Novel: Echo (1/22)

BAB 1: DARAH DAN ASAP DI JAKARTA

(DESEMBER 2023)

Langit Jakarta memerah seperti luka terbuka. Asap tebal menggumpal dari gedung-gedung yang jadi saksi bisu kerusuhan. Di lorong sempit dekat Pasar Baru, bunyi tembakan dan teriakan meraung-raung menyatu dengan gemuruh hujan asam yang mulai turun. Bau besi darah dan bensin terbakar memenuhi udara.

Dimas menyandar di tembok retak, napasnya tersengal. Seragam coklat TNI-nya berlumuran lumpur dan noda hitam peledak. Di tangannya, keris pusaka keluarga terasa dingin—sepotong logam berusia tiga abad dengan gagang kayu ulin berukir naga, yang baru saja ia selamatkan dari markas komandannya yang hancur. “Jaga ini dengan nyawamu,” pesan terakhir Kapten Yusuf sebelum atap runtuh menimbannya.

“Dimas! Mereka mendekat!” teriak Nayla, adiknya, yang wajahnya pucat di balik masker gas. Gadis 16 tahun itu menggenggam lengan Dimas erat-erat, tubuhnya gemetar.

“Jangan lihat ke belakang,” gumam Dimas sambil menarik Nayla menyusuri jalanan yang dipenuhi puing. Drone pengintai milik milisi swasta bersenjata—bendera NeoNusantara terpampang di badan logamnya—berputar-putar di atas kepala seperti burung nasar. Di kejauhan, bunyi eksoskeleton tentara bayaran menderu, menghancurkan kios-kios liar.

Tiba-tiba, ledakan dahsyat mengguncang gedung apartemen di sebelah mereka. Kaca-kaca jendela berhamburan seperti hujan beling. Nayla terlempar, tangan Dimas terlepas.

“NAYLA!” teriaknya, tapi suaranya tenggelam dalam deru reruntuhan.

Ia berlari ke arah puing, jantung berdebar kencang. Keris di pinggangnya bergetar aneh, memancarkan hawa hangat. Di balik tiang beton yang roboh, ia melihat sepotong kain biru—seragam sekolah Nayla.

“Tolong… Kak!” suara Nayla terdengar parau dari bawah tumpukan besi.

Dengan tangan telanjang, Dimas mengais puing. Kulitnya terkoyak, darah mengalir, tapi ia tak berhenti. Harus cepat. Di langit, drone NeoNusantara tiba-tiba berputar ke arah mereka, lampu merahnya berkedip seperti mata setan.

BRRRT! Rentetan peluru menghujam tanah di sampingnya.

“Lepaskan dia, tentara!” teriak seseorang dari balik kendaraan lapis baja. Seragam hitam bergambar logo korporasi: seekor garuda mekanis mencengkeram kilang minyak.

Dimas mengabaikannya. Tangannya menyentuh lengan Nayla. “Aku di sini, Nay! Pegang erat—”

KABOOM!

Ledakan kedua—lebih dekat, lebih ganas—menyemburkan gelombang api. Dimas terpelanting ke tembok. Telinganya mendenging, pandangan kabur. Saat asap sedikit tersibak, ia menyaksikan pilarnya runtuh menutupi tempat Nayla terjebak.

“TIDAK!” Jeritannya menyayat udara lembap.

Ia merangkak ke reruntuhan, tetapi hanya menemukan sepatu merah Nayla—tersembul di antara beton. Seketika, dunia seolah runtuh. Rasa bersalah yang menghancurkan membekapnya. Gagal. Gagal lagi.

Keris di pinggangnya tiba-tiba berdenyut kuat, memancarkan gelombang energi tak kasat mata. Pilot di dalam eksoskeleton dekat mereka tiba-tiba menjerit, menggaruk helmnya seakan dikejar hantu. Tentara lain panik, menembak tanpa arah.

Tapi Dimas tak peduli. Ia meremas sepatu merah itu, air matanya bercampur hujan asam. Di tengah kekacauan, bisikan aneh mengusik pikirannya—suara perempuan tua berirama Sunda:
“Nyaangan nu poek, ngadamel sieun jadi kakuatan…”
(Menerangi kegelapan, mengubah ketakutan jadi kekuatan…)

Ia tak tahu itu halusinasi atau darah kehilangan oksigen. Yang ia tahu: Jakarta telah merenggut segalanya.

DUA TAHUN KEMUDIAN – PEGUNUNGAN HALIMUN, JAWA BARAT, 2025

Kabut pagi menyelimuti lembah Sinarresmi. Di teras rumah panggung kayu, Dimas menatap hamparan kebun hidroponik berlapis-lapis yang ia kelola. Sayuran hijau tumbuh subur di bawah lampu LED biru-merah, kontras dengan hutan tropis di sekelilingnya. Bau tanah basah dan dedaunan mengusir kenangan asap mesiu.

“Bang Dimas! Bibit pakcoynya sudah bisa dipindah!” seru Rini, gadis 16 tahun yang membantu di kebun. Lengan robotiknya yang mungil—hadiah program desa mandiri—bergerak lincah memindahkan bibit.

Dimas mengangguk, mencoba tersenyum. Tapi matanya tanpa sadar menatap kaki Rini. Sepatu merah. Setiap kali melihat warna itu, jantungnya berdetak kencang.

“Kak Dimas lagi ngimpi?” goda Pak Asep, sesepuh desa yang sedang mengunyah sirih. “Nih, kopi penghangat. Dihasilkan dari kebun sensor kelembapan baru kita!”

Desa Sinarresmi—perpaduan unik tradisi Sunda Wiwitan dan teknologi daur ulang—adalah pelariannya. Di sini, tak ada yang tahu masa lalunya sebagai tentara. Mereka hanya kenal “Dimas si ahli hidroponik” yang pendiam dan sering terjaga di malam hari.

Saat ia menyeruput kopi, bunyi dengung rendah mengoyak kedamaian pagi. Sebuah drone bersayap delta—berlogo NeoNusantara—melintas rendah di atas desa, kamera infra merahnya berputar seperti mata tanpa kelopak.

Warga berhenti bekerja. Suasana tegang.

“Sudah minggu kedua mereka mengintai,” bisik Rini, tangannya gemetar memegang lengan robotiknya.

Pak Asep mengerutkan kening. “Kata orang kota, di gunung kita ada mineral langka buat chip komputer mereka.”

Dimas mengepal tangan. Mereka. NeoNusantara. Korporasi yang jadi dalang kerusuhan Jakarta. Keringat dingin membasahi punggungnya. Tanpa sadar, tangannya meraba peti kayu tua di bawah tempat tidurnya—tempat keris pusaka tersimpan.

“Jangan hadapi mereka, Dimas,” bisik Pak Asep tiba-tiba, matanya tajam. “Kau membawa sesuatu… sesuatu yang menarik mereka. Aku merasakan gelombang ketakutanmu setiap kali drone itu datang.”

Dimas terhenyak. Tapi sebelum sempat menjawab, teriakan panik terdengar dari ujung desa.

“TENTARA! Mereka turun dari helikopter hitam!”

Lima sosok berseragam hitam bermotor turbin mendarat di lapangan. Helm visor mereka menyala merah. Pemimpinnya—tanda pangkat Kapten di bahunya—langsung menodongkan senapan pintar ke arah warga.

“Kami cari sumber energi ilegal!” gertaknya melalui pengeras suara. “Bongkar semua penyimpanan, atau desa ini kami sterilkan!”

Rini menjerit ketakutan saat tentara itu mendorongnya. Dalam sekejap, ketakutan itu menyambar Dimas seperti sengatan listrik. Dadanya sesak, gambar reruntuhan gedung dan sepatu merah berkelebat di pikiran.

Bzzz…

Keris dalam peti kayu bergetar sendiri. Menerjang kunci. Menyala redup.

Dan Dimas tahu: pelariannya telah berakhir.


Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22