Cerpen: Mereka yang Dihitung Bayangannya

Jam 3:15 AM menatapku melalui retakan di layar ponselku, cahaya birunya menyayat kegelapan kamar apartemen sempit ini, dan untuk kesekian kalinya malam ini, aku mendengarnya—suara itu, seperti kuku tipis menggaruk permukaan kayu basah, berasal dari balik pintu lemari pakaian yang kuyakin telah kukunci. Napasku membeku ketika garukan itu berubah menjadi ketukan—satu, dua, tiga—sangat teratur, sangat manusiawi, padahal aku tahu tak ada seorang pun di dalam sana selain bau kapur barus dan pakaian lama yang menyimpan kenangan busuk.

Tubuhku kaku seperti batu, setiap otot menegang menahan dorongan primal untuk lari atau berteriak, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih dingin, memaksaku merangkak pelan dari tempat tidur, mendekati sumber suara itu, jari-jari kakiku menyentuh lantai kayu yang dingin dan berdebu. Saat jarakku hanya sejengkal dari pintu lemari, ketukan berhenti tiba-tiba, digantikan oleh suara napas berat, berisik, dan basah—seolah sesuatu yang besar dan lembab baru saja membalikkan badan di balik kayu lapis yang rapuh.

Kurasakan detak jantungku bergema di telinga, memekakkan, ketika tanganku yang gemetar meraih gagang pintu lemari, logamnya terasa beku menusuk kulit, dan kunci kecil di lubangnya—yang kuyakin telah kuputar—ternyata dalam posisi terbuka. Tarikan napas dalam, dan kubuka pintu itu dengan hentakan, siap menghadapi apapun yang mengintai di balik tumpukan kaus lamaku… hanya untuk menemukan kegelapan kosong dan bau anyir besi berkarat yang menusuk hidung.

Lega sesaat membasuhiku, bodoh dan naif, sebelum mataku menangkap gerakan di sudut cermin tua yang tergantung di dinding seberang—bayangan hitam pekat, bukan milikku, yang meliuk cepat dari pinggiran kaca, meninggalkan kesan jari-jari panjang dan kurus yang menyapu permukaan berdebu. Ketika aku memutar tubuh, tak ada apa-apa di sana, hanya kegelapan kamar, tapi di lantai, tepat di tempat bayangan itu tadi, tergeletak sehelai foto usang diriku dan Alm. Ibu—foto yang kuyakin telah kuhancurkan bertahun lalu—dengan coretan tinta merah menyala membentuk angka “7” di atas wajahku yang masih bocah.

Panik mulai menjalar seperti racun di pembuluh darahku; kubuang foto itu ke dalam laci terkunci, tangan gemetar mencoba menyalakan semua lampu, tapi saklar di dinding hanya mengeluarkan bunyi klik hampa—listrik padam, atau sesuatu telah memutusnya, menjerumuskanku lebih dalam ke dalam kegelapan yang kini terasa hidup, bernapas. Dari jendela kamar yang tak berteralis, cahaya bulan pucat menyelinap masuk, menerangi dinding di depanku… dan di sana, perlahan-lahan, bayangan yang bukan milikku mulai membentuk diri—tinggi, kurus, dengan kepala yang miring tak wajar—sambil mengangkat satu tangan dengan jari-jari yang merentang lebar.

“Siapa kau?” desisku, suara serak tak dikenali, tapi bayangan itu hanya diam, tangannya yang terangkat mulai bergerak, jari telunjuknya yang panjang dan tak wajar menyentuh jari tengah, lalu manis, seperti seseorang… menghitung. Dingin yang bukan berasal dari udara malam merayap naik dari tulang ekorku ketika bayangan itu menyelesaikan hitungannya—lima jari—dan kemudian, dengan gerakan tiba-tiba yang membuatku terkesiap, kepalanya yang miring itu berpaling ke arahku, meski tak ada wajah, hanya kegelapan pekat, dan aku merasa matanya—entah di mana—menatap tepat ke jiwaku.

Instink berteriak “lari!”, dan tubuhku menuruti, membalikkan badan untuk menyambar gagang pintu kamar, tapi kakiku tersandung sesuatu yang dingin dan lunak—karpet?—dan aku terjatuh keras, wajah menghantam lantai, rasa besi membanjiri mulut. Saat aku mendongak, tersedu-sedu, bayangan itu sudah berdiri tepat di atasku, menghalangi cahaya bulan, tubuhnya yang terlalu tinggi menyentuh langit-langit, dan tangan kurusnya kembali terangkat, jari-jarinya mulai bergerak lagi—satu, dua—sekarang lebih dekat, lebih mengancam, seolah menghitung sesuatu… yang ada padaku.

Teriakan tercekik keluar dari tenggorokanku saat aku mendorong diri mundur dengan tumit dan siku, menyusuri lantai dingin, menjauhi sosok gelap yang hitungannya kini mencapai tiga, empat, suara desisannya—seperti udara keluar dari paru-paru yang bocor—menyertai setiap hitungan. Punggungku membentur dinding, tak ada jalan keluar, dan bayangan itu membungkuk, mendekat, kepalanya yang tanpa wajah hanya berjarak sejengkal dari hidungku, ketika jari kelimanya terangkat… dan kemudian, tanpa peringatan, jari telunjuknya yang panjang dan runcing itu menusuk ke arah mataku.

Aku menyipitkan mata, mempersiapkan rasa sakit yang tak terhindarkan, tapi yang kurasakan hanya hembusan angin dingin dan bau tanah basah. Saat aku membuka mata, bayangan itu telah lenyap, tapi di dinding putih tepat di depan wajahku, tertinggal bekas lima garis tipis berwarna merah tua—seperti goresan darah kering—membentuk urutan angka: 1, 2, 3, 4, dan 5, dengan ruang kosong untuk angka keenam.

Kepalaku pusing, jantung berdebar kencang seperti drum perang; kusentuh goresan di dinding—kering, berkerak, seperti sudah berumur—dan tiba-tiba, seperti sambaran petir, aku mengingat: Ibu, di ranjang kematiannya, matanya membelalak ketakutan, jarinya yang bonyor menunjuk ke bayangan di sudut kamar, berbisik lirih, “Mereka… menghitung… sampai enam… lalu…” sebelum napasnya terhenti selamanya. Bisikan terakhir Ibu yang dulu tak kupahami kini menggema di kepalaku, dingin dan jahat: “Sampai enam… lalu mereka mengambil.

Aku merangkak berdiri, tubuh lemas tapi dipompa adrenalin murni; aku harus keluar dari apartemen ini, sekarang, sebelum angka keenam itu muncul. Tapi saat aku membalikkan badan untuk berlari ke pintu utama, kulihatnya—bayangan itu sudah berdiri menghalangi jalan, lebih padat, lebih nyata dari sebelumnya, dan di tangannya, bukan lagi jari yang menghitung, tapi sebuah benda kecil berkilau di cahaya bulan: gunting ibu yang hilang seminggu lalu, ujungnya berkarat kecoklatan.

“Tidak!” raungku, terdengar histeris bahkan di telingaku sendiri, dan tanpa berpikir, aku menyambar vas bunga keramik berat di meja dekatku dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah sosok gelap itu. Vas itu menghantam dinding dan pecah berantakan, tanah dan tanaman berceceran, tapi bayangan itu… hanya berkedip, seperti gangguan sinyal, dan kemudian muncul lagi, satu langkah lebih dekat, gunting di tangannya kini terbuka, membentuk huruf “V” yang mengancam.

Ketakutan memuncak menjadi keputusasaan; kurasakan sesuatu basah di pipi—air mata atau keringat?—dan tubuhku bergerak sendiri, menyelundup ke samping, menyusuri dinding menjauhi sosok itu, mata tertuju pada celah kecil menuju pintu utama. Hanya tiga meter lagi, tapi saat aku melesat maju, kakiku tersangkut karpet lagi, dan aku jatuh tertelungkup, dagu membentur lantai keras, dan di depanku, tergeletak di atas serpihan vas, ada cermin pecah yang memantulkan wajahku yang penuh darah… dan di belakang pantulanku, berdiri bayangan itu, mengangkat tangannya—dan guntingnya—tinggi-tinggi.

Aku memutar badan, berteriak, tangan menangkis serangan yang tak kunjung datang, karena bayangan itu hanya diam, kepala miringnya seolah mempertimbangkan, lalu perlahan… sangat perlahan… tangan kirinya yang bebas mulai mengangkat jari-jarinya lagi: Satu. Mataku melirik liar ke dinding tempat goresan angka merah—1,2,3,4,5—dan kini, dengan sendirinya, seperti ditulis oleh tangan tak terlihat, angka enam mulai muncul, menggores perlahan di plester, mengeluarkan suara berderit menusuk tulang.

Angin dingin tiba-tiba menerpa, mematikan lilin darurat terakhir yang kunyala, menyelimuti ruangan dalam kegelapan total yang lebih pekat dari sebelumnya, dan dalam ketiadaan cahaya itu, aku merasakan kehadirannya tepat di atasku—bau tanah kubur dan logam basah memenuhi hidung—dan suara desisan itu kembali, sangat dekat di telinga: “Enam…” Lalu, sesuatu yang tajam dan dingin menyentuh pelipisku, dan aku tahu, dengan kepastian yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri, bahwa ketika hitungan berikutnya keluar, bukan lagi jari yang akan terangkat, tapi gunting itu akan mengatup, mengambil apa yang mereka janjikan sejak goresan pertama muncul—dan suara klik logam di kegelapan menjadi bunyi terakhir yang kudengar sebelum segalanya… terputus.

TAMAT