena takut (katanya), tapi karena prinsip. Wilayah kekuasaannya—mulai dari pohon jambu depan sampai tong sampah belakang—terancam invasi! Dia mendekat dengan langkah ninja, menyelinap di balik pot bunga kering. Yang terlihat membuat kumisnya kedut-kedut kencang. Sebuah benda berkarat, sebesar kardus mie instan, berkaki enam seperti kecoak raksasa, sedang mencoba memasukkan piring kotor Bu Imas ke dalam mulutnya yang penuh bilah berputar! “Mrenggg!” kriuknya mengiris udara, memecah keheningan senja. Itu bukan tikus, bukan cicak, itu monster pencuci piring otomatis yang gagal upgrade!

Jiwa kesatria Oyen (yang biasanya hanya bangun saat ada ikan asin) berkobar. Dia bukan lagi Oyen pemalas, selain penjaga genting, dia adalah Oyen Sang Penakluk Mesin Cuci Piring! Dengan ekor tegak bagai antena perang, dia mengatur strategi. Lompatan pertama harus spektakuler! Dia mundur tiga langkah, mengumpulkan tenaga dalam dari sisa-sisa aroma rendang semalam, lalu… terjungkal karena perutnya yang gendut menyangkut di pinggir pot bunga. “Meooong!” teriaknya kaget, lebih mirip protes daripada pekikan perang. Sang monster berhenti mengunyah piring, “matanya” sensor merahnya berputar-putar, memindai gangguan. Laser hijau menyapu lantai, nyaris mengenai ekor Oyen yang ditariknya cepat-cepat.

Ketegangan menggantung bak pisau di atas benang. Oyen, malu setengah mati, bersembunyi di balik ember. Nafasnya tersengal-sengal. Dia mengintip. Monster itu kembali sibuk dengan piring kotor, moncongnya menyemburkan busa sabun berwarna hijau neon yang berbau seperti kol busuk bercampur pembersih lantai. Ini peluang! Oyen merayap, bulu perut nyaris menyentuh lantai dingin. Dia tiba tepat di belakang sang mesin, saat itu juga, sebuah gagang sapu tua yang tergeletak seolah tersenyum padanya. Dengan cakar yang biasanya hanya untuk menggaruk telinga, Oyen mencengkeram gagang sapu itu, dan dengan tenaga heroik yang membuat otot kakinya bergetar… dia mendorongnya ke stop kontak yang terkelupas di dekat bak cuci!

Zzzzzzaaaappp! Petir biru kecil menyambar dari gagang sapu yang basah ke tubuh monster karatan. Suara desingannya berubah jadi jeritan elektronik melengking, “Kriiieeeekkkkk—!” Lampu-lampu sensornya berkedip gila-gilaan seperti disco lampu rusak. Kaki-kakinya yang mirip kecoak menggelepar tak karuan, menari-nari di lantai keramik yang licin. Busa hijau neon menyembur dari segala celah, memenuhi sudut dapur mini itu bagai kabut racun dalam dongeng. Oyen menyipitkan mata, puas tapi waspada, siap menghindar jika si mesin gila itu meledak. Bau hangus kabel terbakar bercampur kol busuk memenuhi udara.

Akhirnya, dengan gemetar terakhir dan suara “blup!” seperti ikan kejang, monster itu diam. Lampunya padam. Hanya asap tipis mengepul dari sela-sela bodinya yang kini benar-benar diam. Oyen mendekat, hati-hati, mendorongnya dengan cakar. Tidak ada reaksi. Kemenangan! Dia mengangkat kepala, dada dibusungkan, bulu dada yang putih terlihat lebih gagah. “Miaw!” pekiknya kecil, penuh kemenangan. Dia menyapu lantai dengan ekornya bagai pedang samurai yang baru saja menaklukkan musuh. Sang Penakluk Mesin Cuci Piring telah membuktikan keperkasaannya! Wilayahnya kembali aman… setidaknya dari ancaman mekanis pemakan piring kotor.

Gerbang dapur terbuka. Bu Imas, dengan rambut masih digulung handuk, tertegun. Matanya membelalak melihat dapurnya yang seperti kapal pecah—busa hijau di mana-mana, bau aneh menusuk hidung, piring kotor berserakan, dan Oyen duduk gagah di atas sebuah… kotak karatan berkaki enam yang mengeluarkan asap. “Oyen?! Dasar kucing jail!” teriak Bu Imas, lebih kaget daripada marah. Oyen hanya mengedipkan satu mata padanya, seolah berkata, “Tak usah berterima kasih, Bu. Ini tugas harianku.” Lalu, dengan anggunnya seorang pahlawan yang tak butuh pujian, dia melompat ke jendela, meninggalkan Bu Imas yang masih termangu-mangu di depan mesin cuci piring portabel kesayangannya yang kini jadi rongsokan berasap.

Esoknya, cerita tentang Oyen Sang Penakluk Monster Karatan tersebar. Anak-anak tetangga memandangnya dengan takjub. Oyen? Tentu saja, dia hanya tidur lebih nyenyak di atas tumpukan kardusnya, mungkin bermimpi mengusir mesin cuci baju atau mungkin… mengejar tikus imajiner yang bentuknya seperti kaleng sarden. Jiwa pahlawan, bagaimanapun, perlu istirahat. Dan wilayahnya? Tetap terjaga, dijaga oleh sang kucing kampung yang perutnya bulat dan keberaniannya… kadang lebih besar dari akalnya. Monster apa pun yang berani mengganggu, siap-siap disetrum oleh gagahnya sang Penjaga Genting!

TAMAT