Cerpen: Rika dan Malapetaka Manis

Rika (23) membuka mata pukul 06.00 pagi dengan senyum merekah. Rambut ikalnya berantakan membentuk mahkota menggemaskan di atas bantal bergambar panda. “Hari yang sempurna!” gumamnya sambil menyentuh kalender dinding bertanda hati merah di tanggal 7 Agustus. Hari pertama kencan buta dengan teman kampusnya.

Ia berjingkat ke dapur apartemen mini sambil bersenandung. “La la la~” Jarinya yang mungil mencoba meraih toples granola favorit di rak atas. Tapi celana piyama bergambar donatnya tersangkut di gagal laci. BRAAK! Tubuhnya yang mungil terjungkal, membawa serta seluruh isi rak bumbu. Kunyit bubuk menabur rambutnya seperti emas palsu.

“Astaga!” Ia melompat, tanpa sadar menginjak selai stroberi yang tumpah. Kakinya licin, PLAK! Wajahnya mendarat persis di atas kue bolu coklat buatan semalam yang belum sempat dibungkus. Krim coklat menutupi hidungnya yang imut.

Sambil mengelap wajah, Rika bergegas mandi. Tapi keran shower rusak! Pancuran air membasahi seluruh kamar mandi. Ia terpeleset lagi, tangan mungilnya meraih tirai shower untuk keseimbangan. RRRIIIP! Tirai plastik robek dua arah. “Dasar apartemen tua!” keluhnya dengan pipi kembung.

Pukul 08.00, ia sudah mengenakan sweater alpaca putih berbulu dan rok plisket biru. “Semua akan baik-baik saja!” Ia menyemangati diri di depan cermin. Tapi matanya melihat noda coklat di belahan leher. “Ah! Kue bolu!” Ia buru-buru menggosoknya dengan tisu basah. Hasilnya: noda coklat melebar seperti lukisan abstrak!

Rika panik. Ia merogoh lemari mencari sweater pengganti. BRUUK! Tumpukan tas jinjing jatuh menimpanya. Salah satu tas menyemburkan glitter emas dari proyek DIY bulan lalu. Sekarang rambut ikalnya berkilau seperti pohon Natal.

Pukul 08.30, ia membuka laptop untuk minta bantuan teman via video call. Tapi kucing tetangga, Moci, masuk dari jendela yang tak terkunci. “Moci! Jangan!” teriak Rika terlambat. Moci melompat ke meja, menginjak tutup laptop. KRETT! Layar laptop retak seperti sarang laba-laba.

Tepat di saat itu, dering bel pintu berbunyi. Rika terkejut, tanpa sadar menendang ember glitter. SWOOSH! Glitter emas menyapu udara, membentuk awan berkilau di ruang tamu. Ia membuka pintu dengan nafas terengah…

Di depan pintu berdiri pria tinggi berjas hujan, wajahnya tersembunyi di balik buket bunga matahari raksasa. “Rika? Aku Abud,” suaranya hangat. Tapi wajahnya langsung berubah kaget melihat Rika: rambut penuh glitter, sweater bernoda coklat, dan kucing Moci yang tiba-tiba melompat ke bahunya sambil mengeong keras.

“Maaf! Tunggu sebentar!” Rika membanting pintu tanpa sadar. Hidung Abud hampir tertabrak. Ia berlari ke kamar, mencoba menyisir glitter dari rambut. Tapi sisirnya tersangkut di ikal yang kusut. Moci malah asyik bermain dengan glitter di karpet.

Di luar, Abud mengetuk pelan. “Rika? Kau baik-baik saja?” Rika membuka pintu lagi dengan muka merah padam. “Aku sangat minta maaf! Ini bencana pagi…” Abud malah tertawa. “Tenang! Aku pernah lihat lebih parah.” Matanya berbinar.

Mereka memutuskan sarapan di kafe bawah apartemen. Tapi baru 5 langkah keluar, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Jas hujan Abud hanya satu. “Pakai saja!” Abud menyelubungi Rika dengan jas hujan kuning cerah. Rika tersipu melihat diri di kaca jendela: seperti peri gemuk dalam selimut plastik!

Di kafe, Rika memesan pancake. Saat menambah sirup passion fruit, tangannya gemetar. PLOOT! Sirup tumpah membentuk danau lengket di rok birunya. Abud buru-buru menyodorkan serbet. Tapi Rika salah mengambil botol sambal, bukan saus tomat! PSSST! Sambal merah menyembur ke sweater putih Abud!

“AAAAAKS! Maaf! Maaf!” Rika berdiri, tanpa sadar menyenggol gelas jus Abud. BRUKK! Jus jeruk mengalir deras ke pangkuan Abud. Seluruh pengunjung kafe terdiam memandang mereka. Abud hanya menghela napas sambil tersenyum kecut. “Kau… sangat unik.”

Mereka pulang dengan keadaan basah dan lengket. Di depan apartemen, Abud mengeluarkan kado kecil. “Ini untuk hari pertamamu yang… berkesan.” Rika senang membukanya. BRENG! Mainan logam berbentuk burung hantu jatuh, menggelinding ke jalan. Rika reflek mengejarnya.

Tapi ia tak lihat motor pizza yang melaju. NGEENG! Motor nyaris menabrak! Abud menarik tangan Rika. PRAKK! Mereka jatuh bergulingan ke kubangan air. Kado hancur, bunga matahari Abud remuk, dan Rika… menemukan dirinya berbaring di atas Abud dengan wajah penuh lumpur.

“Kencan terburuk sepanjang sejarah?” tanya Abud sbat mengusap lumpur di pipi Rika. Rika cengar-cengir. “Setidaknya kita punya cerita!” Tiba-tiba Moci muncul dari semak, membawa mainan burung hantu yang penyok. Ia meletakkannya di dada Abud.

Esok pagi, Rika menemukan amplop di bawah pintu. Bukan surat cinta, tapi tagihan perbaikan dari kafe: Rp 350.000 untuk kerusakan kursi kulit akibat tumpahan sambal + sirup. Bonus: “Biaya Pencucian Seragam Pelayan yang Ketempelan Glitter” Rp150.000.

Rika menghela napas. Ponselnya berdering. Foto Abud mengirim selfie dengan sweater bernoda sambal, caption: “Kencan kedua? Aku akan pakai baju anti-bencana.” Di pojok foto, terlihat Moci menjilat sisa sambal di bajunya.

TAMAT