Kabut tebal tiba-tiba menyergap seperti hantu putih, menelan jalur pendakian di lereng Lawu. Suhu anjlok. Angin mendesing dingin menusuk tulang. Pukul 17:00 WIB, Bayu (17), ketua kelompok pendakian OSIS SMA Wilwatikta, merapatkan jaketnya, matanya panik memandangi layar HP-nya yang kini hanya menampilkan baterai 3%.
“Masih belum ada sinyal?!” teriak Dinda (16), suaranya pecah oleh kepanikan dan dingin. Rambutnya sudah basah oleh kabut yang mengembun.
Bayu menggeleng, rahangnya terkunci. Pesan SOS yang dia kirim berulang lewat aplikasi pendakian gagal terkirim. Padahal, seharusnya mereka sudah sampai Pos 3 dua jam lalu, bukan tersesat di jalur bercabang yang bahkan tidak ada di peta fisik mereka.
“Ini salah kita,” gerutu Rama (17), napasnya membentuk awan putih. “Seharusnya kita tidak memotong jalur tadi siang. Aku bilang itu berbahaya!” Dia menendang batu kecil dengan frustrasi. Keputusan mereka memotong jalur demi menghemat waktu berubah jadi bencana.
“Diam, Rama!” sergah Bayu. “Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan. Di mana Aris?”
Mereka membeku. Aris (16), anggota mereka yang paling pendiam, tadi mengaku mau buang air kecil di balik batu besar beberapa menit lalu. “Aris?!” teriak Dinda ke arah kabut. Hanya gema sunyi yang menjawab. Kabut tebal membuat jarak pandang hanya 5 meter.
Bayu mencoba menelepon Aris. “Nomor yang Anda tuju sedang di luar jangkauan…” Suara mesin itu menambah rasa ngeri. HP Aris pasti mati, atau… dia sudah jauh.
Tiba-tiba, dari arah kabut tempat Aris menghilang, terdengar jeritan pendek, lalu teredam. Keras, penuh ketakutan.
“ARIS!” Bayu dan Dinda berlari kearah suara, jantung berdegup kencang. Rama menyusul, wajahnya pucat pasi.
Mereka menemukan sebuah tebing kecil. Di tepinya, tergeletak topi Aris yang khas, belepotan lumpur. Di sebelahnya, jejak sepatu tergores jelas di tanah basah, mengarah ke tepi tebing.
“Tidak…” Dinda menjerit pelan, menutup mulutnya. Bayu merangkak ke tepi tebing, hati di mulut. Dia menyorotkan senter kuatnya ke bawah. Tebing itu tidak terlalu tinggi, sekitar 10 meter, dasar jurangnya ditutupi semak belukar lebat dan kabut. Tidak terlihat tubuh Aris. Tidak ada tanda-tanda pergerakan.
“Aris! Jawab!” teriak Bayu, suaranya parau. Hening.
Lalu, dari bawah jurang, terdengar bunyi beep pendek, berirama, seperti sinyal. Bunyi itu familiar. Itu bunyi SOS dari jam tangan pintar Aris! Dia masih hidup! Tapi tidak bisa berteriak?
“Kita harus turun!” kata Bayu, mulai mencari cara turun yang aman.
“Tunggu!” Rama menarik lengan Bayu dengan kasar. Matanya membelalak ke arah seberang jurang, ke dinding tebing di seberang yang samar-samar terlihat saat kabut sedikit tersibak. “Kau lihat itu?!”
Di dinding tebing seberang, sekitar 20 meter di atas dasar jurang, terdapat sebuah simbol aneh yang dicat dengan warna merah menyala. Bentuknya seperti lingkaran dengan garis-garis patah keluar, mirip matahari yang sakit. Simbol itu segar, catnya mengkilat basah di udara lembab.
“Apa itu?” bisik Dinda, merinding.
“Entahlah, tapi gak natural,” jawab Rama, suaranya bergetar. “Dan liat… di bawah simbol itu.” Senter mereka menyatukan sinar. Ada beberapa karung goni tua yang tergulung tidak alami di celah bebatuan. Salah satu karung terlihat berbentuk seperti… kaki manusia?
KRAAAK! Suara batu jatuh tiba-tiba membuat mereka melompat. Bunyinya datang dari bawah, dari dasar jurang tempat sinyal SOS Aris berasal. Diikuti oleh suara geraman rendah, dalam, tidak seperti binatang yang mereka kenal. Lalu, sinyal SOS di jam tangan Aris tiba-tiba berhenti. Mati total.
“Aris…” Dinda menangis histeris.
“Kita tidak bisa turun sekarang!” desis Rama, matanya liar memindai jurang yang gelap dan berkabut. “Ada sesuatu di bawah sana. Dan simbol aneh itu… ini bukan tempat biasa.”
Bayu memandangi HP-nya. 1%. Dengan tangan gemetar, dia membuka aplikasi kamera dan membidik secepat mungkin ke arah simbol merah dan karung goni di seberang jurang. KLIK. Layar HP-nya langsung gelap. Baterai habis total.
Dia memandangi jurang yang gelap gulita. Apa yang terjadi pada Aris? Siapa yang membuat simbol merah itu? Apa isi karung goni? Dan suara geraman mengerikan apa yang mereka dengar? Mereka terjebak di tepi jurang, di ketinggian 2550 mdpl, tanpa komunikasi, tanpa cahaya yang cukup, dengan ancaman tak dikenal yang mungkin telah menangkap Aris… atau lebih buruk. Kabut semakin tebal, malam semakin dekat, dan ketakutan mereka semakin nyata. Pendakian OSIS yang seharusnya penuh semangat berubah menjadi perjuangan bertahan hidup di ketinggian yang dingin dan penuh misteri.
TAMAT