Alex menyipitkan mata menatap cakrawala Jawa Timur dari balik kaca mobil dengan plat nomor N sewaannya. Debu merah proyek pembangunan bendungan raksasa “Cahaya Abadi” mengaburkan garis Gunung Semeru yang dulu gagah. Sebagai fotografer lingkungan lepas berusia 32 tahun, tugasnya dokumenter: memotret “kemajuan” yang mengorbankan ekosistem. Tapi hatinya berat. Ini bukan sekadar pohon yang hilang; ini seperti menyaksikan sesuatu yang kuno sekarat.
Dia menyusuri jalan tani yang belum diaspal, mencari angle terakhir sebelum matahari terbenam. GPS-nya ngaco, mengarahkannya jauh dari rencana, ke tepi hutan kecil yang tersisa, terapit tebing kapur. Di sana, terpencil, dia menemukan air terjun kecil yang tak tercatat di peta mana pun. Airnya jernih kebiruan, jatuh ke kolam yang dikelilingi lumut hijau neon dan bunga kantong semar sebesar kepalanya. Suasana sunyi sepi, tapi berat, seperti ruang tunggu. Alex mengangkat kamera.
Klik.
Klik.
Krik… krik… krik…
Suara itu bukan dari kameranya. Seperti ribuan kaki serangga kecil menggesek batu. Alex memutar tubuhnya. Tak ada apa-apa. Tapi ketika dia memandang kembali ke kolam, bayangannya di air… berubah. Bukan siluetnya sendiri, melainkan sosok tinggi kurus, seperti perempuan terbuat dari ranting kering dan daun gugur, dengan mata seperti dua bara api kecil. Alex terkesiap, hampir menjatuhkan kamera mahalnya.
“Kau memotret debu kematianku,” suara itu berdesis, bukan dari telinga tapi langsung di kepalanya, seperti angin melalui celah batu. Keluar dari balik tirai air terjun, muncul sosok itu. Tubuhnya memang terbuat dari materi hutan yang lapuk, tapi bergerak dengan keluwesan cair. Dia adalah Mbok Sekar, penunggu tempat ini, roh penjaga keseimbangan mikro-kosmos hutan dan mata air ini. “Mereka,” dia menunjuk ke arah debu merah di barat, “menggali akar mimpiku. Suara besi mereka memekakkan nyanyian air.”
Alex, yang selama ini menganggap dirinya rasional, tiba-tiba berada dalam percakapan dengan makhluk dari dongeng. Mbok Sekar menjelaskan dengan gambaran puitis yang menyayat: bendungan itu bukan hanya membanjiri desa dan hutan; itu memutus “urat nadi bumi” yang halus, aliran energi magis yang menghidupi roh-roh penjaga lokal seperti dirinya dan seluruh ekosistem unik di tempat ini. Tanpa itu, dia dan tempat suci ini akan mengering, berubah menjadi debu biasa. “Mereka menyebutnya kemajuan,” desisnya, bara matanya redup. “Aku menyebutnya kelupaan.”
Esok paginya, mesin bor raksasa dan ekskavator tiba-tiba muncul di tepi hutan kecil itu, didahului oleh teriakan mandor proyek dan bau solar menyengat. Rencana pembangunan ternyata diperluas mendadak; hutan ini akan jadi tempat pembuangan limbah sementara. Pohon-pohon kecil mulai dirubuhkan. Alex berdiri di antara kedua dunia: logam kuning menyala melawan hijau tua yang bergetar ketakutan.
Dia melihat Mbok Sekar, hampir transparan kini, merangkul batang pohon beringin tua yang sedang digerayangi gergaji mesin. Sosoknya bergetar, bukan karena ketakutan, tapi karena keputusasaan yang dalam. Cahaya di kolam mulai meredup. Tanpa pikir panjang, Alex berlari. Bukan untuk menghalau mesin secara fisik—itu bunuh diri. Dia mengacungkan kamera DSLR-nya yang mahal itu, bukan ke hutan, tapi langsung ke wajah-wajah kotor para pekerja dan mandor yang bingung. Lampu kilatnya menyala-nyala, pop! pop! pop! “Apa yang kalian lakukan?!” teriaknya, suaranya lebih lantang dari yang dia kira. “Lihat ini! Pohon langka! Mata air! Ini bukan tempat pembuangan! Ini… situs budaya! Kalian butuh izin khusus!”
Kebohongan itu terlontar begitu saja. Tapi kata “situs budaya” membuat si mandor ragu. Dia memandang hutan itu, seperti baru benar-benar melihatnya. Keheningan yang tiba-tiba, aroma bunga kantong semar yang anehnya menguat, dan mungkin, hanya mungkin, sentuhan energi putus asa Mbok Sekar yang merambat, membuatnya mengangkat tangan. “Hentikan dulu!” geramnya pada operator ekskavator. “Cek ulang peta dan perizinannya! Sekarang!”
Malam itu, Alex kembali sendirian ke kolam. Bulan purnama menyinari Mbok Sekar yang sudah pulih sedikit, wujudnya lebih padat. “Kau menggunakan senjata zamanmu,” bisiknya, ada nada mirip humor dalam desisnya. “Kilatan cahaya kecil untuk mengusir raksasa besi.” Dia menghampiri Alex. Bukan untuk memberi hadiah pusaka, tapi meniupkan sejumput debu keemasan dari tangannya ke lensa kamera Alex. Debu itu lenyap seketika. “Ini bukan penglihatan, Tuan Debu. Ini… kepekaan. Agar kau tak hanya memotret apa yang tampak, tapi juga apa yang bergetar. Apa yang terlupakan.”
Alex meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk. Proyek bendungan masih berjalan, tapi hutan kecil dan mata airnya, entah bagaimana, masuk dalam zona penyangga yang dilindungi setelah “penemuan” potensi arkeologis dan ekologi mendadak. Fotonya tentang kontras antara debu bendungan dan kehijauan terakhir hutan Mbok Sekar memenangkan penghargaan kecil. Tapi lebih dari itu, lensa kameranya kini kadang menangkap hal lain: kilatan keemasan di daun, siluet samar di kabut pagi, air yang beriak tanpa angin.
Bagi Alex (yang 32 tahun), ini pengingat: kemajuan seringkali buta terhadap yang tak terlihat, yang tak terukur oleh uang. Bagi jiwa 17 tahun yang haventur, ini bukti bahwa pahlawan bisa membawa kamera, bukan pedang. Dan terkadang, yang terlupakan, seperti roh hutan tua, hanya perlu sedikit cahaya—dari mana pun asalnya—untuk diingat kembali, sebelum benar-benar menjadi debu di atas cakrawala. Jawa bukan hanya tanah; ia juga napas yang halus, dan Alex kini tahu bagaimana mendengarnya.
TAMAT