BAB 4: GUBUK ALPEN DAN RACLETTE PERTAMA
Kabut tebal (Hochnebel) akhirnya menyerah pada ganasnya angin malam. Tapi yang menggantikannya adalah kegelapan pekat dan hujan salju yang membeku. Tali penghubung di harness mereka bergetar kencang, ditarik oleh langkah berat Arno yang memimpin. Rania mengikuti seperti bayangan, kakinya menyeret salju, kepalanya masih berdenyut nyeri. Dingin telah meresap hingga ke tulang, membuat giginya gemeretak.
“Dort! Di sana!” teriak Arno tiba-tiba, suaranya nyaris hilang dalam raungan angin.
Di balik tirai salju, sebuah bayangan gelap muncul—sebuah struktur kayu kokoh dengan atap miring tertutup salju tebal. Schwarzegg Hutte. Gubuk itu terlihat kecil dan terpencil, tapi lampu kuning samar di jendelanya seperti mercusuar di tengah lautan es.
Mereka menyusuri pagar kayu rendah. Arno membuka kunci gubuk dengan kombinasi angka—“Setiap Schutzhütte di Alpen punya kode darurat. Pemandu wajib hafal,” bisiknya. Pintu kayu berat berderit terbuka, mengeluarkan hawa hangat beraroma kayu bakar, lilin lebah, dan… keju?
Rania nyaris menangis lega.
Bagian dalam gubuk sederhana tapi fungsional: bangku kayu panjang, kompor besi tua di tengah ruangan, rak berisi peralatan masak, dan susunan kasur lipat di lantai atas. Yang paling mencolok adalah tumpukan kayu bakar rapi di samping kompor dan rak penuh kaleng makanan, keju berbalut lilin, serta botol-botol air.
“Willkommen in der Hölle mit Heizung,” kata Arno sarkastik, melepas harness dan mengetukkan sepatunya di keset. “Selamat datang di neraka yang ada pemanasnya.”
Ia langsung bergerak cepat. Menyalakan kompor dengan kayu dan kertas koran tua. Api menyala, memercikkan kehangatan pertama ke ruangan. “Lepas lapisan luar. Basah akan bikin kau hipotermia,” perintahnya, sambil melepas jaket basahnya sendiri. Bajunya dalam—sweter wol tebal—juga lembap di bagian dada dan lengan.
Rania gemetar melepas jaket. Pakaian dalamnya basah oleh keringat dingin. Arno melemparkan selimut wol kasar kepadanya. “Zieh dich um. Ganti baju. Ada pakaian darurat di kotak merah.” Ia menunjuk peti kayu di sudut.
Rania membuka peti. Ada sweter wol tebal, kaus kaki rajutan, dan celana hangat—semua terlalu besar, tapi bersih dan kering. Ia berbalik. “Tapi kamu—”
“Mach dir keine Sorgen. Jangan khawatirkan aku,” potong Arno, sudah membalikkan badan menghadap kompor. Punggungnya lebar, otot bahu tegang saat ia mengipasi api.
Rania berganti pakaian di balik tumpukan kasur. Wol kasar itu hangat, mengusir sedikit demi sedikit dingin yang membeku di sumsum tulangnya. Saat ia kembali, Arno sudah meletakkan dua piring logam di bangku. Di tengah kompor, sebongkah besar keju Raclette setengah lingkaran sedang dipanaskan. Keju itu mulai meleleh, mengeluarkan aroma gurih, kaya, dan sedikit pedas yang membuat perut Rania keroncongan.
“Raclette,” kata Arno tanpa menoleh. “Makanan darurat paling enak di Alpen.” Ia mengikis bagian keju yang meleleh ke atas piring Rania. Cairan keju emas itu menutupi kentang rebus kecil dan acar bawang bombay (Silberzwiebeln) yang sudah ia siapkan. “Makan. Panaskan tubuh dari dalam.”
Rania menyendok keju hangat itu. Rasanya luar biasa—krim, asin, dan menghangatkan jiwa. “Enak,” gumamnya, tak bisa menahan senyum kecil.
Arno hanya mengangguk singkat, mengikis keju untuk dirinya sendiri. Cahaya api menari-nari di wajahnya, mempertegas garis keras rahang dan bayangan di pipinya. Bekas luka di pelipis kirinya lebih jelas terlihat—seperti garis pucat sepanjang dua inci.
Suasana hening, hanya diisi bunyi api berkeretak dan desing angin di luar. Rania memberanikan diri. “Tadi… di jurang. Kau bilang aku mirip seseorang.”
Tangan Arno berhenti mengikis. Matanya menatap api. “Ja.”
“Siapa?”
Dia diam lama. Kemudian, dengan gerakan lambat, ia merogoh kantong dalam jaket basahnya—jaket yang tadi ia gantung dekat kompor. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit usang. Dari dalamnya, ia mengambil foto kecil yang dilaminasi.
“Siehst du? Lihat?”
Rania mengambil foto itu. Napasnya tersangkut.
Seorang wanita muda tersenyum lebar di foto, memakai topi pendaki merah. Rambut ikal cokelat, mata cokelat teduh, dan lesung pipi di sebelah kiri—hampir identik dengan Rania! Di sampingnya, berdiri Arno yang jauh lebih muda, wajahnya lebih lembut, senyumnya lepas. Dan di depan mereka, seorang remaja laki-laki dengan mata biru sama seperti Arno, melompat gembira.
“Sophie. Pacarku,” kata Arno, suaranya datar. “Dan Lukas. Adikku.”
“Mereka…?” Rania tak bisa menyelesaikan kalimat.
“Tiga tahun lalu. Pendakian di Eiger. Cuaca berubah cepat. Steinschlag… batu besar.” Ia menatap tangannya sendiri, seolah melihat sesuatu yang tak terlihat. “Ich habe sie verloren. Aku kehilangan mereka.”
Rasa bersalah yang dalam menggelayuti ruangan, lebih berat dari salju di atap gubuk. Rania memahami sekarang. Tatapan pertama Arno di Jungfraujoch, kemarahannya yang tak masuk akal—semuanya karena ia melihat hantu masa lalu dalam dirinya.
“Kau menyalahkan dirimu,” bisik Rania.
Arno mengangkat bahu, gerakan kaku. “Es war meine Route. Rute-ku. Keputusanku untuk terus mendaki saat langit mulai gelap.” Ia menatap Rania. “Saat kulihatmu di Jungfraujoch, memotret dengan ceroboh… seperti Sophie dulu. Dia juga suka selfie di tempat berbahaya. Aku marah—padamu, padaku, pada takdir yang membawamu ke sini.”
Keheningan kembali menyergap, tapi kali ini berbeda. Lebih dalam, lebih rawan. Di luar, angin meraung seperti serigala kelaparan.
“Kenapa kau masih jadi pemandu?” tanya Rania pelan. “Setelah… itu?”
Arno memandang ke api. “Gunung adalah rumahku. Dan di sini, di Schutzhütte, dengan api dan Raclette…” Ia berhenti, mencari kata. “…da spürt man noch Leben. Di sinilah kita masih merasakan kehidupan.”
Ia mengisi ulang Raclette mereka. Kali ini, ia juga mengeluarkan sebotol kecil Rivella—minuman soda Swiss berbasis whey—dari rak. “Minum. Manis. Bagus untuk Schock.” Syok.
Rania mencicipi Rivella. Rasanya unik—sedikit asam, berbuih, dan menghilangkan dahaga. “Aku… aku turut berduka, Arno.”
Arno mengangguk, matanya basah oleh lebih dari sekadar asap api. “Danke. Terima kasih.”
Mereka makan dalam keheningan yang lebih nyaman. Kehangatan Raclette, bunyi api, dan rasa aman di gubuk kecil ini membuat Rania mengantuk. Kepalanya masih sakit, tapi perutnya kenyang, tubuhnya hangat.
“Schlaf,” kata Arno, menyapu piring. “Kasur di atas. Aku jaga api.”
Rania mengangguk, terlalu lelah untuk berdebat. Saat ia berdiri, pusing menyergap. Ia terhuyung.
Tangan Arno menangkapnya. “Vorsicht! Hati-hati!”
Tangannya besar dan hangat, membekas di lengan Rania. Untuk sesaat, mereka terpaku—Rania dengan kepala mendongak, Arno dengan tatapan yang dalam dan penuh konflik. Udara di antara mereka bergetar. Rania bisa melihat detak nadi di leher Arno, dan bayangan rasa sakit yang masih tersimpan di matanya.
Kemudian, Arno menarik tangan secepat menyentuh besi panas. “Geh schlafen,” desisnya, memalingkan muka. “Pergi tidur.”
Rania naik ke loteng, kakinya berat. Di bawah, ia melihat Arno duduk di bangku, memandang foto Sophie dan Lukas, lalu menyimpannya kembali ke dompet dengan gerakan hampir ritual. Ia kemudian mengambil Alpenhorn panjang yang tergantung di dinding—instrumen kayu berukir yang mirip terompet raksasa.
Saat Rania berbaring di kasur keras yang beraroma pinus, suara rendah Alpenhorn bergema di gubuk. Bunyinya sendu dan merdu, mengisi ruangan dengan getaran yang dalam. Seperti tangisan gunung, seperti nyanyian untuk yang hilang, seperti doa yang tak terucap.
Di luar, badai masih mengamuk. Tapi di dalam, di bawah selimut wol kasar, dengan aroma Raclette masih menggantung dan nada Alpenhorn yang menenangkan, Rania merasa sesuatu mulai mencair—es di hatinya, dan mungkin juga tembok di hati pria di bawah sana.
Sebelum tidur, satu pikiran melintas: Mungkin tersesat di moraine tadi adalah jalan terbaik yang pernah kulakukan.
Glossary:
- Schutzhütte: Gubuk gunung untuk berlindung. Sering ada fasilitas dasar: kompor, kasur, persediaan darurat.
- Hiportemia: Kondisi suhu tubuh turun drastis (<35°C), bisa berakibat fatal. Gejala: menggigil hebat, bicara pelo, kebingungan.
- Raclette: Keju khas Swiss yang dilelehkan, biasanya disajikan dengan kentang rebus, acar bawang, dan daging asap.
- Silberzwiebeln: Acar bawang bombay kecil, sering jadi pendamping Raclette.
- Rivella: Minuman ringan khas Swiss berbasis whey (air dadih), rasa unik asam-manis.
- Alpenhorn: Terompet tradisional kayu panjang (±3m) dari Pegunungan Alpen, menghasilkan nada rendah dan bergema.
- Steinschlag: Jatuhan batu (bisa kecil atau besar) dari tebing gunung.
- Schock: Syok (fisik/emosional), bisa akibat cedera, kedinginan, atau trauma.
- Hölle mit Heizung: “Neraka dengan pemanas” (ungkapan sarkastik untuk tempat berat tapi ada kenyamanan kecil).
- Zieh dich um: “Ganti baju” (Bahasa Jerman).
Gubuk kayu ini bukan sekadar tempat berlindung dari badai. Ia adalah ruang tanpa waktu di mana rahasia-rahasia yang terkubur salju bisa mencair, di mana kehangatan Raclette menjadi balsam bagi luka jiwa, dan di mana nada Alpenhorn yang sendu mengajari kita: bahkan di hati paling beku, ada lagu yang menunggu untuk dimainkan.