Luna merasa seperti ikan di darat sejak pindah ke desa kecil di kaki gunung, mengikuti orang tuanya yang mengambil alih warung kecil. Suara mesin kota diganti kicau burung dan gemericik sungai, tapi kesepian itu nyata. Satu-satunya tempat yang memberinya ketenangan adalah Telaga Sunyi, kolam gelap di hutan belakang desa yang dikeramatkan warga. Mereka bilang, roh penjaga tinggal di sana, dan bisikannya hanya gumaman tak jelas bagi yang tak berhati bersih.
Luna mulai sering ke telaga, duduk di akar beringin besar. Awalnya, ia hanya mendengar desau angin dan jangkrik. Tapi suatu malam, saat bulan purnama menyinari permukaan air seperti kaca hitam, ia mendengarnya: bisikan samar, seperti angin melalui celah batu, tapi lebih… bernada. Bukan bahasa desa, tapi Luna paham intinya: “Dengar… Waspada…” Jantungnya berdebar kencang. Apakah ini imajinasinya karena kesepian?
Bisikan itu semakin sering, semakin jelas. “Mereka datang… Gergaji… Rantai…” Luna memberanikan diri cerita pada beberapa warga, termasuk teman sekelasnya. Tanggapan mereka dingin, bahkan mengejek. “Dasar anak kota, kurang kerjaan,” bisik seseorang. “Jangan-jangan kerasukan roh telaga,” kata yang lain dengan setengah takut. Luna merasa semakin terasing.
Suatu siang, truk-truk besar berlogo “PT Soember Makmoer” masuk desa. Mereka mengumumkan rencana membuka perkebunan kelapa sawit skala besar di lereng gunung, tepat di area hutan yang melingkupi Telaga Sunyi. “Ini kemajuan! Banyak lapangan kerja!” seru kepala desa. Luna teringat bisikan: “Gergaji… Rantai…” Ia tahu inilah yang diperingatkan.
Luna nekat menemui perwakilan perusahaan, suaranya gemetar menyampaikan peringatan dari Telaga Sunyi. Pria berkemeja rapi itu tertawa ringan. “Cerita dongeng, Nak. Kami punya izin dan kajian lingkungan. Jangan halangi pembangunan.” Keputusasaan mulai menyergap Luna. Hanya satu orang yang memandangnya serius: Mbah Kamto, kakek tua renta yang tinggal di gubuk tepi hutan, penjaga telaga turun-temurun. “Telaga bicara padamu karena kau bersedia mendengar, Luna,” katanya dengan suara parau namun tegas.
Mbah Kamto membawa Luna lebih dalam ke hutan, menunjukkan sumber mata air kecil yang mengalir jernih menuju Telaga Sunyi. “Telaga ini ibu bagi semua mata air desa. Jika hutannya ditebang, sumber ini akan mati. Desa kita akan kehausan.” Bisikan di kepala Luna mendesak: “Buktikan… Air… Akar…” Mbah Kamto mengangguk, seolah mendengar hal yang sama. “Kita perlu bukti nyata, Luna. Sebelum esok pagi mereka mulai tebang.”
Dengan senter dan tekad, Luna dan Mbah Kamto kembali ke telaga di tengah malam yang pekat. Bulan tersembunyi di balik awan. Saat Luna menyentuh air dingin seperti biasa, memohon petunjuk, sesuatu yang ajaib terjadi. Cahaya kehijauan samar muncul dari dasar telaga, membentuk pola rumit seperti akar pohon raksasa yang menyebar jauh ke dalam tanah. Pola cahaya itu bergerak, mengarah ke sebuah titik di tepi hutan, dekat lokasi rencana penebangan. Di sana, di bawah batu besar, mereka menemukan mata air kecil yang tiba-tiba memancar lebih deras, seolah merespons kehadiran mereka.
Pagi harinya, saat alat berat mendengung hendak mulai bekerja, Luna dan Mbah Kamto berdiri di depan truk pertama. Dengan suara lantang, Luna menceritakan apa yang terjadi semalam, menunjukkan mata air yang deras itu, dan memperingatkan bencana kekeringan. Beberapa warga mulai ragu. Perwakilan perusahaan marah, mengancam akan memanggil polisi. Tapi tiba-tiba, dari arah telaga, suara gemuruh aneh terdengar. Bukan gempa, tapi seperti aliran air besar yang bergolak. Air Telaga Sunyi, yang biasanya tenang, bergelombang tinggi dan berubah warna menjadi hijau terang, memancarkan cahaya yang bahkan terlihat dari kejauhan. Semua terdiam, ketakutan dan kagum.
Peristiwa ajaib di Telaga Sunyi itu menjadi pembicaraan. Perusahaan, takut akan isu mistis dan protes warga yang mulai membesar (didukung bukti mata air yang menjadi pertanda), menarik diri sementara. Penebangan dihentikan. Luna tak lagi dianggap anak kota aneh. Warga mulai memandangnya, dan terutama Mbah Kamto, dengan rasa hormat baru. Bisikan di Telaga Sunyi masih terdengar samar oleh Luna, tapi kini nadanya lebih tenang: “Terima kasih… Jaga…” Luna tersenyum, menatap air telaga yang sudah kembali jernih namun tetap menyimpan misteri. Ia telah menemukan bukan hanya suara penjaga telaga, tapi juga suaranya sendiri, dan sebuah tempat untuk disebut rumah. Perlindungan Telaga Sunyi baru dimulai, dan Luna tahu, perannya belum selesai. Masih ada yang meragukan, tapi air itu mengalir jernih – bukti nyata yang berbicara lebih keras daripada keraguan.
TAMAT