Awalnya, Tara hanya ingin menghilangkan bosan. Liburan panjang yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi minggu-minggu monoton setelah teman-temannya pergi ke kampung masing-masing.
Itu sebabnya ketika menemukan cat tembok berwarna biru tua tersimpan di gudang belakang rumah, ide gila muncul di kepalanya. “Aku akan melukis dinding kamarku,” bisiknya.
Tiga hari Tara menghabiskan waktu mencoret-coret dinding kamarnya. Sebuah pintu tercipta di tengah lukisan abstraknya—pintu biru dengan gagang berkilau. “Keren juga,” gumamnya bangga.
Tapi keesokan harinya, sesuatu aneh terjadi. Gagang pintu itu bergerak. Tara menggosok matanya. Saat mendekat, angin dingin tiba-tiba berhembus dari celah lukisan. Dan sebelum sempat berteriak—Kreek! Pintu itu terbuka.
Tara terjatuh di sebuah tempat yang mustahil: langit berwarna ungu, pepohonan dengan daun kristal, dan dua bulan menggantung di cakrawala. “Di mana aku?”
Suara langkah kaki membuatnya menoleh. Seorang remaja laki-laki dengan mata hijau bercahaya berdiri di belakangnya. “Kau pelukisnya?” tanyanya. “Aku Nio. Sudah lama sejak seseorang dari duniamu datang ke sini.”
Nio menjelaskan: lukisan adalah jembatan antara dunia. Tapi hanya mereka yang punya “warna dalam jiwa” bisa menciptakannya. “Tapi kau harus cepat pulang,” Nio memperingatkan. “Semakin lama di sini, semakin sulit kembali.”
Tara mengangguk, tapi hatinya penasaran. “Apa yang terjadi pada pelukis sebelumnya?” Nio diam. Matanya menunjukkan ketakutan.
Saat Tara bersikeras mengeksplorasi, Nio mengeluarkan jam pasir ajaib. “Jika pasir habis sebelum kau pergi, kau akan terjebak selamanya.” Tapi tiba-tiba— BRRAAK! Suara pecah menggelegar. Seseorang telah menghancurkan lukisan di dunia Tara! “Kita harus ke Gerbang Pelukis!” teriak Nio.
Mereka berlari melewati hutan kristal, dikejar bayangan hitam yang mencakar. Pasir di jam semakin sedikit.
Di tebing tertinggi, Nio mendorong Tara ke cahaya biru. “Lukis pintu lagi!” teriaknya.
Tara terbangun di kamarnya. Dinding kosong. Seolah tak pernah ada lukisan. Tapi di buku sketsanya, ada gambar baru: seorang remaja bermata hijau, tersenyum di antara daun-daun kristal.
Dan tulisan kecil di pojok halaman: “Tunggu aku.”
TAMAT