Tokoh:
- Sari (29): Perawat jiwa di RS “Damai Sentosa”. Memiliki kemampuan unseen: melihat “pohon jiwa” setiap orang – manifestasi visual kesehatan mental mereka. Gemar menanam pohon asli sebagai pelarian.
- Arga (35): Pasien baru dengan diagnosis depresi berat dan disosiasi. Pohon jiwanya… tidak terlihat. Sebuah kekosongan yang mengerikan.
- Pak Windu (70+): Penjaga taman tua di belakang rumah sakit. Tahu rahasia taman dan kemampuan Sari. Misterius.
- Dr. Anya (40): Psikiater Sari. Rasional, skeptis, namun peduli.
DAUN-DAUN YANG BERBISIK
Rumah Sakit “Damai Sentosa” dikelilingi taman rimbun — hasil kerja Sari selama lima tahun terakhir. Setiap pohon, semak, bunga, ditanamnya sendiri. Tapi bukan hanya keindahan yang ia cari. Setiap kali tangan Sari menyentuh tanah, menanam benih, ia melihat.
Bukan hanya akar dan batang. Tapi pohon lain: ethereal, bercahaya lembut, tumbuh dari dada setiap orang yang ia temui. Pohon-pohon jiwa itu.
Dr. Anya memiliki pohon beringin perkasa, daun-daunnya hijau cerah, meski beberapa ranting kering (bekas kelelahan). Perawat Rina, pohon sakura yang selalu rontok tapi cepat berbunga lagi (gangguan kecemasan). Pasien Pak Herman, pohon oak tua penuh lubang dan lumut (trauma masa kecil), akarnya nyaris tercabut.
Sari bisa menyentuh pohon-pohon ini. Merasakan getarannya. Saat ia merawat pasien, merapikan tanah di pot, memangkas ranting mati di dunia nyata, pohon jiwa mereka pun merespons. Daun yang layu bisa segar kembali. Ranting patah bisa pulih. Tapi hanya sementara. Kecuali…
Kecuali ia menanam sesuatu yang nyata.
Setiap kali Sari menanam pohon asli — sebuah tindakan tulus penuh perhatian — pohon jiwa orang yang ia bantu pun mendapat tetesan “embun” energi. Perubahan kecil, tapi nyata. Dr. Anya menyebutnya “efek placebo dari terapi hortikultura”. Sari tahu lebih dalam. Taman ini adalah jembatan antara dunia nyata dan jiwa.
KEKOSONGAN YANG BERJALAN
Kemudian Arga datang.
Pria itu diam. Matanya kosong, bagai danau beku. Saat Sari pertama kali mendekatinya di ruang perawatan, ia tersentak.
Tidak ada.
Di mana seharusnya ada pohon jiwa — sebuah manifestasi kehidupan mental — hanya ada kekosongan. Sebuah ruang hampa, gelap, menyerap cahaya sekitarnya. Bukan kegelapan yang padat, tapi ketiadaan yang menganga. Lebih menakutkan daripada pohon terbakar atau akar yang membusuk yang pernah ia lihat.
Sari mencoba menanam sebuah peace lily kecil di pot dekat jendela kamar Arga. Ia menyiramnya, membisikkan kata-kata penyemangat. Di dunia nyata, bunga itu tumbuh subur. Tapi kekosongan di dada Arga tetap tak tersentuh. Tak ada respons. Tak ada getaran.
“Kenapa aku tidak bisa membantunya?” keluh Sari pada Pak Windu suatu sore, saat mereka duduk di bangku taman tua. Sang penjaga sedang memotong ranting kering pohon frangipani.
Pak Windu mengeluarkan pipa tanah liat, menyalakannya perlahan. Asapnya beraroma kayu manis. “Kekosongan itu, Nak Sari, bukan karena tak ada apa-apa. Tapi karena ada yang menelan semuanya.”
“Menelan?”
“Bayangkan sebuah lubang di tamanmu. Kering, gersang. Bukan karena tak pernah ditanami. Tapi karena ada sesuatu di bawahnya… yang menghisap semua kehidupan.” Matanya yang keriput menatap tajam. “Apa yang ada di bawah kekosongan Arga?”
AKAR-AKAR DI KEGELAPAN
Sari menggali lebih dalam — secara metaforis dan harfiah. Ia menghabiskan lebih banyak waktu dengan Arga, tak hanya sebagai perawat, tapi sebagai pendengar yang sabar. Ceritanya keluar seperti tetesan air di batu gersang: tekanan bisnis keluarga yang menghancurkan, perceraian orang tua yang traumatis, kegagalan yang terus menerus, perasaan tidak layak ada.
Suatu malam, saat jaga malam, Sari duduk di samping tempat tidur Arga yang tertidur gelisah. Ia meletakkan tangan di lantai dingin, menutup mata, mencoba “merasakan” tanah jiwa Arga.
Dingin. Sangat dingin.
Lalu… sesuatu bergerak.
Bukan pohon. Tapi akar. Akar hitam pekat, tebal, berbelit-belit seperti ular naga purba. Mereka membelit erat “ruang kosong” itu, menghisap setiap tetes energi, setiap percikan cahaya yang mungkin muncul. Akar-akar itu terhubung jauh ke bawah… ke sesuatu yang besar dan mengerikan di kedalaman jiwa Arga.
Sari menarik tangan, napasnya terengah. Ia paham sekarang. Kekosongan itu adalah “permukaan”. Penghisapnya ada di bawah. Arga bukan tidak punya pohon jiwa. Pohon jiwanya terbelenggu, terkubur hidup-hidup oleh akar trauma yang rakus.
MENANAM DI LUBANG NERAKA
“Kau tidak bisa menyirami permukaan untuk menyuburkan akar yang terpendam di neraka,” kata Pak Windu keesokan harinya. Ia memberi Sari sekantung benih kecil, hitam legam, berbentuk seperti air mata. “Ini Biji Duri. Hanya tumbuh di tanah paling tandus, menembus kegelapan. Tapi kau harus menanamnya bersama dia. Di tempat kekosongan itu.”
Sari ragu. Menanam di “jiwa” seseorang? Bukan di tanah nyata? Ini gila. Tapi liat Arga yang semakin tenggelam dalam disosiasi, ia memutuskan mencoba.
Ia membawa Arga ke taman. “Ayo menanam sesuatu, Arga,” ajaknya lembut.
Arga tak merespons. Matanya kosong.
Sari memimpin tangannya yang lemas menggenggam sekop kecil. Mereka menggali lubang kecil di tanah — tepat di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjalar dalam. Saat menggali, Sari berkonsentrasi. Ia tak hanya menggali tanah fisik. Dalam pikirannya, ia menggali menuju kekosongan di dada Arga. Ia merasakan dinginnya, desisan akar hitam yang mengancam.
Dengan gemetar, ia memasukkan Biji Duri hitam itu ke lubang tanah, sementara dalam imajinasinya, ia melemparkan benih serupa ke pusat kekosongan Arga.
“Tutup, Arga,” bisiknya. “Tutup dengan tanah. Lembut.”
Arga melakukannya, gerakannya robotik.
TUNAS DI ANTARA DURI
Hari-hari berlalu. Tak ada perubahan. Arga masih kosong. Sari putus asa. Mungkin ia hanya berhalusinasi. Mungkin Pak Windu hanya kakek tua yang pikun.
Sampai suatu pagi.
Sari sedang menyiram tanaman di dekat kamar Arga. Tiba-tiba, ia merasakan getaran. Sangat halus. Seperti detak jantung bawah tanah. Ia berlari ke jendela kamar Arga.
Pria itu sedang duduk di tepi tempat tidur. Kepalanya tertunduk. Tapi bukan kosong. Air mata menetes dari matanya. Air mata pertama dalam berbulan-bulan.
Dan di dadanya, di tengah kekosongan yang masih gelap… ada secercah cahaya hijau pucat.
Sebuah tunas kecil. Rapuh. Dikelilingi duri hitam yang masih mengintai. Tapi ia ada. Biji Duri itu tumbuh. Menembus kegelapan.
Sari menangis. Ia tahu ini baru awal. Akar hitam itu masih kuat. Tunas itu bisa layu. Tapi keberadaannya membuktikan sesuatu: bahkan di tanah jiwa yang paling tandus, kehidupan bisa muncul kembali.
Sari memandang taman luasnya, lalu ke langit. Ia tersenyum lelah. Perjalanan Arga masih panjang. Dan perjalanannya sendiri? Baru saja menemukan kebenaran mengejutkan.
Kemarin malam, saat merasakan perjuangan tunas Arga, untuk pertama kalinya… Sari melihat bayangan pohon jiwanya sendiri.
Sebatang pohon raksasa, penuh luka bekas pangkasan, akarnya menjalar ke segala arah, menyentuh dasar pohon jiwa setiap orang yang pernah ia bantu. Ia sibuk menyuburkan orang lain, tapi melupakan cabang-cabangnya sendiri yang mulai layu.
Taman jiwa yang terlupa ternyata miliknya sendiri.
Dan sekarang, saat fajar menyingsing, Sari mengambil sekop lain. Bukan untuk Arga. Bukan untuk pasien lain. Tapi untuk dirinya. Ada benih yang perlu ia tanam di hutan jiwanya sendiri.
TAMAT
Unsur Psikologis:
- Pohon Jiwa: Manifestasi visual kesehatan mental.
- Kemampuan Sari: Bukan sihir, tapi persepsi “unseen” yang terkait empati dan alam.
- Biji Duri: Objek magis simbolik, mewakili harapan dalam keputusasaan.
- Akar Hitam: Personifikasi trauma dan depresi berat.
- Taman Nyata-Jiwa: Interkoneksi antara tindakan fisik (menanam) dan penyembuhan psikis.
- Penyadaran Diri Sari: Fantasi digunakan sebagai alat eksplorasi psikologis sang “penyembuh” yang terluka.