Setiap Kamis sore, Daniel berdiri di depan lukisan itu selama tepat 27 menit—waktu yang diizinkan penjaga museum sebelum mulai mencurigainya.
“Portrait of a Lady in Blue”, karya pelukis tak dikenal abad ke-18. Wanita di dalam lukisan itu mengenakan gaun biru pudar, duduk di tepi jendela dengan senyum setengah terbentuk—seolah-olah baru saja mendengar lelucon yang hanya dia pahami. Matanya, hijau seperti lumut di batu basah, mengikuti Daniel ke mana pun ia bergerak.
“Kau lagi,” bisik Daniel pada suatu hari, jari-jarinya hampir menyentuh bingkai. “Aku tahu kau tersenyum lebih lebar minggu lalu.”
Penjaga museum, Pak Hendra, menghela napas. “Tuan Alden, itu hanya trick of the light.”
Tapi Daniel yakin. Minggu lalu rambut wanita itu terurai. Hari ini, terkuncir rapi.
Kamis berikutnya, Daniel datang dengan setangkai mawar. Gila? Mungkin. Tapi ketika ia meletakkan bunga di lantai depan lukisan, ia bersumpah melihat jemari wanita itu bergerak—sentuhan lembut di udara tempat bunga seharusnya berada.
“Kau cantik hari ini,” bisiknya.
Lukisan itu diam.
Tapi ketika Daniel pulang, hujan turun deras. Ia membuka payung, dan tiba-tiba—
Sehelai gaun biru.
Wanita dari lukisan itu berdiri di seberang jalan, payung hitam menutupi wajahnya. Darah Daniel membeku.
“Tidak mungkin—”
Saat mobil melintas, wanita itu lenyap.
Daniel mulai melihatnya di mana-mana.
Di kedai kopi, seorang wanita memesan teh dengan gerakan tangan yang persis seperti di lukisan. Di taman, bayangan berlari di antara pepohonan—gaun biru melambai.
Hingga suatu malam, ia mengetemui Daniel di depan museum.
“Kau seharusnya tidak memperhatikanku,” katanya, suaranya seperti gemerisik daun kering. “Aku bukan untuk dilihat.”
Daniel menggigil. “Siapa—apa kau?”
Wanita itu tersenyum—senyum yang kini ia kenal terlalu baik. “Pertanyaan yang salah. Kapan aku?”
Dia melangkah mendekat. Di bawah lampu jalan, Daniel melihat lukisan di kulitnya—cat yang retak di pelipis, warna biru yang memudar di pergelangan tangannya.
“Aku terjebak di tahun 1789,” bisiknya. “Dan kau baru saja membukaku.”
Angin berhembus kencang. Ketika Daniel berkedip, wanita itu sudah menghilang—kecuali seulas senyum di udara, persis seperti di lukisan.
Keesokan harinya, museum dalam kekacauan.
“Portrait of a Lady in Blue” kosong. Hanya latar belakang yang tersisa.
Dan di sudut kanvas, coretan cat baru: sepasang inisial “D.A” yang tidak pernah ada sebelumnya.
TAMAT
Istilah:
- Chronoslip– fenomena dimana subjek terjebak di antara waktu (implied)
- Canvas Ghost– hantu yang terikat pada lukisan
- Brushstroke Paradox– ketika perubahan pada karya seni mempengaruhi masa lalu