Novel: Bisikan Gletser di Hati Eiger (7/12)

BAB 7: FESTIVAL UNSPUNNEN & BATU SEBERAT MASA LALU

Kota Interlaken berubah jadi panggung raksasa. Bendera merah-putih Swiss berkibar di tiap sudut, aroma Bratwurst (sosis panggang) dan Birewegge (roti pir rempah) memenuhi udara, dan alunan Hackbrett (siter palu) bersahutan dengan teriakan gembira. Festival Unspunnen—pesta rakyat berusia 200 tahun—mendesak masuk ke setiap pori-pori.

Dört! Di sana arena Steinstossen!” Arno menunjuk ke lapangan rumput di kaki Harder Kulm. Batu granit abu-abu sebesar koper tergeletak di tengah lingkaran.

Rania menyentuh permukaan batu yang dingin. “Ini Unspunnenstein? Yang 83,5 kg itu?”

Ja. Batu legenda,” jawab Arno, mata menyipit menantang. “Dilempar sejak 1805. Tradisi Ursprünglichkeit—keaslian rakyat Alpen.”

Tiba-tiba, sorakan pecah. Prosesi Rössliparade (pawai berkuda) memasuki arena. Penunggangnya memakai Trachten—pakaian tradisional: pria dengan Lederhosen (celana kulit), wanita dengan Dirndl (gaun apron). Kuda-kuda berhias bunga mengangkat kaki tinggi.

Schau mal! Lihat itu!” Rania menunjuk sekelompok pria bertopi merah. “Mereka lempar sesuatu yang mirip kapak?”

Das ist Schwingen! Gulat Swiss!” Arno tersenyum. “Schwinger berdiri di atas lingkaran serbuk gergaji (Sägemehl), saling pegang celana pendek lawan (Schwingerhosen), lalu berusaha membantingnya!”

Seorang Schwinger berjanggut pirang membanting lawan hingga debu beterbangan. Penonton berteriak “Hopp Schwyz!” Sorakannya memekakkan.

“Ayo coba Hornussen!” ajak Arno, menarik Rania ke lapangan lain.

Hornussen ternyata permainan unik: pemukul (Schindel) memukul cakram plastik kecil (Hornuss) sejauh mungkin, sementara tim lawan mencoba menangkapnya dengan papan kayu (Schindelbrett) di udara.

Zzzzzzooom! Hornuss melesat seperti peluru. Rania mengacungkan Schindelbrett—dan plok!—ia menangkapnya!

Bravo!” Arno mengangkatnya berputar, tawa lepasnya menggema. Rania tertawa, rambutnya terlepas dari kuncir. Saat turun, pandangan mereka bertemu—dan senyum mereka berdua tertahan sejenak, hangat dan penuh arti.

Saat makan siang di tenda kayu, Arno mencicipi Chübeli (kol parut asam) dan Rösti sambil menjelaskan: “Festival ini lahir setelah Napoleon invasi. Untuk bangkitkan kebanggaan lokal.”

Tiba-tiba, seorang wanita tua berkerudung biru mendekat. “Arno? Bist du das?

Arno membeku. “Mutti?

Marta, ibunya, matanya berkaca-kaca. Di belakangnya, Lea, adik perempuannya yang berusia 17 tahun—dengan mata biru sama—tersenyum malu.

Wir haben dein Foto in der Zeitung gesehen! Kami lihat fotomu di koran!” Marta memeluk Arno erat. “Mit… mit ihr?” Ia memandang Rania penuh harap.

Makan siang berubah canggung. Marta bicara tentang Lukas—betapa ia mirip Arno kecil. Lea bisik ke Rania: “Er hat nie jemanden mitgebracht. Seit Sophie. Dia tak pernah bawa siapa-siapa. Sejak Sophie.”

Saat Arno ke toilet, Marta memegang tangan Rania. “Pass auf ihn auf, ja? Jaga dia, ya? Batu di hatinya… lebih berat dari Unspunnenstein.”

Sesi Steinstossen dimulai. Arno maju dengan nomor punggung 7. Saat namanya dipanggil, sorak gemuruh—semua kenal der Geisterführer.

Dia mendekati Unspunnenstein, membelai permukaannya seperti membelai kenangan. Lalu, dengan gerakan terlatih: kaki berpijak, tubuh membungkuk, tangan mencengkeram batu—

LANGKAH 1: Angkat ke dada. Otot-ototnya mengencang, urat leher menegang. Batu terangkat!

LANGKAH 2: Ayun ke belakang. Napas berat, mata tertutup. Di kerumunan, Marta berdoa, Lea menggigit bibir.

LANGKAH 3: Lontarkan! Batu meluncur—tapi tak sejauh yang diharapkan. Arno terjatuh, lututnya menekuk tanah.

Verdammt!” kutuknya. Sorakan mereda.

Rania berlari masuk arena. “Arno! Lututmu—”

Lass mich! Biarkan aku!” dorongnya kasar, tapi matanya panik. “Aku… aku gagal lagi.”

“Kau cedera! Lihat—” Darah mengucur dari celana trekkingnya. Lukanya di gua Trümmelbach terbuka!

Di tenda medis, perawat membalut lututnya. “Kein Steinstossen mehr! Tak boleh lempar batu lagi!”

Arno menunduk. “Tradisi keluarga… ayahku juara dua kali. Lukas harusnya tahun ini debut…”

Rania berlutut di depannya. “Lukas tak ingin kau sakit. Dan…” Ia mengambil Unspunnenstein miniatur dari meja hadiah. “Melempar masa lalu tak harus pakai batu besar.”

Ia meletakkan batu kecil di telapak Arno. “Lempar ini. Secara simbolis.”

Arno memandang batu itu, lalu ke mata Rania. Perlahan, tangannya mengayun—dan batu kecil itu melesat jauh ke padang rumput.

Senja tiba. Puncak acara: pesta api unggun raksasa (Hudelgäuer—boneka jerami setinggi 5 meter) di bakar di tepi Danau Thun. Ratusan orang menari Ländler mengiringi Jodler (nyanyian yodel) bergema.

Arno dan Rania duduk di tepi danau, pantulan api di air. “Danke,” bisik Arno. “Untuk batu kecil itu.”

“Masih sakit?”

Nein. Tapi…” Ia menatap api. “Keluargaku… mereka menyukaimu.”

Rania tersipu. “Lea bilang, kau tak pernah bawa siapa-siapa ke festival sejak—”

“Sejak Sophie,” selesaikan Arno. “Karena ini festival favorit Lukas.” Ia menghela. “Tapi hari ini… saat kau tangkap Hornuss, saat kau beri aku batu kecil… aku merasa Lukas tersenyum.”

Tiba-tiba, teriakan panik! Hudelgäuer yang terbakar roboh! Percikan api menyambar tenda cokelat!

Feuer! Kebakaran!”

Kekacauan! Arno berdiri terpincang. “Rania—bantu evakuasi anak-anak di tenda mainan!”

Rania berlari. Di tenda penuh boneka kayu dan Läckerli (kue madu), tiga anak ketakutan. Asap tebal!

Komm!” Rania menarik mereka keluar. Saat yang terakhir keluar, tiang tenda runtuh—menghalangi jalan!

“RANIA!” teriak Arno dari luar.

Di dalam, Rania terbatuk. Api mendekat! Tiba-tiba, ia lihat selang air pemadam tergeletak—sisa aktivitas Hornussen. Dengan cepat, ia sambungkan ke keran darurat, buka aliran—

Sssssst! Air menyembur! Ia arahkan ke api yang mendekati rak mainan kayu.

Dari luar, Arno dan warga mendorong tiang runtuhan. Saat celah terbuka, Arno—luka lutut dilupakan—menerjang masuk!

“RANIA!”

“Aku baik!” teriaknya, masih memegang selang.

Mereka keluar tepat saat atap tenda ambruk. Sorak-sorai pecah! Marta memeluk Rania: “Meine Heldin! Pahlawanku!”

Malam semakin dalam. Kerumunan bubar. Di tepi danau yang sepi, Arno dan Rania duduk di bangku.

“Tadi… kau seperti Feuerwehrfrau,” canda Arno, matanya berbinar.

Rania tertawa lelah. “Arsitek juga belajar sistem pemadam.”

Bulan purnama menggantung di atas Niesen. Keheningan yang nyaman.

“Arno…” Rania memberanikan diri. “Aku mau tinggal lebih lama. Bantu proyek konservasi Schutzhütte di Grindelwald.”

Arno terkejut. “Tapi pekerjaanmu di Jakarta?”

“Aku ambil cuti. Dan…” Ia menarik napas. “Aku mau kenal kau lebih dalam. Bukan sebagai pengganti Sophie, tapi sebagai Rania.”

Arno diam lama. Lalu, tangannya meraih tangan Rania. Hangat, kuat, dan sedikit bergetar.

Ich möchte das auch,” bisiknya. “Aku juga mau itu.”

Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya: sebuah cincin perak sederhana dengan hiasan Edelweiss.

“Ini milik Mutti. Diberikan ayah dulu. Bukan… bukan lamaran,” ia tergagap. “Tapi janji. Untuk memulai baru.”

Rania mengangguk, air mata mengambang. “Ja. Ya.”

Saat Arno melingkarkan cincin di jari manisnya, lampu-lampu kota di seberang danau menyala berkilauan, memantul di air tenang. Seperti bintang jatuh yang mendarat di Danau Thun.

Tapi kemudian, getar ponsel Rania. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal:

“Selamat malam, Ran. Swiss memang indah. Tunggu aku di Interlaken. – Adrian”

Foto terlampir: mantan tunangannya tersenyum di Bandara Soekarno-Hatta, koper di tangan.

Dingin yang bukan dari malam menyergap Rania. Arno merasa kekakuan tubuhnya. “Was ist los? Apa terjadi?”

Rania mematikan layar. “Nothing. Tunggu aku sebentar.”

Ia berjalan ke tepi air, melihat bayangan bulan yang retak di gelombang kecil. Bisakah kebahagiaan ini bertahan saat masa lalu datang mengetuk?

Sementara di kejauhan, dari balik pohon, Lea mengamati mereka—dengan ekspresi khawatir, dan sebuah foto di iPhone-nya: Rania & Arno berpelukan saat kebakaran.


Glossary:

  1. Unspunnnen Festival: Pesta rakyat Swiss tiap 12 tahun (terakhir 2017), merayakan tradisi Alpen.
  2. Steinstossen: Lomba lempar batu Unspunnenstein (83.5kg).
  3. Schwingen: Gulat tradisional Swiss di atas serbuk gergaji.
  4. Hornussen: Permainan rakyat mirip baseball, memukul Hornuss (cakram) dengan Schindel (pemukul).
  5. Trachten: Pakaian tradisional Swiss (pria: Lederhosen/celana kulit, wanita: Dirndl/gaun apron).
  6. Jodler: Nyanyian khas Alpen dengan perubahan nada cepat dari dada-ke-kepala.
  7. Hudelgäuer: Boneka jerami raksasa simbol musim dingin, dibakar di festival.
  8. Birewegge: Roti khas Bern berisi pasta pir & rempah.
  9. Läckerli: Kue madu keras khas Basel.
  10. Niesen: Gunung piramida sempurna di tepi Danau Thun, dijuluki “Piramida Swiss”.
  11. Ursprünglichkeit: Keaslian/autentisitas budaya.
  12. Feuerwehrfrau: Wanita pemadam kebakaran.

“Festival Unspunnen itu seperti lempar batu. Butuh keberanian untuk mengangkat beban, tekad untuk mengayunkan masa lalu, dan keyakinan bahwa setelah dilepas, ia akan mendarat di tempat yang tepat. Tapi kadang, saat batu itu meluncur, datang angin tak terduga yang mengubah arahnya…”
– Rania

Bab: 1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12