Dinding kamar itu begitu kosong setelah Rani pergi. Hanya tersisa bekas-bekas peniti yang pernah menahan poster band favoritnya, dan sedikit noda di sudut tempat dia dulu menempelkan foto-foto polaroid. Ibu Rani, Murni, berdiri di depan dinding itu sambil memegang sekotak cat warna-warni. Tangannya gemetar saat membuka tutupnya, mencium bau minyak cat yang mengingatkannya pada masa lalu.
Dulu, Rani kecil selalu memintanya menggambar di dinding kamar. “Nanti kita hapus kalau aku sudah besar,” janjinya sambil tertawa. Tapi mereka tak pernah benar-benar menghapusnya. Coretan kapur itu tertutup lapisan cat baru seiring waktu, tapi kenangannya tetap hidup.
Murni mulai melukis pelan-pelan. Jari-jarinya yang keriput menari di dinding, membentuk gambar sepeda merah dengan roda bergigi—hadiah ulang tahun Rani yang kesepuluh. Di sebelahnya, dia menggambar tenda biru dengan bintang-bintang dari cat fosfor, mengingatkan malam mereka berkemun di halaman belakang saat listrik padam. Semakin lama, dinding itu semakin hidup: ada jejak kaki kecil di cat cokelat (lumpur setelah hujan), garis finis dari lomba lari tiga kaki, bahkan noda es krim rasa stroberi yang tak sengaja tercoreng saat Rani pertama kali kehilangan gigi susunya.
Ketika Rani pulang liburan semester, dia membeku di depan pintu kamarnya. Air matanya jatuh melihat mural itu. Di sudut paling bawah, ada gambar kecil seorang ibu dan anak perempuan sedang berpegangan tangan, dengan tulisan “Nanti kita tambah lagi ceritanya.” Rani memeluk ibunya erat, mencium aroma cat yang melekat di rambut Murni. Dua generasi itu berdiri lama di depan dinding yang kini bukan lagi ruang kosong, melainkan album raksasa berisi cinta yang tak pernah berhenti bertumbuh.
TAMAT
Terkadang ruang yang kosong justru menyimpan tempat terbaik untuk mengembalikan semua kenangan yang pernah kita pikir hilang.