Di sudut paling kelam perpustakaan SMA Bestari, tersembunyi di balik debu dan aroma kertas usang, ada sebuah buku teks sejarah terbitan 1982 menunggu. Sampulnya yang lembap seperti selalu berkeringat dan halamannya yang menguning menyimpan lebih dari sekadar tanggal dan peristiwa. Ia menyimpan rasa lapar. Bukan lapar akan makanan, tapi akan ingatan segar, kenangan berharga yang diukir di benak remaja. Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, ia mendengar langkah kaki seorang siswa yang putus asa membutuhkan referensi ujian esok hari…
Ariadi Prawira mencatat judul buku terakhir yang dikembalikan sore itu di buku besar kayunya. “Sejarah Perjuangan Bangsa: Edisi 1982”. Buku itu selalu kembali tepat waktu, bahkan sering lebih awal, tapi meninggalkan aura aneh—seperti bau tanah basah setelah hujan dan kesan dingin yang melekat di tangan. Sebagai penjaga perpustakaan sukarelawan yang pendiam, Ariadi lebih peka pada hal-hal kecil dibanding kebanyakan teman seangkatannya. Ia merasa buku itu bernafas.
Esoknya, Echa, siswa cerdas kelas XII IPA 3, meminjam buku itu untuk tugas sejarah. Matanya berbinar penuh tekad. Dua hari kemudian, saat mengembalikannya, Echa terlihat pucat dan bingung. Dia gagal total dalam kuis matematika pagi itu—padahal ia juara olimpiade. “Aku… aku lupa semuanya, Ar. Rumus, konsep dasar… seperti dikosongkan,” bisiknya gemetar sebelum berlari pergi. Ariadi menyentuh sampul buku yang ditinggalkan Echa; terasa hangat dan berdenyut lemah. Debu-debu waktu berbisik, melahap cahaya pengetahuan yang baru saja mekar.
Pola itu mulai jelas. Gugun, pemain basket andalan, lupa strategi dasar setelah meminjam buku itu seminggu. Dinna, penyanyi solo jazz sekolah, suaranya mendadak fals dan ia lupa lirik lagu andalannya. Semua korban adalah siswa berprestasi di bidang lain di luar sejarah. Mereka yang meminjam buku itu justru jadi ahli sejarah luar biasa, bisa menyebutkan detail pertempuran atau nama menteri dengan akurat mengerikan, tapi mata mereka kosong, seperti kehilangan sesuatu yang vital.
Ariadi memberanikan diri membuka buku itu di ruang pustaka yang sepi. Saat jarinya menyentuh halaman tentang Perang Diponegoro, gambaran peristiwa itu langsung menyergap pikirannya—jerit peperangan, bau mesiu, taktik gerilya—begitu nyata dan menguasai. Namun, saat ia mencoba mengingat rumus fisika favoritnya tentang energi kinetik, yang muncul hanya kabut putih, kosong. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia segera menutup buku rapat-rapat. Ingatan adalah taman dan buku ini adalah hama yang diam-diam menggerogoti akar bunga-bunga terindah.
Penelitian diam-diam Ariadi dimulai. Ia catat setiap peminjam, bidang keahlian mereka sebelum dan sesudah meminjam buku, serta durasi peminjaman. Semakin lama buku itu “dikonsumsi”, semakin dalam ingatan non-sejarah terkikis. Ia juga menemukan catatan perpustakaan lama: buku ini pernah “hilang” selama 15 tahun setelah insiden misterius seorang siswa jenius musik yang mendadak amnesia dan drop out di tahun 90-an.
Malam itu, saat semua siswa pulang, Ariadi mengunci diri di perpustakaan. Lampu neon berkedip-kedip. Dengan hati berdebar, ia meletakkan buku tua itu di tengah meja baca. Ia juga meletakkan buku catatan matematikanya yang tebal di sebelahnya, seperti umpan. Ariadi duduk, menatap tajam, siap menguji teorinya yang paling gila: buku ini bukan sekadar benda mati. Dalam kesunyian perpustakaan, bayangan buku itu meregang seperti monster yang siap menyantap sajian.
Tak terjadi apa-apa. Hanya suara derit kayu dan dengung lampu. Ariadi mulai ragu. Saat ia hampir menyerah dan hendak menyentuh buku catatan matematikanya, kejadian aneh muncul. Ujung buku sejarah itu perlahan… melengkung. Seperti bibir yang sedang mengulum sesuatu. Lalu, dari buku catatan matematika Ariadi yang masih tertutup rapat, seberkas cahaya keemasan tipis—seperti asap atau serat halus—terhisap keluar dan tersedot masuk ke celah kecil antara halaman buku sejarah! Buku catatan Ariadi mendadak terlihat lebih kusam, lebih… biasa.
“Tidak!” teriak Ariadi reflek, menyambar buku catatannya. Saat dibuka, semua coretan rumus dan pemikirannya tentang teori relativitas khusus yang ia pelajari ekstra masih ada. Tapi rasanya berbeda. Kosong. Ia membaca rumus E=mc², tahu apa artinya, tapi rasa kagum dan pemahaman mendalam yang dulu ia miliki telah lenyap. Digantikan oleh hafalan kering. Air mata berkaca-kaca di matanya. Pengetahuan tanpa rasa ingin tahu adalah patung beku di tengah gurun yang tandus.
Amarah menggelegak menggantikan kesedihan. Ariadi menatap buku sejarah itu, yang kini terlihat puas, sedikit lebih tebal dan hangat. Tanpa pikir panjang, Ariadi mengambil pemadam api kecil dari dinding. Bukan untuk membakar—tapi untuk mengancam. “Kembalikan!” geramnya, mengarahkan tabung merah itu ke buku tua. “Kembalikan apa yang kau curi dari mereka! Dari aku!”
Buku itu bergetar hebat. Halaman-halamannya membuka dan menutup sendiri dengan cepat, berdesis seperti ular kesakitan. Lalu, di halaman tengah yang mengilap karena sering dibuka, gambar lukisan perlawanan Pangeran Diponegoro perlahan… berubah. Garis-garisnya bergerak, membentuk mulut yang menganga lebar, hitam dan dalam seperti lubang tanpa dasar. Suara desisan berubah menjadi bisikan parau yang memenuhi ruangan: “Lapar… masih… lapar…” Ariadi membeku, darahnya seolah membeku. Tabung pemadam api di tangannya terasa berat. Di hadapan kelaparan abadi, cahaya ingatan manusia hanyalah lilin kecil yang mudah diterkam angin.
Tanpa pikir panjang, Ariadi menekan tuas pemadam api. Busa putih menyembur deras menutupi buku itu. Bukan api yang ia padamkan, tapi kegelapan yang memancar dari lubang hitam di halaman buku. Terdengar jeritan melengking—bukan dari buku, tapi dari ribuan suara samar yang terperangkap di dalamnya. Busa berbuih itu mendidih, hitam seperti tinta, lalu… meledak. Busa yang semula putih bersih berubah jadi kabut kelam yang menari-nari penuh dendam tersembunyi.
Dari kabut itu, muncul sosok bayangan manusia—remaja berbaju putih kusam tahun 90-an, wajahnya kabur tapi matanya menyimpan kesedihan abadi. “Akulah… korban pertama,” bisiknya lirih, suaranya seperti gemerisik daun kering. “Buku ini hanya pintu. Yang kau lawan… Sang Pengumpul.” Bayangan itu menunjuk lemari arsip tua di sudut. Kenangan yang terampas tak pernah mati; mereka mengembara di lorong waktu sebagai hantu yang hapus.
Ariadi membuka lemari itu dengan gemetar. Yang ia temukan bukan dokumen, tapi buku catatan harian berdebu milik guru sejarah yang hilang secara misterius di tahun yang sama dengan korban pertama. Halaman terakhir tertulis: “Aku temukan cara menyimpan pengetahuan abadi… tapi butuh wadah hidup. Maafkan aku, murid-muridku. Kutemukan nama-Nya: Sang Pengumpul dari Antara Halaman.” Tepat di bawahnya, tergambar simbol aneh: buku terbuka dengan mata di setiap halamannya. Kadang, pencarian cahaya justru membuka kotak Pandora yang lebih gelap.
Sosok bayangan tiba-tiba menjerit kesakitan, tubuhnya tersedot kembali ke arah buku sejarah yang kini mengapung di tengah kabut hitam. Lubang di halamannya membesar seperti gerbang neraka. “Buku catatanmu… ia takut akan itu!” teriak bayangan itu separuh lenyap. “Karena kau masih merasakan ilmu itu, bukan sekadar menghafal!” Ariadi memandang buku catatan matematikanya—tempat ia menuangkan kerinduannya pada ilmu, bukan hanya rumus. Harapan terakhir sering bersembunyi di tempat yang paling kita lindungi: rasa ingin tahu yang murni.
Dengan teriakan kemenangan sekaligus keputusasaan, Ariadi melemparkan buku catatan matematikanya tepat ke lubang hitam di buku sejarah. Bukan ledakan yang terjadi. Tapi… kesenyapan. Kabut hitam tersedot habis. Buku sejarah jatuh ke lantai, terbuka di halaman kosong—lukisan Pangeran Diponegoro dan mulut menganga itu hilang tanpa jejak. Di tempatnya, hanya selembar foto hitam-putih guru sejarah yang hilang, tersenyum sedih, memegang buku yang sama. Lalu, foto itu pun menguap jadi debu. Sang Pengumpul menghilang, membawa serta bukti-buktinya. Tapi di udara masih menggantung pertanyaan: apakah ia kalah… atau hanya pindah wadah?
Ariadi berdiri sendirian di perpustakaan sepi. Buku sejarah itu kini dingin dan bisu, seperti buku biasa. Ingatan tentang teori relativitasnya belum kembali. Tapi di sakunya, ia merasakan lembaran kasar—sobekan kecil dari buku catatannya yang ikut terlempar, bertuliskan satu kata: “Cari.” Apakah itu peringatan… atau undangan? Dan di sudut langit-langit perpustakaan, satu gumpalan kabut hitam sebesar kepalan tangan merayap pelan, membentuk simbol mata sebelum menghilang di balik rak buku.
Keesokan harinya, perpustakaan dikepung rumor. Buku sejarah tua itu diam-diam dikunci dalam brankas besi oleh kepala sekolah setelah Ariadi menunjukkan sisa foto yang menguap dan buku harian guru hilang. Tapi yang lebih mengherankan: Echa tiba-tiba bisa menyelesaikan soal kalkulus kompleks, Gugun mengingat lagi pola serangan andalannya dan Dinna menyanyikan lagu jazz dengan nada sempurna. Ingatan mereka pulih—seperti dikembalikan. Namun, di mata mereka terselip bayang-bayang asing, seperti kenangan yang pernah dicabut hingga akar.
Ariadi duduk di sudut kesayangannya, memegang sobekan kertas bertuliskan “Cari“. Tangannya menelusuri buku harian guru sejarah yang ia sembunyikan. Halaman-halaman terakhir penuh sketsa simbol mata dan coretan gila: “Pengetahuan bukan untuk dimiliki, tapi untuk dikumpulkan… Sang Pengumpul lapar akan esensi, bukan fakta… Ia ada di sela-sela yang terlupakan.” Ilmu yang terluka meninggalkan parut di jiwa, bahkan ketika ia dikembalikan.
Malam itu, saat Ariadi membereskan rak buku, ia merasakan hawa dingin familiar. Dari celah rak tempat buku sejarah pernah berdiam, seberkas kabut hitam tipis merayap keluar, membentuk simbol mata sesaat sebelum menghilang di bawah pintu. Tanpa ragu, Ariadi mengikutinya. Ia membuntuti kabut itu melewati lorong gelap menuju gudang tua sekolah yang terkunci puluhan tahun—tempat guru sejarah terakhir terlihat.
Di dalam gudang berdebu penuh artefak usang, kabut itu lenyap. Yang ada hanyalah tumpukan buku catatan pelajaran siswa dari berbagai era, disusun rapi seperti altar. Di tengahnya, terbuka sebuah buku catatan matematika kusam—milik Ariadi yang ia kira hilang. Saat disentuh, halamannya kosong, kecuali satu baris tulisan baru berdarah: “Wadah Baru Ditemukan.” Memori yang terampas tak pernah pulih utuh; ia kembali membawa hantu dalam bungkusnya.
Teriakan memecah keheningan pagi. Pak Maksum, guru sejarah baru yang selalu bersemangat, ditemukan pingsan di ruang guru. Di mejanya, terbuka buku teks sejarah modern yang ia gunakan mengajar. Wajahnya pucat dan saat sadar, ia menggumamkan tanggal-tanggal pertempuran kuno dengan akurasi mengerikan—tapi lupa nama istrinya sendiri. Pola itu berulang. Sang Pengumpul tidak mati; ia hanya pindah buku.
Ariadi menatap buku teks baru di ruang guru dari balik jendela, sobekan “Cari” terasa panas di genggamannya. Ia kini mengerti: Sang Pengumpul adalah entitas lapar yang terikat pada hasrat akan pengetahuan tanpa jiwa. Guru sejarah yang hilang dulu memanggilnya dengan eksperimen dan kini buku-buku yang diajarkan tanpa gairah, hanya hafalan kering, menjadi pintunya. Monster sejati tidak berbentuk; ia adalah cerminan ketamakan manusia akan kepemilikan mutlak atas cahaya.
Ariadi tidak lari. Ia memasuki perpustakaan, mengambil buku catatan matematika barunya. Dengan tinta merah, ia menulis di halaman pertama: “Aku mencari bukan untuk memiliki, tapi untuk memahami. Laparku adalah rasa ingin tahu, bukan kepemilikan.” Lalu, ia meletakkannya terbuka di samping brankas berisi buku sejarah tua. Kabut hitam tipis merayap dari celah brankas, menyentuh buku catatan Ariadi… dan berhenti. Seperti bertanya. Ariadi tersenyum getir. Perang melawan kelaparan abadi baru saja dimulai—dan senjatanya adalah kerendahan hati untuk tak pernah merasa kenyang akan ilmu. Sang Pengumpul telah bertemu rasa laparnya sendiri.
Kabut itu tidak menghilang, tapi tidak juga menyerang. Ia bergetar di atas buku catatan Ariadi, membentuk simbol tanda tanya, sebelum terserap lembut ke dalam kertas. Halaman buku catatan Ariadi kini dihiasi pola pusaran tinta merah dan hitam yang halus, terasa hangat. Ariadi tahu, ini gencatan senjata yang rapuh. Setiap kali ia menulis dengan hasrat murni untuk memahami, ia memberi makan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Dan setiap kali guru atau siswa lain mengajar dengan kering, kabut hitam itu mungkin akan mencari wadah baru. Sang Pengumpul dan Pencari kini terikat dalam tarian abadi: memberi dan menerima, mengancam dan menyelamatkan, di ruang sunyi antara baris-baris pengetahuan.
TAMAT