Galih, Ratri, Jati, dan Dian duduk lesu di warung kopi dekat Kebun Bibit Bratang, mengeluh soal UTBK yang melelahkan. “Aduh, otakku kayak ampas tahu,” keluh Galih, mengaduk kopinya yang sudah dingin. “Tenang, besok kan libur. Ke Tunjungan Plaza, yuk? Biar lupa sejenak soal integral,” usul Ratri, selalu yang paling optimis. Jati setuju cepat, sementara Dian cuma mengangguk sambil asyik scroll medsos. Mereka sepakat bertemu besok siang di depan Monkasel.
Keesokan harinya, saat Galih turun dari angkot di dekat Monkasel, hawa sepi yang aneh langsung menyergapnya. Biasanya ramai, jalanan lengang. Tak ada bunyi klakson, mesin, atau bahkan burung. Hanya angin yang berdesir. Ratri dan Jati sudah menunggu dengan wajah pucat. “Di mana Dian?” tanya Galih. Ratri menjawab gemetar, “Gal… orang-orang… menghilang. Sepi banget, kayak… kota mati.” Mereka baru sadar, tak satu pun manusia terlihat di sekitar mereka.
Jati mencoba nelpon Dian. Tak ada sambungan. Mereka cek ponsel satu per satu. Sinyal penuh, tapi semua aplikasi chat, sosmed, bahkan nelpon biasa—hanya statis atau pesan error aneh. Galih coba hubungi keluarganya di rumah. Yang terdengar cuma suara desis panjang dan terputus-putus, seperti siaran radio rusak. Kepanikan mulai menggeliat.
Saat menyusuri Tunjungan yang menyeramkan, Galih tersandung sesuatu. Sebuah jam tangan kuno dari kuningan, berukiran motif wayang Jawa yang rumit, tergeletak di trotoar. Anehnya, jam itu masih berdetak, jarumnya bergerak mundur. Saat Galih memungutnya, jam itu terasa hangat dan memancarkan denyut cahaya hijau samar. “Apaan tuh?” tanya Jati penasaran.
Tiba-tiba, Ratri menjerit. “Lihat Monkasel!” Monumen Kapal Selam yang gagah itu terlihat buram, seperti gambar resolusi rendah, bagian-bagiannya mulai memudar dan terdistorsi seperti ditimpa kabut digital. Mereka melihat ke sekeliling. Bangunan-bangunan lain, mulai dari gedung TVRI hingga ruko-ruko, juga menunjukkan efek serupa—transparan dan tidak solid, seolah Surabaya hanyalah proyeksi yang rusak.
Dari balik kabut distorsi di ujung jalan, sosok Dian muncul berlari ketakutan. “Galih! Ratri! Jati! Kalian di sini!” teriaknya. Tapi saat dia mendekat, ekspresinya berubah drastis menjadi dingin dan tidak kenal. “Kalian tidak seharusnya melihat ini,” suaranya datar, tidak seperti Dian. Dia mengangkat tangan, dan dari telapaknya, semacam sinar biru menyala.
Sebelum “Dian” sempat melepaskan sinar, Jati tiba-tiba melompat ke depan. Tapi bukan melindungi kawannya. Dia malah menyambar jam tangan dari tangan Galih! “Maaf, teman-teman,” kata Jati dengan suara berbeda, lebih dalam dan berwibawa. “Aku bukan Jati yang kalian kenal. Aku ditugaskan menjaga Chronos Lock ini.” Wajahnya berubah sekejap, menunjukkan fitur yang lebih tua dan asing, sebelum kembali seperti Jati. Ratri dan Galih terpana.
“Dian” (atau entitas yang menyamar sebagai dia) menyerang Jati dengan sinar birunya. Jati (atau sosok dalam dirinya) mengangkat jam tangan (Chronos Lock), memancarkan perisai hijau yang menangkis serangan. Pertarungan singkat nan aneh terjadi di tengah jalan yang terus memudar. Entitas “Dian” akhirnya berhasil menyambar lengan Ratri. “Kita butuh salah satu dari mereka!” teriaknya ke udara kosong. Sebelum Galih atau Jati bereaksi, Ratri dan entitas “Dian” menghilang dalam semburan cahaya biru.
Galih histeris. “APA YANG TERJADI?! DI MANA RATRI?!” Jati (dengan suara aslinya) memandangnya dengan sedih. “Jam ini, Chronos Lock, adalah kunci penstabil ruang-waktu lokal. Surabaya bukan kota nyata, Galih. Ini bunker temporal, tempat perlindungan bagi sekelompok manusia dari masa depan yang hancur. Kami menyembunyikannya dalam simulasi realitas Surabaya tahun 2020-an.” Galih pingsan sejenak. “Masa depan? Simulasi?”
Jati menjelaskan cepat. “Entitas yang menyamar sebagai Dian adalah Chronophage, pemangsa waktu. Mereka ingin menghancurkan bunker ini dan menyerap energinya. Mereka menyusup dengan menyamar sebagai penghuni simulasi. Ratri… dia mungkin bukan manusia biasa. Ada sesuatu dalam kode genetiknya yang sangat berharga bagi mereka atau bagi kami. Aku ditugaskan menyamar sebagai Jati untuk melindungi Chronos Lock dan mengawasi.”
Kebenaran tentang Galih) Galih memandang jam tangan yang kembali dipegang Jati. “Lalu aku? Dian yang asli? Keluargaku?” Jati menghela napas. “Dian yang asli mungkin sudah ditahan atau digantikan sejak lama. Keluargamu, teman-temanmu yang lain… mereka adalah bagian dari simulasi, Galih. Kecuali kamu.” Galih terpaku. “Apa?” “Kamu adalah Anchor, Galih. Satu-satunya manusia asli dari masa lalu yang secara tidak sengaja terperangkap di sini saat bunker diaktifkan. Kesadaranmu yang nyata adalah yang membuat simulasi ini tetap stabil dan ‘terasa’ hidup bagi kami para penyintas yang bersembunyi di dalamnya. Kamu adalah jangkar realitas di bunker ini.”
Sebelum Galih bisa mencerna kebenaran gila itu, distorsi di sekitar mereka meningkat drastis. Gedung-gedung runtuh menjadi kode-kode digital. Langit ungu pecah seperti kaca. Jati menatap Galih dengan mata penuh permintaan maaf dan keteguhan.
“Mereka datang lebih banyak. Aku harus memakai Chronos Lock untuk memutar mundur simulasi ke titik aman sebelum penyusupan, tapi itu akan menghapus ingatanmu tentang semua ini… dan mungkin juga Ratri, jika dia masih ada.” Jati memutar jam itu dengan cepat. Cahaya hijau menyilaukan membungkus mereka. Galih merasakan dirinya terlempar.
Ketika matanya terbuka, dia duduk lagi di warung kopi dekat Kebun Bibit Bratang. Ratri tersenyum, “Ke Tunjungan Plaza, yuk?” Jati mengangguk antusias. Dian sibuk scroll medsos. Galih mengusap pelipisnya, ada rasa deja vu yang kuat dan jam analog biasa di tangannya… tapi di sakunya, dia merasakan benda logam kecil. Dicuri diam-diam saat cahaya hijau menyilaukan: sebuah microchip dingin dengan simbol yang sama persis seperti ukiran di Chronos Lock. Senyum tipis mengembang di bibir Galih. Pertarungan belum selesai.
TAMAT