Selama tiga bulan terakhir, Lala merasa dirinya adalah cewek paling beruntung. Bagaimana tidak? Di aplikasi kencan online, ia bertemu dengan Rangga—pria tampan, karier cemerlang, dan humoris. Setiap malam, mereka video call dengan latar belakang apartemen mewahnya. “Dia sempurna,” pikir Lala sambil tersenyum bodoh ke layar ponsel.
Hingga suatu sore, ketika Wi-Fi di kos-kosan Lala lagi-lagi lemot. “Dasar tetangga sebelah, suka nyuri bandwidth!” gerutnya sambil mematikan-router. Tapi saat hendak mengeluh ke Rangga, ponselnya malah menangkap sinyal Wi-Fi tetangga itu—”RANGGA_WIFI_GANTENG”.
Lala membeku. “No way.”
Dengan jantung berdebar, ia memberanikan diri mengetuk pintu kos sebelah. Yang terbuka adalah… Rangga versi dunia nyata: rambut acak-acakan, kaos oblong kusam, dan celana pendek belel.
“Lala?!” teriaknya panik, mencoba menutup pintu.
“Jadi selama ini kamu yang suka nyolong Wi-Fi, ngaku punya apartemen, dan pake filter wajah ala-ala artis?!” Lala hampir tidak percaya.
Rangga—atau yang ternyata bernama Budi—merah padam. “Aku cuma mau kasih kesan pertama yang bagus…”
Lala menghela napas. “Jadi selama ini aku naksir orang yang colingak-calinguk tiap aku matiin Wi-Fi?!”
Esok harinya, seluruh penghuni kos-kosan dapat broadcast WhatsApp:
“Dilarang keras password-nya diganti jadi ‘RANGGA_GANTENG’. Wi-Fi ini dipakai bersama, bukan buat akting pacaran virtual!”
Budi, si “Rangga”, hanya bisa menunduk malu setiap bertemu Lala di warung kopi.
“Cinta virtualmu drop sinyalnya, Bud. Kayak Wi-Fi-mu pas aku download file besar,” sindir Lala suatu hari.
Budi tersenyum kecut. “Gara-gara MIMO, deh…”
TAMAT
Moral cerita: Kalau mau catfish, jangan pakai WiFi tetangga. Atau, lebih baik jangan catfish sama sekali! 😂