Novel: Bisikan Gletser di Hati Eiger (5/12)

BAB 5: TARIAN CAHAYA FÖHN DI LAUTERBRUNNEN

Matahari pagi menyelinap melalui celah jendela Schutzhütte, menyapu sisa dingin malam. Rania bangun dengan kepala masih berdenyut pelan, tapi tubuhnya terasa lebih pulih. Aroma kopi kuat dan roti panggang memenuhi udara. Di bawah, Arno sedang membalik rösti—parutan kentang garing khas Swiss—di atas kompor besi.

Morgen,” sapanya singkat tanpa menoleh. Suaranya masih serak, tapi lebih tenang dari semalam. “Der Sturm ist vorbei. Badai sudah berlalu.”

Rania turun, menyaksikan pemandangan dari jendela. Napasnya tertahan. Lauterbrunnen—lembah legendaris 72 air terjun—terbentang di bawah seperti lukisan hidup. Dinding tebing vertikal mengapit hamparan hijau, sementara pita-pita air terjun berkilauan seperti perak cair di bawah matahari pagi. Yang paling megah, Staubbachfall, menjulur dari ketinggian 300 meter, uap airnya menari-nari membentuk pelangi mini.

Gletschertöpfe,” kata Arno tiba-tiba, meletakkan piring rösti dan telor mata sapi di depan Rania. “Lembah berbentuk U ini diukir gletser zaman es. Lihat dinding tebingnya? Licin dan vertikal—tanda kikisan es purba.”

Rania mengangguk, mulutnya penuh rösti gurih. “Seperti dibelah raksasa.”

Ja. Dan sekarang,” ia menatap Rania, “kita turun ke sana. Tapi jalannya… interessant.”

Interessant ternyata berarti: memanjat tebing di belakang air terjun Staubbachfall via jalur via ferrata tersembunyi.

“Kau gila?” protes Rania saat mereka berdiri di dasar tebing, menatap kabel baja yang membelah tirai air. Kabut basah dari air terjun membasahi wajah mereka.

Nein. Jalur ini aman. Dan pemandangannya—” Arno tersenyum kecil untuk pertama kalinya, “—atemberaubend. Memikat napas.” Ia menyiapkan harness. “Kita terikat sama seperti kemarin. Jarak tetap tiga meter.”

Sentakan pertama saat kaki Rania meninggalkan tanah terasa mengerikan. Tapi begitu mereka naik, dunia berubah. Staubbachfall bukan lagi air terjun—ia menjadi badai yang hidup. Air mengalir deras di samping mereka, gemuruhnya menggelegar di tulang, kabut basah membasahi segala sesuatu. Melalui celah tirai air, Lauterbrunnen terlihat seperti surga tersembunyi: rumah-rumah kayu cokelat, padang rumput zamrud, dan puncak salju di kejauhan.

Schau! Lihat!” teriak Arno di atasnya.

Rania mengikuti arah telunjuknya. Di lekukan tebing, tersembunyi di balik tirai air, sebuah gua kecil terbentuk. Di dindingnya, puluhan Steinmännchen (tumpukan batu) mini berjejer rapi—beberapa terlihat sangat tua.

“Tradisi pendaki lokal,” teriak Arno menembus deru air. “Meninggalkan batu di sini untuk keberuntungan. Dan…” Ia merogoh kantong, mengeluarkan batu pipih berwarna abu-abu. “…untuk yang telah pergi.” Batu itu ia tumpuk pelan di antara yang lain. Rania melihat ukiran kecil: L + S.

Lukas dan Sophie.

Hujan rintik-rintik basah di pipinya bukan cuma dari air terjun.

Di puncak tebing, mereka melepas harness. Matahari lebih hangat sekarang, mengeringkan pakaian mereka. Tiba-tiba, angin aneh berhembus—hangat, kering, dan membawa aroma bunga padang rumput.

Föhn,” ucap Arno, menutup mata, menikmati hembusan. “Angin gunung ajaib. Terjadi saat tekanan udara berbeda antara utara-selatan Alpen.”

Efeknya ajaib. Kabut air terjun tersapu, langit berubah biru pekat. Tapi yang lebih menakjubkan: cahaya matahari membiaskan uap air, menciptakan lingkaran pelangi sempurna (glory) di atas bayangan mereka di padang rumput bawah!

Ein Göttersegen! Berkat dewa!” bisik Arno.

Rania tak kuasa menahan diri. Ia mengeluarkan kamera saku dari tas anti-air. Klik. Arno yang sedang menatap pelangi dengan wajah tenang—bekas luka dan kerutan kekhawatirannya seolah lenyap.

Arno menoleh, alisnya berkerut. “Wieder Fotos? Foto lagi?”

“Yang ini takkan kucuri jiwamu,” jawab Rania, tersenyum. “Ini… untuk mengingat Föhn.”

Sesuatu yang lembut melintas di mata Arno. Ia tak meminta kamera disita.

Turun ke desa Lauterbrunnen, mereka disambut gemericik Sungai Lütschine yang jernih kebiruan. Arno mengajak Rania ke Berggasthaus (penginapan gunung) kecil milik pasangan tua—Fritz dan Elsa.

Grüezi, Arno!” sambut Elsa hangat, memeluknya. Matanya penuh kasihan saat melihat Arno, lalu penasaran pada Rania.

Di teras kayu dengan pemandangan air terjun Trümmelbach di kejauhan, Elsa menghidangkan Apfelstrudel hangat dan teh herbal. “Trümmelbachfälle— itu monster di perut gunung!” katanya bersemangat. “Sepuluh air terjun di dalam gua, diukir es! Kau harus lihat!”

Saat Elsa masuk mengambil krim, Fritz bersandar. “Arno seperti anakku sendiri,” bisiknya pada Rania. “Dia jarang bawa siapa-siapa ke sini… sejak das Unglück.” Musibah itu.

“Dia sering ke sini?” tanya Rania.

Ja. Setiap bulan. Selalu ke gua di balik Staubbachfall… menambah batu untuk Steinmännchen-nya.” Fritz memandang Arno yang sedang memandang puncak gunung. “Der Berg heilt, aber langsam. Gunung menyembuhkan, tapi pelan.”

Malam harinya, di kamar kayu sederhana Berggasthaus, Rania tak bisa tidur. Suara air terjun dan cerita Fritz berputar di kepalanya. Ia keluar ke balkon. Di bawah, di taman bunga, Arno duduk di bangku, memandang bulan purnama yang menyinari puncak Breithorn.

Rania turun. “Tidak bisa tidur?”

Arno terkejut, lalu menggeser badan memberi tempat. “Nein. Pikirankau… ribut.”

Mereka duduk dalam keheningan. Suara jangkrik dan gemericik air jadi musik latar.

“Aku paham kenapa kau membenciku di awal,” ucap Rania tiba-tiba. “Aku adalah pengingat hidup.”

Arno menarik napas dalam. “Aku tak membencimu, Rania. Aku… takut.” Ia menatap tangannya. “Takut kehilangan lagi. Takut gagal melindungi lagi.”

Rania menyentuh lengan Arno. Ototnya tegang. “Kau tak harus melindungiku. Aku bisa jadi… partner.”

Arno memandangnya—benar-benar memandang—untuk pertama kali. Cahaya bulan menyinari separuh wajahnya, separuh lagi dalam bayangan. “Partner,” gumamnya, mencoba kata itu.

Tiba-tiba, angin Föhn kembali berhembus, hangat dan membelai. Seperti menjawab.

Weißt du was?” Arno tiba-tiba berdiri. “Aku punya ide.”

Dia masuk ke gudang kecil, keluar membawa dua pasang sepatu tradisional Swiss—Haferlschuhe—sepatu kulit tebal dengan sol kuku. “Mari kita tanzen.”

“Menari? Sekarang? Di taman?” Rania tertawa.

Ja! Musik Ländler (tarian tradisional) tak butuh alat musik!” Ia merentangkan tangan. “Angin Föhn adalah biolanya, gemericik air adalah basnya!”

Gerakannya kikuk tapi penuh semangat. Kaki kanan maju, disilang kiri, berputar. Rania tertawa geli, mencoba meniru. Haferlschuhe-nya berat, tapi membuatnya merasa seperti petani Alpen. Mereka berputar-putar di bawah bulan, tersandung-sandung, tertawa seperti anak kecil.

Saat Arno menarik Rania untuk berputar lebih cepat, kaki Rania tersandung akar. Ia terjatuh ke pelukan Arno.

Tawa mereka terhenti.

Dada Rania berdebar kencang menempel dada Arno. Tangan Arno erat di pinggangnya. Mata birunya—yang biasanya dingin—kini membara seperti api unggun di Schutzhütte. Udara di antara mereka bergetar. Kabut Föhn beraroma bunga mengelilingi mereka.

“Rania…” desis Arno, suaranya serak.

Dunia seolah berhenti. Gemuruh air terjun, kicau jangkrik, semuanya meredam.

Tapi sebelum sesuatu terjadi, sorot lampu senter menyapu taman.

Arno? Bist du das?” suara Fritz memecah keheningan.

Arno menarik diri secepat tersambar petir. “Ja, Fritz! Nur… spazieren! Hanya jalan-jalan!”

Saat Fritz pergi, ketegangan pecah. Arno mengusap wajah. “Kita… sebaiknya tidur. Besok ke Trümmelbachfälle.”

Rania mengangguk, kecewa tapi juga lega. Saat ia berbalik menuju pintu, tangan Arno menyentuh lengannya.

Danke,” bisiknya. “Untuk tadi… untuk tariannya.”

Dan di matanya, Rania melihat sesuatu yang baru: kerentanan yang tak tersembunyi, dan mungkin, benih harapan.

Saat ia berbaring di tempat tidur, aroma Föhn masih terasa di kulitnya—hangat, manis, dan menjanjikan perubahan. Angin aneh itu, pikirnya, bukan hanya mengubah cuaca. Ia juga mencairkan lapisan es di hati seorang pemandu gunung.


Glossary:

  1. Lauterbrunnen: “Lembah 72 Air Terjun” di Swiss, lembah glasial berbentuk U yang spektakuler.
  2. Staubbachfall: Air terjun setinggi 300m, salah satu yang tertinggi di Eropa.
  3. Gletschertöpfe: “Potongan Gletser” – formasi batuan berbentuk mangkuk hasil erosi gletser zaman es.
  4. Föhn: Angin hangat/kering khas pegunungan Alpen yang muncul saat perbedaan tekanan udara, bisa mengubah cuaca drastis.
  5. Glory: Fenomena optis berupa lingkaran pelangi mengelilingi bayangan di awan/kabut.
  6. Trümmelbachfälle: 10 air terjun dalam gua glasial, satu-satunya di dunia.
  7. Berggasthaus: Penginapan tradisional di pegunungan, biasanya keluarga.
  8. Apfelstrudel: Pai apel khas Jerman/Swiss, berlapis-lapis dengan kayu manis.
  9. Haferlschuhe: Sepatu kulit tradisional pegunungan Swiss/Austria, sol tebal untuk medan kasar.
  10. Ländler: Tarian rakyat tradisional Swiss sebelum waltz, diiringi akordeon atau nyanyian.
  11. Göttersegen: “Berkat dewa” (ungkapan kagum).
  12. Das Unglück: Musibah/kecelakaan.

“Angin Föhn mengajari kita hal aneh. Terkadang, kehangatan terkuat datang bukan dari matahari, tapi dari hati yang mulai berani mencair setelah membeku lama. Dan tarian paling indah? Yang dilakukan tanpa musik, di bawah bulan, dengan sepatu kikuk dan dua jiwa yang tak lagi takut tersandung.”
– Rania

Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12