Cerpen: Dompet dan Sepiring Nasi

Kaki Arman dan adiknya, Budi, terasa berat melangkah di trotoar Surabaya yang panas. Perut mereka keroncongan, nyaris bersahutan. Uang dari mengumpulkan kardus bekas hari itu hanya cukup untuk membeli dua butir telur rebus, yang sudah lama habis ditelan kemiskinan yang akrab. “Aku lapar, Kak,” bisik Budi, suaranya lirih, matanya memandang kedai bakmi di seberang jalan yang menguar aroma sedap. Arman hanya meremas bahu adiknya yang kurus, hatinya sesak.

Mereka memutuskan beristirahat sebentar di bawah pohon rindang dekat taman. Saat Arman menunduk mengikat tali sepatunya yang longgar, sesuatu berkilau tertimpa sinar matahari terselip di antara akar pohon. “Aduh!” serunya hampir tanpa suara. Itu sebuah dompet kulit coklat, masih terlihat bagus. Jantungnya berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, Arman membukanya. Sekumpulan uang kertas berwarna merah dan biru tersusun rapi, ditambah beberapa kartu identitas.

“Ada uang, Kak? Banyak?” tanya Budi, matanya berbinar penuh harap, seolah sudah mencium aroma nasi hangat dan daging. Arman mengangguk kaku, memperkirakan jumlahnya. Uang itu bisa mengenyangkan mereka berdua selama berhari-hari, bahkan membeli sepatu baru untuk Budi yang jempolnya sudah menyembul. Bayangan bakmi goreng spesial dan es teh manis menari-nari di benak mereka.

Tapi Arman menatap foto di kartu identitas itu. Seorang bapak paruh baya dengan senyum hangat. “Ini… milik Pak Joko, alamatnya di Jalan Merdeka,” gumamnya. Jalan Merdeka adalah kawasan perumahan yang jauh lebih bagus dari gubuk reot mereka di pinggiran kota. Budi memegang lengan kakaknya. “Kita kembalikan, ya Kak? Kata Ibu, mengambil hak orang lain itu dosa.” Suara Budi kecil namun tegas.

Arman menatap wajah pucat adiknya, lalu ke dompet di tangannya. Pertarungan batin hebat terjadi. Kebutuhan mereka begitu mendesak, tapi kejujuran yang ditanamkan orang tua mereka sejak kecil menggigit kuat. “Iya,” akhirnya Arman menghela napas panjang, suaranya parau. “Kita cari alamatnya. Semoga cepat ketemu.” Mereka bangkit, perut lapar namun langkahnya terasa sedikit lebih ringan.

Setelah bertanya pada beberapa orang dan berjalan cukup jauh, mereka berdiri di depan pagar rumah yang rapi di Jalan Merdeka. Arman menekan bel dengan gugup. Seorang bapak persis seperti di foto membuka pintu, wajahnya penuh tanya. “Maaf, Pak. Kami menemukan dompet Bapak di taman,” kata Arman sambil menyerahkan dompet itu, suaranya bergetar. Pak Joko membuka dompetnya, matanya melebar. “Astaga! Terima kasih banyak, Nak! Aku baru sadar kehilangan saat mau bayar belanjaan.”

Pak Joko memandangi mereka berdua, kulihat dari baju lusuh dan sepatu dekil mereka. “Kalian pasti dari jauh? Sudah makan?” tanyanya lembut. Arman dan Budi hanya menggeleng, malu. Tanpa banyak bicara, Pak Joko mengajak mereka masuk. Di meja makan, tersaji hidangan sederhana namun menggiurkan bagi mereka: nasi putih hangat, telur dadar, tempe goreng, dan sayur bening. “Makanlah dulu, Nak. Kalian pasti lapar,” ajaknya. Air mata berkaca-kaca di pelupuk mata Arman dan Budi.

Sambil makan dengan lahap namun sopan, mereka bercerita singkat tentang keadaan keluarga mereka. Pak Joko mendengarkan penuh perhatian. Setelah makan, selain mengucapkan terima kasih berulang kali, Pak Joko menyelipkan sejumlah uang ke tangan Arman – lebih banyak dari yang ada di dompetnya. “Ini untuk kalian, sebagai rasa terima kasih dan bantuan kecil,” ujarnya. Ia juga menawarkan pekerjaan paruh waktu kepada Arman untuk membantu membereskan kebun belakang setiap akhir pekan.

Arman dan Budi pulang dengan perut kenyang, hati hangat, dan sedikit harapan di kantong. Langkah mereka kali ini benar-benar ringan. Mereka belajar, bahwa di tengah kelaparan dan keputusasaan, memegang teguh kejujuran dan kesetiakawanan – saling menguatkan antara kakak dan adik, serta kepercayaan kepada kebaikan orang lain – bisa membuka jalan tak terduga. Kesetiakawanan itu bukan hanya tentang memberi materi, tapi juga tentang saling menguatkan dalam kejujuran dan mempercayai bahwa kebaikan akan bertemu kebaikan, seperti sinar matahari yang selalu menemukan celah untuk menyinari.

TAMAT