16:48 WIB. Matahari mulai merayap turun di balik puncak-puncak pinus Taman Nasional Gunung Palung. Angin sore berdesir dingin, membawa aroma tanah basah dan daun membusuk. Di tengah perkemahan Regu Elang, Galih (16), Pramuka Penegak, merasa jari-jarinya kaku. Bukan karena dingin, tapi karena layar GPS tracker di genggamannya hanya menampilkan satu titik hijau yang statis di tengah peta digital yang kosong.
“Masih belum bergerak?” tanya Rani (15), suaranya bergetar. Dia memeluk lututnya di dekat api unggun yang mulai redup.
Galih menggeleng, rahangnya mengeras. “Masih di lokasi yang sama. Titik terakhir Kirana.” Titik itu sudah tidak bergerak sejak 45 menit lalu. Padahal, tugas mereka sederhana: mengumpulkan sampel daun tertentu di radius 500 meter dari kemah, pulang sebelum magrib. Kirana (14), si anggota termuda dan paling antusias, seharusnya sudah kembali 30 menit yang lalu.
“Aku dengar sesuatu tadi,” bisik Dito (16), wajahnya pucat di bawah cahaya senja. “Sekitar 15 menit setelah Kirana pergi. Seperti… langkah berat menyusuri semak belukar di arah dia pergi. Bukan langkah manusia. Terlalu… dalam.”
“Kenapa baru bilang sekarang?” tanya Galih, suaranya lebih keras dari yang dia rencanakan.
“Gue kira itu babi hutan atau kijang! Lagian, Kirana pake peluit darurat!” bantah Dito, matanya liar. “Tapi… peluitnya tidak pernah berbunyi.”
Ding! Notifikasi di GPS Galih. Semua mata tertuju ke layar. Titik hijau Kirana… bergerak! Tapi bukan ke arah kemah. Melainkan menyusuri lembah curam, jauh lebih dalam ke hutan belantara, dengan kecepatan yang tidak mungkin dilakukan manusia.
“Gak mungkin Kirana lari secepat itu!” teriak Rani, berdiri. “Itu jalur terjal! Bahkan pendaki berpengalaman pun…”
“Kecuali dia dikejar sesuatu,” sela Galih, darahnya dingin. Dia mengamati jalur titik hijau itu. Gerakannya lurus, terarah, seolah tahu persis kemana tujuannya. Bukan gerakan panik. Atau gerakan manusia yang tersesat.
Tiba-tiba, titik itu berhenti. Berdiam di satu lokasi yang, menurut peta digital mereka, adalah kawasan rawa-rawa kecil yang ditandai ‘Rawan & Tidak Disarankan’.
“Kita harus cari Kak Pembina,” desis Rani.
“Gak ada waktu! Dia lagi evakuasi tim lain yang kesasar di seberang bukit!” kata Galih tegas. Dia meraih ransel daruratnya. “Dito, kamu tinggal, jaga kemah, terus coba hubungi Kak Pembina lewat radio. Rani, kamu sama aku. Bawa senter kuat, tongkat, dan peluit. Sekarang juga!”
Perjalanan mereka memasuki zona hutan yang lebih lebat dan gelap. Sinar matahari hampir tak menembus kanopi rapat. Suara binatang malam mulai terdengar. Setiap desahan angin, setiap patahan ranting, membuat jantung mereka berdegup kencang. Galih terus memantau GPS. Titik Kirana masih diam di rawa.
“Galih… liat,” bisik Rani tiba-tiba, suaranya nyaris tak terduduk. Dia menyorotkan senter ke tanah. Di lumpur basah, jelas terlihat jejak sepatu kets Kirana berukuran kecil. Tapi di sampingnya, membayangi jejak itu dengan sempurna, adalah jejak kaki besar yang tidak berbentuk sepatu. Jejak itu dalam, berjari-jari panjang dengan cakar tajam terlihat di ujungnya. Bukan jejak babi hutan. Bukan jejak beruang yang ada di sini. Bukan jejak manusia.
“Macan?” bisik Rani, gemetar.
“Macan gak jejaknya kayak gini,” jawab Galih, suaranya serak. Jarinya menunjuk pola jejak. “Dan lihat… jejak ini selalu di belakang jejak Kirana. Seperti… mengikuti. Atau menggiring.”
Mereka terus menyusuri jejak itu, semakin dalam, menuju lokasi titik Kirana. Bau anyir tanah basah dan tumbuhan air semakin menyengat. Suasana hening mencekam, hanya dipecah oleh kriket dan suara kodok jauh. Lampu senter mereka menyapu kegelapan seperti pedang rapuh melawan raksasa tak terlihat.
Tiba-tiba, Rani menjerit kecil. Senter di tangannya menyorot sesuatu yang menggantung di dahan rendah di depan mereka: Sebuah kain seragam pramuka berwarna coklat muda, sobek di bagian lengan, tergantung seperti bendera kematian. Itu lengan baju Kirana. Di bawahnya, di tanah berlumpur, tergeletak peluit darurat Kirana yang pecah, seperti diinjak sesuatu yang sangat berat.
Galih meraih lengan baju itu. Masih lembab. Ada bercak merah tua di dekat sobekan. Darah? Jantungnya berdegup kencang. Dia memandang ke GPS. Titik hijau Kirana masih diam di lokasi itu… tepat di depan mereka, di balik semak rimbun yang menutupi rawa.
Galih memberi isyarat pada Rani untuk diam. Dengan hati-hati, dia menggeser semak itu perlahan. Senter mereka menyapu permukaan rawa yang hitam legam, ditumbuhi eceng gondok.
Di tengah rawa, sekitar sepuluh meter dari tepi, terapung ransel Kirana. Terbuka. Isinya – botol air, buku catatan, alat tulis – berserakan di permukaan air hitam. Tapi tidak ada tanda-tanda Kirana.
“Kiranaaaa!” teriak Rani, panik, suaranya memecah kesunyian mencekam.
“Sssttt!!” Galih membungkamnya dengan kasar, matanya terpaku pada Echosounder GPS (pengukur kedalaman). Titik hijau Kirana… Bergerak lagi. Dengan cepat. Tapi bukan di permukaan rawa… melainkan menyusur dasar rawa, bergerak cepat ke arah mereka, seolah sesuatu yang membawanya sedang berenang mendekat dari bawah air yang gelap gulita!
Galih menarik Rani mundur secara refleks. Sesuatu yang besar membuat riak air hitam itu, mendekat dengan kecepatan mengerikan ke tepi tempat mereka berdiri. Jejak kaki bercakar di lumpur… makhluk yang mengikuti Kirana… ransel terapung… titik GPS bergerak di dasar rawa…
Apa yang terjadi pada Kirana? Apa yang mendekati mereka dari dalam air? Dan bagaimana titik GPS bisa bergerak di dasar rawa? Galih meraih tongkatnya erat-erat, siap menghadapi sesuatu yang mungkin tidak pernah ia bayangkan dalam latihan pramuka manapun. Senja telah berubah menjadi malam, dan rawa yang tenang tiba-tiba terasa seperti mulut raksasa yang siap menelan Regu Elang yang tersisa.
TAMAT