Novel: Echo (5/22)

BAB 5: MAGMA DAN PENGKHIANATAN

(TEROWONGAN BAWAH GUNUNG HALIMUN – KEDALAMAN 500 METER)

Kereta magnetik meluncur dalam kegelapan, hanya diterangi pendar biru Echo Keberanian dan lampu hijau dari jam tangan Dimas. Hembusan udara lembab berbau belerang dan logam panas menusuk hidung. Di luar jendela, dinding terowongan berubah dari batuan alami menjadi logam bergerigi—struktur bor raksasa NeoNusantara.

Kedekatan Target: 2 Kilometer. Suhu Lingkungan: 45°C dan Meningkat,” AI jam memperingatkan.

Rini menggigil meski kepanasan. Sarung Sunda di tangannya berpendar keemasan, terhubung dengan getaran halus di bawah kaki mereka. “Batu Galih… ketakutan. Rasanya seperti… jantung yang dikepung.”

“Kita hampir sampai,” kata Dimas, merapikan Baju Gelombangnya yang memantulkan cahaya keris. Tapi pikirannya di Nayla. Apakah dia merasakan ini? Apakah chip Scorpio di lehernya menyiksa dia saat Batu Galih terluka?

SKREEEEEECH!

Kereta berhenti mendadak. Lampu padam. Hanya keris dan sarung Rini yang menerangi.

Gangguan: Sinyal Galih Energy Tinggi. Jalur Tergenang Magma Buatan,” AI jam memproyeksikan gambar: Sebuah sungai magma merah-orange memblokir jalur kereta. Di seberangnya, mulut bor raksasa berputar dengan suara mengerikan.

“Magma buatan?” Rini bingung.

“NeoNusantara memompa energi panas bumi secara paksa,” Dimas mengerutkan kening. “Mereka bakar jalan untuk halangi penyusup.”

STASIUN MAGMA

Mereka turun. Panasnya menyengat. Di tepi sungai magma, sebuah platform logam tua—bekas stasiun kereta masa perang—masih berdiri. Di tengahnya, menara kontrol dengan antena rusak.

“Ada cara mematikan pompa magma!” seru Arman yang ikut dalam tim. “Di menara itu pasti ada panel manual!”

Tapi di antara mereka dan menara, magma menggelembung ganas.

Deteksi Jejak Emosi: Keputusasaan Intens,” AI jam berbunyi. Sorot lampunya menyinari sudut gelap di balik menara.

Seorang pria tergeletak—seragam teknisi NeoNusantara berlumuran lumpur dan darah. Napasnya tersengal.

“Tolong…” bisiknya. “Mereka… tinggalkan aku…”

Rini maju, tapi Dimas menahannya. “Jangan. Bisa jadi jebakan.”

Keris di tangannya bergetar aneh—bukan ketakutan, tapi… kesedihan mendalam.

“Kak Dimas…” Rini memandang pria itu. “Sarung Sundaku… merasakan kebenaran darinya. Dia korban.”

Dengan hati-hati, mereka mendekat. Pria itu—namatag BEN di seragamnya—memperlihatkan luka bakar di punggung. “Saya… teknisi penjaga pompa. Ketika bor nyapai zona bahaya… Kapten Garuda perintah evakuasi. Tapi… dia kunci pintu… biar kami mati di sini…”

“Kenapa?” tanya Dimas.

“Karena… dia tahu rahasia Bor Utama…” Ben batuk darah. “Bor bukan untuk menambang Galih Energy… Tapi untuk menyuntikkan chip Scorpio ke jantung Batu Galih! Mengontrolnya dari jarak jauh!”

Rini menjerit kecil. Sarung Sundanya menyala merah marah.

“Di menara… ada panel override,” Ben menunjuk. “Tapi… kuncinya…” Dia mengeluarkan kartu akses berlumuran darah. “Ambil… hentikan mereka…”

Saat Dimas mengambil kartu, sesuatu terjadi.

Mata Ben yang tadi penuh kesedihan, berubah dingin. Senyum tipis mengembang.

Dan… terima kasih untuk kartu akses Level Alpha-mu, Tuan Rahardja.

ZZZT!

Dari jari Ben, jarum listrik menyambar leher Dimas! Baju Gelombang menyerap sebagian, tapi Dimas terlempar. Echo Keberanian terlepas!

“BEN! KAU—”

Bukan Ben,” ucap pria itu bangkit, lukanya menghilang—hologram sempurna. Wajahnya berubah: Wanita berambut pendek, mata biru es, dengan tato sirkuit di pelipis. “Agent Sigma. Direktur Ratna mengirim salam.”

Dia menyambar kartu akses dan keris yang jatuh!

“TIDAK!” Rini menerjang. Sarung Sundanya menyemburkan gelombang keemasan.

Tapi Agent Sigma tertawa. Dia menangkis dengan Echo Keberanian!

KRAAAK!

Gelombang energi bertabrakan. Seluruh stasiun bergetar. Magma menyembur tinggi.

“Foolish girl,” desis Sigma. “Keris ini hanya patuh pada darah Rahardja. Kau bukan apa-apa!”

Dia membalikkan keris, menusukkannya ke tanah. Gelombang biru kehitaman menyebar—ketakutan murni Dimas akan kegagalan.

Rini terjengkang, menjerit kesakitan. Sarung Sunda-nya retak!

“RINI!” Dimas berusaha bangkit, tapi sengatan listrik masih melumpuhkannya.

Sigma berjalan ke menara kontrol, memasukkan kartu akses. “Dengan ini, jalur magma terbuka. Bor Utama akan mencapai Batu Galih dalam… 10 menit.”

KLAK! KLAK! KLAK!

Pintu logam di seberang magma terbuka. Jalan menuju Bor Utama terbuka, tapi magma mulai surut—membuka jalan bagi Sigma!

“Dan untuk kalian…” Sigma tersenyum. Dia menekan tombol di panel. “Selamat menikmati sauna.

BRRRRRRMMMM!

Pompa magma bekerja membalik. Alih-alih memblokir jalan, magma sekarang mengalir deras memenuhi stasiun, mengurung Dimas dan Rini di pulau logam kecil!

AIR MATA DAN MAGMA

Panasnya tak tertahankan. Oksigen menipis. Rini merangkak ke Dimas, sarung Sundanya nyaris padam.

“Maaf… Bang… aku gagal…” air matanya menguap sebelum menyentuh tanah.

Dimas memandang keris di tangan Sigma yang berlari ke Bor Utama. Echo Keberanian—warisan, beban, harapan—kini di tangan musuh. Pikiran tentang Nayla, warga Sinarresmi, Batu Galih yang ketakutan… semuanya runtuh.

Inilah akhir. Gagal lagi.

Tapi matanya jatuh pada sepatu merah kecil di sakunya—pemberian Pak Asep. Kenangan Nayla sebelum segalanya hancur.

“Kak, lihat! Kupu-kupu sepatuku merah bisa terbang!” suara Nayla kecil berbisik dalam ingatannya.

Dan sesuatu dalam dirinya tersentak. Keberanian bukan tentang tidak takut… Tapi tentang menemukan secercah cahaya dalam kegelapan.

Dia melihat Rini—gadis yang begitu kuat meski penuh kecemasan, kini sekarat di pangkuannya.

Dia melihat Sarung Sunda yang retak—masih memancarkan sinar keemasan tipis.

Dia melihat magma—bukan sebagai penghalang, tapi… sumber energi.

“Rini,” desisnya, suara parau. “Kau masih bisa menyentuh jaringan Sundapura?”

Rini mengangguk lemah. “Sedikit… tapi sakit…”

“Fokus pada satu emosi saja. Bukan ketakutan Batu Galih… Tapi harapan-nya. Harapan bahwa kita akan datang.”

“Tapi… kerisnya…”

“Kita tak butuh keris,” ucap Dimas, mata bersinar tekad baru. “Kita punya sepatu merah.”

Dia mengeluarkan sepatu kecil itu. Bukan benda ajaib, tapi simbol cinta murni—energi yang tak bisa dikorupsi NeoNusantara atau chip Scorpio.

“Pegang ini. Dan bayangkan… bayangkan Halimun yang hijau, warga Sinarresmi tertawa, Pak Asep memetik kopi…”

Rini memegang sepatu itu. Ajaibnya, Sarung Sunda yang retak mulai berpendar lagi—keemasan murni, bukan kemarahan atau ketakutan.

Sundapura…” bisik Rini, matanya terpejam. “…kami datang.

TARIAN DI ATAS MAGMA

Getaran dimulai. Lembut. Dari bawah pulau logam, akar-akar emas Sundapura menyembul! Mereka menari di atas magma, membentuk jembatan goyang menuju pintu Bor Utama!

“Tidak mungkin…” gumam Dimas takjub.

“Batu Galih… merespons harapan!” senyum Rini lemah.

Mereka berlari di atas akar emas, panas magma membakar sol sepatu. Di depan, Bor Utama—sebuah monster logam setinggi 30 meter—berdentum menghujam perut bumi. Agent Sigma sudah naik ke kabin kontrolnya.

“KALIAN HARUSNYA MATI!” teriak Sigma lewat pengeras suara.

Dia mengarahkan Echo Keberanian ke arah mereka. Gelombang ketakutan hitam menyembur.

Tapi Dimas dan Rini tak menghindar. Mereka memegang sepatu merah itu bersama.

“KAMI DATANG UNTUK MENYEMBUHKAN, BUKAN MENAKLUKKAN!” teriak Dimas.

Gelombang hitam itu terserap oleh akar emas di bawah mereka, berubah jadi cahaya putih yang memancar ke seluruh gua!

Di kabin bor, Agent Sigma menjerit. Echo Keberanian berpendar liar, lalu terlepas dari tangannya, melayang kembali ke tangan Dimas!

“NO!” raung Sigma.

Tapi sudah terlambat. Batu Galih telah memilih.

Dimas menancapkan keris ke tanah, tepat di depan Bor Utama.

“SUNDAPURA… PULANGKAN YANG ASING!”

Akar-akar emas membelit bor raksasa itu. Logam berkerut seperti kertas. Mesin mendengus mati.

Di dalam kabin, Agent Sigma mencabut pistol. Tapi tiba-tiba—

BRRZZT!

Chip di pelipisnya meledak kecil. Darah mengucur. Matanya melotot.

Direct… order… from Director…” gumannya, lalu kolaps.

JANTUNG YANG BERDIRI

Di depan Bor Utama yang hancur, sebuah ruang terbuka. Di sana, di atas kolam energi biru keemasan, melayang sebuah batu kristal sebesar manusia—berdenyut seperti jantung. Batu Galih.

Rini mendekat, tangannya (tanpa sarung) menyentuh permukaannya.

…terima kasih…” bisik suara seperti angin dalam gua.

Gambar-gambar membanjiri pikiran mereka:

  • Pegunungan Halimun yang hijau.
  • Warga Sinarresmi membangun kembali.
  • Jakarta dengan menara IndoFear yang runtuh.
  • Dan… Nayla, menangis dalam lab putih, memegang leher tempat chip Scorpio retak.

“Adikku…” bisik Dimas.

Batu Galih berpendar hangat. Sebuah pecahan kristal kecil terlepas, melayang ke tangan Dimas.

…bawa ini… untuknya…

Tiba-tiba, seluruh gua bergetar hebat. Keretakan besar muncul di langit-langit.

Gempa susulan!” teriak Arman. “Bor yang hancur picu ketidakstabilan!

Mereka lari kembali ke jembatan akar emas yang mulai runtuh. Batu Galih memancarkan cahaya pelindung di sekitar mereka.

Tapi saat sampai di stasiun magma, pemandangan mengerikan:

Kereta magnetik mereka hancur. Dan di samping puing, berdiri sosok tak terduga—Kapten Garuda, dengan senapan plasma terarah!

“Jangan bergerak, Rahardja,” ujarnya, tapi suaranya tak seyakin dulu. Matanya bengkak, seragam compang-camping. “Aku perlu keris itu… untuk tebusan.

“Tebusan dari siapa?” tanya Dimas waspada.

Dari mereka…” Kapten Garuda gemetar. “Bayang-bayang korban… di kepalaku… sejak serangan emosimu! Mereka minta pertanggungjawaban!

Dia mengangkat senapan. “Keris atau mati!

Langit-langit gua mulai runtuh. Batu sebesar mobil jatuh.

Dan di saat itu, Rini melihat sesuatu di wajah Kapten: ketakutan murni seorang yang terjebak antara dua neraka.

Dia melangkah maju—tanpa diminta—dan meletakkan tangan kecilnya di lengan Kapten yang sedang mengacung.

Kapten…” bisiknya, mata keemasan Sundapura menyala. “Mereka tak minta keris… Mereka minta… pengakuan.

Kapten Garuda tergetar. Senapannya bergetar. Dan untuk pertama kalinya… air mata mengalir di pipinya yang kasar.

BRRROOOOMMM!

Runtuhan besar menutup jalan keluar. Kegelapan menyergap.

Yang terdengar hanya teriakan Rini: “BAWA KAPTAIN!”

Dan gelombang energi dari Batu Galih yang menguncang segalanya.


Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22