Cerpen: Pohon Rindu di Tengah Kota

Di pusat keramaian kota, di antara gedung-gedung pencakar langit dan lampu neon yang berkedip, tumbuh sebuah pohon beringin tua yang dijuluki “Pohon Rindu”. Batangnya yang berlekuk-lekuk membentuk celah-celah sempit, di mana orang-orang biasa menyelipkan surat berisi kerinduan mereka. Konon, siapa pun yang menuliskan isi hati dengan tulus, akan mendapat jawaban—bukan dengan kata-kata, melainkan melalui kejadian-kejadian kecil yang mustahil disebut kebetulan.

Suatu sore, seorang wanita paruh baya bernama Ika menyelipkan surat bergetar ke dalam celah pohon. “Aku merindukan suaranya,” tulisnya tentang almarhum ayahnya yang telah tiada sepuluh tahun lalu. Keesokan paginya, saat melewati taman dekat pohon, sebuah kaset lama terjatuh dari tas seorang nenek. Ketika Ika memungutnya, jantungnya berdegup kencang—itu rekaman pengajian ayahnya yang hilang bertahun-tahun lalu, dengan suaranya yang masih jelas terdengar.

Seorang remaja bernama Gilang juga mencoba. “Aku rindu masa kecil ketika kami masih utuh,” tulisnya tentang orang tuanya yang bercerai. Dua hari kemudian, ia menemukan album foto tua tergeletak di bangku dekat pohon. Di dalamnya, ada gambar keluarganya yang tersenyum di taman hiburan—foto yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, karena selama ini ibunya menyembunyikannya agar tidak menyakiti hati.

Tapi keajaiban terbesar terjadi pada seorang kakek bernama Marno. Buta huruf, ia hanya membisikkan kerinduannya pada cucu yang merantau jauh. “Aku ingin memeluknya sekali saja sebelum matahari terbenam,” gumamnya. Saat senja, sebuah telepon tiba-tiba berdering di pos kamling—cucunya yang tidak pernah menelepon selama setahun terakhir mengabarkan bahwa ia tiba-tiba mendapat tiket mudik gratis karena ada pembatalan last minute.

Kini, Pohon Rindu tetap berdiri tegak, batangnya semakin penuh dengan lipatan-lipatan kertas berisi harapan. Kadang jawabannya datang seperti angin sepoi, kadang seperti badai yang mengubah segalanya. Tapi satu hal yang pasti: setiap celah di kulit pohon tua itu menyimpan rahasia yang hanya bisa dipahami oleh hati yang benar-benar merindu.

TAMAT


Kerinduan, bagaimanapun, selalu menemukan jalannya pulang.