Di sudut stasiun kereta yang sepi, berdiri sebuah telepon umum merah usang. Sudah bertahun-tahun tidak berfungsi, koin yang dimasukkan selalu jatuh ke lubang pengembalian, dan nomor-nomor yang diputar tidak pernah tersambung. Tapi setiap tanggal 15, tepat tengah malam, bel telepon itu tiba-tiba berdering—nyaring, seolah memecah kesunyian.
Malam itu, Andi, seorang mahasiswa yang baru gagal ujian, duduk lesu di bangku dekat telepon. Saat deringan itu terdengar lagi, ia mengangkatnya dengan ragu. “Halo?” Suara seorang wanita paruh baya terdengar pelan: “Jatuh bukan berarti akhir, Nak. Ibu percaya kamu bisa bangkit.” Andi tercekat—itu persis seperti kalimat yang selalu diucapkan ibunya sebelum meninggal setahun lalu.
Bulan berikutnya, seorang wanita bernama Siska melewati stasiun itu. Ia baru saja memutuskan hubungan dengan pacarnya setelah pertengkaran hebat. Saat telepon berdering, ia memberanikan diri mengangkat. “Dia sedang menunggumu di taman tempat kalian pertama kali bertemu,” bisik suara di seberang sana. Siska terkejut—tidak ada yang tahu tentang taman itu kecuali mereka berdua. Ketika ia datang ke sana, pacarnya memang sudah berdiri dengan mawar dan permintaan maaf.
Suatu malam, Pak Joko, pensiunan pegawai stasiun yang kesepian, duduk di dekat telepon. Ia sudah lama ingin mendengar suara anaknya yang merantau jauh. Tepat pukul 00:00, telepon berdering. “Ayah, aku pulang bulan depan,” suara itu membuatnya menangis. Padahal, ia belum sempat mengatakan sepatah kata pun.
Hingga suatu hari, telepon itu berdering di tanggal 15, tapi tidak ada seorang pun di stasiun. Beberapa orang yang lewat mendengarnya, tapi takut mengangkat. Keesokan paginya, telepon itu menghilang tanpa jejak. Hanya tersisa bekas dudukan di dinding dan secarik kertas kecil yang terselip di sela-sela bata:
“Terima kasih telah mendengarkan. Pesan terakhirku sudah sampai.”
TAMAT
Mungkin telepon itu hanya ilusi, atau mungkin benar-benar ada. Tapi yang pasti, di dunia yang semakin individualis, kadang kita semua hanya ingin didengarkan—bahkan oleh sesuatu yang tak terlihat.