Pemain:
Perempuan berusia 20-35 Tahun
Setting:
Kamar rias pengantin mewah. RARA duduk di lantai, bersandar pada manekin gaun pengantin. Dia memakai tank top dan celana boxer. Di tangannya, sebuah jam tangan kulit usang berhenti di 8:17. Suara walz dan tepuk tangan samar dari lantai bawah.
Monolog:
RARA:
(Rara menatap jam di tangannya, lalu berbicara dengan cermin kosong)
Jam 8:17 malam. Tiga tahun lalu kau bilang: “Kalau di jam ini kita nggak nikah, berarti lo diculik alien.”…
(Tertawa pendek, lalu menekan jam itu ke dada)
Ironis ya? Aku di kamar pengantin… tapi aliennya ada di sini. Di dalam diriku.
RARA:
(Berdiri, menjingjangkan jam ke telinga maneken)
Dengar, Arga? Suara resepsi di bawah. Mereka bersorak untuk calon pengantin yang dadanya sesak…
(Memeluk manekin kasar)
Dia… calon suamiku… baru saja kirim voice note: “Aku tunggu di bawah, Sayang. Jangan lama-lama.” Suaranya hangat. Terlalu hangat. Seakan aku bukan kuburan berjalan yang pakai gaun kristal.
RARA:
(Mengguncang jam itu keras-keras)
BANGUN! Bisikin aku! Bilang “jangan nikah”! Atau “kabur lepasin gaun gombal itu”!
(Suara jam berdetak 3 kali lalu berhenti lagi)
…Tuli. Seperti hari ambulans datang. Waktu aku teriak “jangan tinggalin aku”, kau cuma bisik: “Lincoln di Gettysburg… tanggal berapa?” Gila! Sekarat masih ngujek!
RARA:
(Dia bercermin, menyentuh bayangannya)
Kau tahu kenapa aku potong rambut tadi pagi?
(Mengangkat gunting rias, memotong udara)
Karena dulu kau suka rambutku sepanjang ini…
(Menarik gumpal rambut palsu dari manekin, mengguntingnya brutal)
Kuburkan kuncir terakhirmu di bawah pohon flamboyan dekat makammu. Biar kau punya sesuatu untuk dipeluk… selain nisan.
(Suara ketukan deras di pintu)
IBU:
(dari luar)
“Rara! Lima menit lagi! Dikanya udah nervous!”
RARA:
(Teriak ke pintu)
SUARANYA JANGAN SEPERTI ORANG SEKARAT, BU!
(Berbisik ke jam)
Dengar? Ibu bilang “Dikanya”. Selalu “Dikanya”. Seakan aku boneka…
(Menatap gaun)
Boneka seharga 100 juta.
RARA:
(Menyemprotkan parfum usang ke udara – bau kayu bakar)
Aku masih pakai parfummu… yang wanginya kayak api kemah. Dia bilang baunya “tajam”.
(Menghirup dalam)
Tapi ini satu-satunya cara… biar kalau aku pingsan di pelaminan, ada napasmu di tenggorokanku.
RARA:
(Memakai gaun itu perlahan, seperti bersenjata)
Bayanganku di cermin tadi bisik: “Kau pengkhianat.”
(Memasang jam di gelang gaun seperti liontin)
Tapi Arga…
(Menekan kaca hingga kepalan tangan berkeringat)
Aku lebih takut jadi pengkhianat untuk diriku sendiri. Hidup dalam kebohongan… mencintai pria baik dengan separuh hati yang beku.
Penutup (ambigu):
RARA:
(Rara berdiri tegak di depan pintu. Senyum sempurna terpahat di wajahnya. Tangan kirinya menggenggam buket bunga, tangan kanan mencengkeram jam Arga.)
Aku akan turun sekarang. Akan kucium pipinya. Akan kukatakan “saya terima”…
(Menoleh ke bayangan di cermin)
…dan di setiap helaan napas…
(Membuka jam, memuntir jarumnya mundur)
…akan kusisipkan racun untukmu:
“Ini untuk kebaikan kita.”
ATAU
“Tunggu aku di seberang.”
Kau pilih yang mana?
(Dia memutar gagang pintu. Cahaya kuning dari lorong menerobos, menyilaukan. Jam di tangannya berdetak liar — tik-tak-tik-tak — seperti jantung yang tersiksa. Lalu…)
Gelap total. Suara detak jam menjadi satu-satunya yang terdengar.
Catatan Psikologis & Akting:
- Karakter Dika Tidak Secara Fisik:
- Hanya disebut lewat voice note tak terdengar (Rara bereaksi seolah mendengarnya)
- Hadir lewat tekanan sosial (teriakan ibu, suara resepsi)
- Simbol melalui benda asing: buket bunga, voice note imajiner
- Objek Pengganti Interaksi:
- Manekin Gaun : Representasi Dika & ekspektasi keluarga
- Jam Mati : Tubuh Arga yang bisu
- Gunting : Senjata pemutus masa lalu
- Ending Tanpa Kepastian:
- Apakah dia benar-benar pergi ke pelaminan?
- Detak jam akhir: simbol kebangkitan Arga? Atau halusinasi Rara?
- Racun “tunggu aku di seberang” = isyarat bunuh diri terselubung
- Tantangan Akting Solo:
Emosi: Melankolis → Kemarahan → Euforia Palsu → Ketenangan Mematikan
Blocking Penting:
a. Saat teriak ke pintu – posisi membelakangi penonton
b. Memotong rambut manekin – gerakan ritualistik seperti penyihir
c. Ending – senyum statis seperti topeng, mata kosong
Monolog ini adalah pertarungan antara tiga Rara: Rara masa lalu (pecundang yang meratap), Rara present (pengantin zombie), dan Rara masa depan (pembunuh diri atau penipu ulung)