Novel: Echo (22/22)

BAB 22: TAMAN DI UJUNG DUA DUNIA

(LIMA TAHUN KEMUDIAN – PULAU KARANG KURA-KURA, LAUT JAWA)

Angin laut bertiup lembut menerbangkan kelopak Bunga Api-putih—hibrida baru dari nektar bunga kembar dan darah naga—yang tumbuh subur di taman karang. Di tengah pulau buatan, Patung Nayla dan Rini dari logam daur ulang KRI Nanggala berdiri, tangan mereka menunjuk ke arah palung tempat Nyi Roro Khadita beristirahat. Seorang gadis kecil berlari mengejar kupu-kupu bio-luminis, tawanya menggema di antara bebunyian gamelan pasir yang dimainkan Suku Bajo.

“Mereka menyebutnya Sundapura Maritim,” Lena berkata pada Dimas yang duduk di kursi roda tenaga surya. Tubuhnya kini diselubungi jalinan akar emas dan kulit naga yang hidup—efek fusi darah manusia-limbah yang menyelamatkan nyawanya sekaligus membatasinya pada kursi ini.

“Dan dia?” Dimas menunjuk remaja di dermaga yang sedang melatih naga muda seukuran kuda—makhluk itu mengeluarkan semburan api biru untuk memanaskan air tambak udang.

“Putra Profesor Junior. Sang ‘Penjinak Api’ pertama,” senyum Lena. “Setelah ayahnya diadili, dia pilih rehabilitasi dengan merawat naga-naga tersisa.”

Di kejauhan, KRI Nusantara Jaya II berlabuh—kapal riset sekaligus sekolah terapung untuk anak-anak pesisir.

PENGADILAN TERAKHIR DI BAWAH LAUT

Dengan teknologi hologram bawah air, pengadilan Profesor Junior digelar di Ruang Hati Kura-Kura—bekas kapal selam yang jadi museum interaktif. Yang hadir unik:

  • Juri nelayan dari 7 negara.
  • Nyi Roro Khadita diwakili gurita bercahaya yang memancarkan emosi.
  • Hologram Nayla-Rini sebagai saksi abadi.

“Vonismu,” hakim kepala membacakan, “Hidup di Pulau Karang ini—memelihara Bunga Api-putih dan mencatat setiap perubahan ekosistem.”

Profesor Junior menunduk. “Hukuman… atau hadiah?”

“Pilihan ada padamu,” sahut Dimas melalui layar. Di dadanya, kalung mutiara-hitam Nyi Roro Khadita berpendar—sekarang hanya tersisa 3 butir hitam.

PENCARIAN SANG NAGA TERAKHIR

Pulau karang bergetar. Gunung Welirang di Jawa Timur meletus kecil, abunya membentuk pola naga di langit. “Induknya ada di sana,” bisik Dimas. “Dia memanggil.”

Dengan kursi rodanya yang bisa terbang rendah, Dimas menuju lereng Welirang. Lena dan Penjinak Api muda menyusul. Di kawah, pemandangan menakjubkan:

  • Naga betina raksasa tidur melingkar di lava, tubuhnya ditumbuhi tumbuhan logam berbunga.
  • Anak naga kini sebesar truk, bermain dengan kambing gunung yang tidak takut.

Saat Dimas mendekat, induk naga membuka mata. “Penyebab luka.. dan penyembuh.”

“Aku datang untuk damai,” ucap Dimas, menunjukkan lengan akar-naganya. “Lihat—darahmu menyatu dengan Sundapura. Kita keluarga sekarang.”

Naga itu mengendus kalung mutiara. Satu butir hitam meledak jadi debu energi, menyembuhkan luka bakar di sayapnya.

RITUAL PENYATUAN DI KAWAH

Malam purnama. Suku Tengger memimpin ritual di tepi kawah. Tari Topeng Naga ditarikan dengan kostum dari serat baja daur ulang. Saat puncak tarian, Dimas melemparkan butir mutiara hitam terakhir ke lava.

BOOM!

Ledakan cahaya oranye-biru! Dari kawah, pohon raksasa tumbuh instant—batangnya baja berkarat, daunnya api-putih, akarnya mencengkeram naga induk dengan lembut.

“Ini Pohon Batara,” bisik tetua Tengger. “Tempat bersemayam roh penjaga gunung dan laut.”

Naga betina mendesah lega, tubuhnya menyatu dengan pohon. Anak naga menggosokkan kepala ke kursi Dimas—sebuah ikatan.

“Dia titipkan anaknya padamu,” Lena menitikkan air mata.

KURSI PENJAGA ABADI

Kembali ke Pulau Karang, Dimas tahu waktunya hampir habis. Akar di tubuhnya menjalar ke tanah, menyatu dengan karang.

“Ada dua pilihan,” hologram Nayla-Rini muncul. “Lepaskan ikatan, hidup normal 10 tahun lagi. Atau…”

“…menjadi bagian dari Pohon Batara,” sambung Dimas. “Menjadi jembatan selamanya.”

Dia pilih yang kedua.

Di upacara perpisahan:

  • Sersan Aji meletakkan baju TEDA di kaki kursi Dimas.
  • Lena mengalungkan bunga api-putih.
  • Penjinak Api Muda membawa naga kecil bersayap.

“Dengan ini, kami serahkan Tongkat Penyeimbang,” tetua Dewan memberi tongkat kayu dari gagang Echo terakhir. “Kepada generasi baru.”

Tongkat itu diterima Aruna—putri nelayan Bali yang selamat dari tsunami dulu, kini ahli ekologi laut.

DI BAWAH BAYANG POHON BATARA      

10 TAHUN KEMUDIAN

Aruna (25 tahun) berdiri di bawah Pohon Batara di Welirang. Di dahan-dahan baja, wajah Dimas tersenyum dari balik kulit kayu-logam. Akarnya menjalar hingga ke Pulau Karang.

Di sampingnya, Penjinak Api (kini bernama Daru) bersiul. Naga dewasa setinggi gedung mendarat, mengangguk pada pohon.

“Laporan dari Palung Jawa,” Aruna membuka hologram. “Nyi Roro Khadita melahirkan entitas baru—gurita cahaya pembersih mikroplastik.”

Daru tertawa. “Dan naga kita bertelur lagi.”

Mereka menatap langit. Konstelasinya berbeda: Gugusan bintang Nayla-Rini berpendar di utara, nebula kalung mutiara Nyi Roro Khadita di selatan.

“Dia ada di mana-mana sekarang,” bisik Aruna.

Angin berbisik melalui daun api-putih, membawa suara yang familiar:
“Jaga keseimbangan… hanya sementara… selalu.”

Di kaki pohon, anak kecil Suku Tengger menaruh sesaji—gadget rusak yang ditumbuhi lumut neon. Keseimbangan baru terus berputar.

– TAMAT –


Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22