Minggu ujian akhir semakin dekat, tapi Lala justru menemukan sesuatu yang lebih menegangkan daripada soal matematika—sebuah surat misterius terselip di antara halaman buku pustaka kesukaannya.
“Jika kau membaca ini, tolong temui aku di taman kota besok jam 4 sore. Aku punya rahasia tentang orang yang kau sukai.”
Jantung Lala berdegup kencang. Siapa yang tahu perasaannya pada Rizal? Ketua OSIS itu bahkan tak pernah menyadarinya.
Dengan gemetar, Lala datang ke taman. Tapi yang menunggu bukan Rizal—melainkan Siska, sahabatnya sendiri.
“Aku tahu kau suka Rizal,” bisik Siska, “tapi dia bukan orang yang kau kira. Aku menemukan sesuatu…”
Sebelum Siska bisa menjelaskan, teleponnya berbunyi. Sebuah pesan anonim muncul:
“Jangan ceritakan apapun. Aku tahu di mana kalian.”
Mereka menengok ke sekeliling. Seseorang mengawasi mereka.
Keesokan hari, Lala menemukan kunci USB di lokernya. Saat dibuka, ada rekaman suara Rizal berbicara dengan seseorang:
“Aku sudah ambil uangnya. Besok kita lenyapkan buktinya.”
Lala pucat. Rizal terlibat penipuan?
Tiba-tiba, Siska berlari ke kelasnya. “Lala, aku tahu siapa yang kirim pesan itu! Itu Devina—mantan pacar Rizal. Dia tahu semua keburukannya!”
Mereka mencari Devina. Gadis itu awalnya marah, tapi akhirnya mengaku:
“Aku sengaja taruh surat itu karena Rizal menguras tabunganku. Aku ingin orang lain tahu siapa dia sebenarnya.”
Tapi masalah belum selesai. Rizal tahu rahasianya terbongkar.
Di ruang OSIS, Rizal menghadang mereka.
“Kalian mau apa? Hancurkan reputasiku?”
Lala, awalnya takut, tiba-tiba berteriak:
“Kami punya rekamanmu! Kalau kau ganggu kami, kami laporkan ke polisi!”
Rizal mundur. Esok harinya, kabar beredar bahwa dia mengundurkan diri dari OSIS.
Lala dan Siska bersumpah tak akan mudah percaya pada orang lagi. Sementara Devina, meski awalnya bermusuhan, akhirnya menjadi teman mereka.
Dan Rizal?
Dia pindah sekolah—tapi bukan sebelum mengembalikan uang yang dia curi.
TAMAT